Surya Tenggelam

Surya Tenggelam
Bab 55. Kekeliruan


__ADS_3

...🌸🌸🌸...


Kalau sudah tiada baru terasa, kata mustajab dari salah satu pujangga ini agaknya menjadi kata yang sangat relevan yang di rasakan oleh Kendra. Ya, kini ia tau artinya kehilangan itu seperti apa.


Para pelayat satu persatu telah pergi meninggalkan mansion usai pemakaman itu selesai di laksanakan. Meninggalkan sesosok diri yang kini di gelayuti rasa sesal dan rasa sunyi.


Di satu sore yang muram itu, Kendra duduk termenung di sofa yang ada di atas balkon kamarnya. Menatap lembayung senja yang kini semakin melorot dengan gugusan awan berwarna jingga yang sebentar lagi akan berubah menjadi gelap.


Surya yang tenggelam itu membawa serta perasaan pahit dalam dirinya, yang barusaja kehilangan seseorang yang memiliki arti dalam hidupnya. Lebih lagi, kepergiannya juga membawa hal yang kini membuat Kendra jatuh kedalam jurang penyesalan.


Seolah berada di lingkar mimpi, yang kini menyeretnya pada titik sepi, Kendra tak hentinya menyalahkan diri sendiri atas apa yang kini terjadi.


Apa yang sebenarnya dia cari selama ini? Apakah keserakahan hati membuatnya kini tidak terima? Ataukah Kendra lupa jika dia hanyalah secuil debu bagi Tuhan sang pemilik semesta?


Harusnya dia tak menyalahkan siapapun disini. Tapi nama seseorang yang di sebut-sebut oleh mendiang istrinya yang sedang sekarat itu jelas membuat Kendra kini tak tenang.


Dan saat masih berusaha berdamai dengan dirinya, bayangan wajah Kinar malah membuat gemuruh di dadanya semakin membara.


Hingga, sebuah suara yang terdengar beberapa detik berikutnya, makin membuat kobaran kemarahan itu semakin membesar.


" Tuan!" kata Kinar yang rupanya menemukan Kendra di dalam balkon.


Perempuan itu khawatir sebab Kendra belum makan apapun sejak pagi tadi. Kinar tak ingin Kendra turut sakit. Dengan sangat ragu, Kinar berjalan mendekat ke arah Kendra.


Sejak siang tadi, ia juga tak memiliki kesempatan untuk menyapa Kendra yang jelas tengah di rundung kesedihan. Ia juga sangat terpukul dengan kepergiannya Megan, bahkan sangat.


Namun alih-alih mendapatkan sambutan baik, Rahang Kendra justru mengeras demi mendengar suara Kinar yang kini sudah berdiri di dekatnya. Membuat pria itu kontan bangkit dan kini berdiri menatap tajam Kinar.


" Tolong tinggalkan mansion ini!"


DEG


Maka Kinar seketika membelalakkan matanya demi mendengar ucapan Kendra. Pergi? Kenapa ini? Kenapa Kendra tiba-tiba memintanya pergi?


" Tuan, a- apa salah..."


" Tinggalkan mansion ini, tinggalkan Flo! Xander akan membayar sisa uangnya kepadamu!" kata Kendra yang sama sekali tak menunjukkan keramahan yang beberapa waktu ini sering Kinar lihat.


Ada apa sebenarnya, kenapa pria itu kini menjadi brutal?


" Tuan, tuan! Tunggu dulu. Kenapa anda...."


Kendra menatap tajam tangan Kinar yang kini menangkap lengannya saat ia hendak pergi. Membuat wanita itu seketika ciut nyali.


" Kenapa anda meminta saya pergi Tuan? Apa salah saya?" ucap Kinar sejurus kemudian saat Kendra memberhentikan langkahnya.


Kendra beralih menatap tajam Kinar. Semakin dia melihat mata basah Kinar, semakin ia teringat saat-saat terakhir Megan yang kesulitan menyebut nama Kinar saat sekarat.


Hilang sudah kekaguman yang beberapa waktu ini bersemayam di hati Kendra. Hilang juga hasrat ingin memiliki perempuan baik itu sebab rasa sesal di hati Kendra nyatanya jauh lebih besar.


" Pergilah Kinar sebelum aku tak bisa menahan diriku lagi kepadamu!" seru Kendra dengan wajah yang teramat putus asa dan seolah membenci hidupnya sendiri.


" Tapi tuan, kenapa and..."


" PERGI!"


Kinar langsung tergeragap saat mendengar Kendra tiba-tiba berteriak dengan begitu keras ke arahnya dan seolah-olah akan menelannya hidup-hidup.


Membuatnya Kinar terlolong dengan perasaan tak percaya dengan apa yang barusaja dia dengar.


" Tinggalkan kami!" lirih Kendra menatap nanar Kinar sebab ia takut tak bisa menahan dirinya bila Kinar tak segera pergi.


Kendra seketika enyah dari tempat itu dan membanting pintu kamarnya dengan begitu keras. Membuat lutut Kinar seketika lemas.


