Surya Tenggelam

Surya Tenggelam
Bab 65. Rasa hati


__ADS_3

...🌸🌸🌸...


Kinar tak lagi memperdulikan tatapan mata para rekannya yang di jam semalam itu masih betah nongkrong di cafetaria yang berada di lantai dasar manakala ia berjalan beriringan bersama Kendra.


Mendengar nama Flo yang kini terbaring di rumah sakit, seketika meluluhlantakkan segenap egonya. Membuat pikiran wanita itu hanya terpusat pada atau hal, anaknya.


Diego yang masih sibuk berbincang dengan salah seorang manager hotel di sofa besar, terlolong saat melihatnya Kinar yang bermata sembab kini berjalan terburu-buru bersama Kendra.


Wow, sepertinya rencana mereka berhasil.


Kendra mengangkat tangannya kepada Diego tanpa sepengetahuan Kinar dan membuat pria itu mengangguk paham.


Bahasa isyarat itu seolah menegaskan kalimat ' akan aku urus kali ini, terimakasih untuk semuanya!'


Membuat Diego mengangguk dengan hati tenang. Siapapun bisa salah dan bersalah, tapi siapapun juga berhak untuk memperbaikinya bukan?


Dan dari kesemuanya itulah, yang akhirnya menjadikan Diego memprakarsai ide kepada Kendra untuk mengenakan seragam petugas hotel.


Definisi dari tolong menolong itu adalah esensi dari persahabatan.


Mitigasi yang tersusun rapi di otak Diego benar-benar mempermudah jalan Kendra untuk menemui Kinar. Meski ia tahu, itu tak akan mudah.


" Yang penting usaha dulu, hasilnya belakangan!"


" Jika kau mencobanya, kau masih bisa mendapatkan dua kemungkinan, berhasil dan tidak berhasil. Tapi kalau kau tak mencobanya sama sekali, mau kau jelas sudah mengetahui hasilnya!"


Ya, Diego yang merasa harus segera menginformasikan berita bila Hansen dan Kinar tak memiliki hubungan, seketika mencari Kendra. Namun sialnya, saat pria itu menuju ke mansion, seorang penjaga mengatakan jika Kendra sedang dalam perjalanan ke rumah sakit.


Membuat Diego memiliki ide yang sangat brilian untuk di implementasikan.


Rupanya mereka telah bermain cantik dengan manager hotel yang langsung sigap memberikan pertolongan sebab rupanya masalah yang di alami Kendra cukup pelik.


Alhasil, usai melihatnya Kinar pergi bersama Kendra, kini Diego berniat menemui Hansen serta panitia kegiatan itu untuk menginformasikan jika Kinar mungkin tak akan bisa menyelesaikan pelatihan itu, sebab keadaan yang benar-benar tidak memungkinkan.


Di mobil.


Yang ada di pikiran Kinar hanyalah kecemasan, kegelisahan dan kekhawatiran. Mendengar kabar jika Flo dirawat saja membuatnya takut setengah mati. Menepiskan segala perasaan kesal dan marah yang masih tertuju kepada Kendra.


Kendra juga memilih diam saat Kinar duduk di jok belakang. Ia hanya menghela napas penuh kesabaran. Mungkin inilah yang harus ia lalui. Bahwa dalam hidup ini, keadaan bisa saja berputar dengan cepat. Pun dengan perasaan.


Setibanya ia dirumah sakit yang sudah lebih dari empat kali ia kunjungi ini, rumah