Sungguh Kinar tak mengerti kenapa sikap Kendra tiba-tiba berubah kembali seperti dulu.


" Apa yang sebenarnya terjadi tuan? Kenapa anda kembali menyakiti saya?"

__ADS_1


" Flo?" ia menjerit dalam hati manakala teringat jika dia diminta pergi dan juga harus meninggalkan baby Flo.


Kinar lantas pergi menuju kamarnya. Meski hatinya berat untuk meninggikan Flo, tapi ketakutan akan kemarahan Kendra memaksa langkahnya untuk pergi.


Ketenangan yang semula Kinar rasakan, kini sirna dalam sekejap tanpa penjelasan yang jelas. Bukankah Kendra sendiri yang memintanya untuk gak meninggalkan dirinya? Kenapa dia sendiri yang justru meminta Kinar untuk pergi? Apa sebenarnya salahnya?


Pertanyaan-pertanyaan yang tentu tak akan dia temukan jawaban itu terus saja mengusik. Mengganggu dan membuat hati Kinar tak tenang.


Namun tanpa di duga, Xander rupanya sudah standby menunggu Kinar dengan wajah sulit terbaca. Sofia yang tidak tahu soal itu kini berdiri dengan wajah bingung.


" Nona, anda mau kemana? Kenapa anda membawa tas?" tanya Sofia yang kini menggendong baby Flo dengan wajah terheran-heran.


Namun bukannya menjawab, Kinar malah menitikkan air mata dan membuat Xander ambil bagian.


" Masuk!" kata Xander menatap tajam Sofia yang masih menggendong baby Flo sebab ia melihat Kendra berdiri di atas sana. Membuat wanita itu mendelik.


" Ada apa sebenarnya? Kenapa nona Kinar membawa tas? Dan kenapa pria kaku ini juga memarahiku?"


Namun Kinar membuka mulutnya sejurus kemudian.


" Sof, bolehkah aku memeluk nona Flo sebentar?" kata Kinar dengan suara yang bergetar.


Membuatnya Sofia semakin dilanda kebingungannya.


" Memeluk, kenapa harus meminta izin?"


Sofia menatap Xander mencari jawaban. Pria datar itu mengangguk meski wajahnya masih sangat mengerikan. Di detik itu juga, Sofia benar-benar membenci Xander.


Kinar langsung menyongsong baby Flo lalu meraih tubuh mungil bayi yang kini sudah bisa tertawa itu lalu memeluknya erat. Ia mencium lama aroma bayi yang mungkin saja tak akan bisa ia temui lagi. Menghirupnya dalam-dalam wangi yang setelah ini tak akan bisa di rasakan lagi.


Kendra yang melihat hal itu dari atas sana seketika menoleh karena tak ingin terpengaruh. Mungkin inilah yang terbaik. Ia tak ingin lagi membuat kesalahan.


" Kau adalah anakku. Maafkan Ibumu ini ya nak. Bila ada takdir baik, kita pasti akan bertemu lagi!"


Sofia yang mendengar ucapan itu sontak menangis pilu karena tak kuasa melihat apa yang ada di depannya. Sofia menduga Kinar pasti di usir oleh Kendra. Siapa lagi yang bisa membuat Kinar pergi jika bukan pria itu.


" Nona!"


Seperti seolah di ingatkan, Kinar langsung melepaskan pelukannya. Ia kini mendongak ke atas dimana Kendra rupanya ada di sana namun sejurus kemudian masuk ke dalam kamarnya.


" Bahkan kau tak mengatakan apa salahku tuan?" jerit Kinar yang melihat Kendra menghindarinya.


" Tolong jaga dia Sof! Jaga dirimu!" kata Kinar mengusahakan lembut pipi Sofia.


" Aku pergi!"


Sofia mengangguk sembari menangis dengan dada sesak. Baby Flo yang tak tau apa-apa kini bergumam sembari menatap Kinar yang mulai melangkahkan kakinya menjauh dari mereka berdua.


Setibanya ia diluar, Kinar mencoba menoleh dan menatap mansion besar itu sedikit namun tak mendapati Kendra ada di sana. Rupanya Kendra menatap mereka dari dalam kamar.


Entah siapa yang harus di salak dalam keadaan seperti ini.


" Apa kau benar-benar menyalahkan aku karena kematian nyonya Megan? Apakah kau sangat membenciku?" Kinar membatin saat tak mendapati wajah pria yang ingin ia tatap untuk terakhir kalinya itu.


" Silahkan nona!"


Pintu yang di buka Xander membuat Kinar tersadar dari lamunannya. Ini saatnya dia pergi. Meski ada banyak hal yang sebenarnya ingin Kinar tanyakan langsung, namun ketidakhadiran Kendra jelas menegaskan jika pria itu memang tak mau menemuinya.


Sudah jelas. Sekeras apapun berpikir, mungkin takdir memang hanya menempatkan posisi pada posisi perempuan yang menyewakan rahimnya untuk melahirkan pewaris keluarga Arion.


Kinar masuk ke dalam mobil dengan dada yang sesak. Sungguh ia benar-benar ingin tahu tahu penjelasan Kendra. Ia juga bersedij dengan kepergian Megan, tapi kenapa ia yang kini harus menanggung siksaan batin sekeras ini?


Mobil melaju perlahan dan membuatnya Kinar semakin larut dalam tangisnya. Xander terlihat melirik Kinar dari pantulan kaca depan mobilnya dengan wajah yang selalu sulit diartikan.


Membuatnya teringat satu perintah.


" Antarkan dia pergi dan bayarkan uang yang aku tulis ini!"

__ADS_1


Xander rupanya membawa Kinar ke bandara menuju selatan dimana itu merupakan tempat asal Kinar. Meski Xander juga tidak tau pasti alasan Kendra meminta ia membawa Kinar pergi, tapi titah Kendra merupakan hal penting jauh melebihi apapun.


" Ini Boarding pass dan tiket anda. Uangnya juga sudah saya transfer ke rekening anda. Saya pamit nona!" kata Xander yang mendengar panggilan dari maskapai penerbangan yang akan di tumpangi Kinar.


Xander hanya menjalankan tugas. Pria itu tak memiliki kuasa lain selain mengantarkan Kinar.


Dan sepeninggal Xander, Kinar menatap lembaran putih bertuliskan maskapai penerbangan menuju kota di dekat desanya.


Namun sebuah niat dalam hati tiba-tiba muncul. Jika dia memang dikehendaki pergi, ia tak akan pergi ke tempat asalnya sebab ia tahu bila Zen masih berkeliaran. Tidak akan.


Kinar merobek kertas itu dan memilih pergi dari sana dengan wajah putus asa. Usai memastikan Xander Pergi, ia lantas mencegat taksi dan memilih pergi ke tempat yang tiba-tiba muncul dalam otaknya.


...ΩΩΩ...


Setibanya Xander di mansion itu, Sofia yang sengaja menunggu Xander di garasi langsung datang memukuli Xander sembari menangis sebab rupanya dia tidak terima.


" Kenapa kau tega membawa nona pergi. Kenapa kau membawa nona Kinar pergi hah?"


" Kenapa kau jahat sekali sialan!"


Sofia terus menyerang Xander secara impulsif dan membabi-buta. Seolah menyalahkan Xander padahal pria itu juga tidak tahu apa-apa.


" Apa yang kau lakukan?" teriak Xander yang terkejut dengan sikap Sofia yang bar-bar.


" Dasar tidak punya perasaan!"


" Apa kau tidak bisa sekali saja melawan titah bosmu demi rasa kemanusiaannya? Apa kau tidak memiliki nona muda, hah?"


Sofia terus memukuli dada bidang Xanders bahkan sampai terengah-engah. Ia benar-benar kesal dengan Xander ia dia sinyalir tak memiliki perasaan.


" Kau benar-jahat!"


" Kau sangat jahat!"


" Sofia apa yang kau lakukan! Hentikan semua ini! " hardik Xander dengan sangat keras demi sikap brutal Sofia yang terpukul saat Kinar dibawa pergi.


Membuatnya Sofia seketika menghentikan kelakuannya sebab ketakutan demi mendengar suara Xander yang memekakkan telinga.


" Apa kau pikir aku yang membuatnya nona Kinar pergi, hah?" kata Xander dengan napas memburu sebab emosinya terpancing.


"Aku bahkan juga tidak tahu kenapa tuan Kendra memintaku membawanya pergi. Apa kuasaku?" teriak Xander yang sebenarnya juga sangat ingin tahu alasan Kendra meminta dia mengantar Kinar pergilah.


" Aku, kamu tak ubahnya seorang pesuruh yang musti tunduk pada perintah tuannya, kau tahu itu!"


Bahkan Sofia kini semakin terisak demi mendengar Xander yang gusar lalu pergi meninggalkan dirinya yang kini menangis seorang diri. Pria itu bahkan belum istirahat sama sekali dan saat datang Sofia malah membuat emosinya bangkit.


" Aku membencimu!"


" Aku benci kau Xander!" teriak Sofia yang membuat Xander terlihat menghentikan langkahnya lalu menghela napas dan memejamkan matanya demi menahan diri untuk bersabar.


Di dalam kamar.


Kendra belum mengganti bajunya dan terlihat menatap foto Megan yang begitu cantik di bingkai emas itu seorang diri.


" Aku sudah melakukannya Megan. Aku sudah membuat wanita itu pergi. Maaf karena terlambat!" gumamnya seusia dirinya merasa telah melakukan hal yang benar.


Di bawah cahaya yang gelap gulita itu, Kendra bergumam seorang diri pada sebuah foto dalam kesunyian. Melampiaskan rasa kehilangannya seperti orang gila.


Ya, Kendra merasa telah melakukan sesuatu yang benar namun sejatinya hal itu merupakan hal yang bakal dia sesali seumur hidupnya.


Kekeliruan.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2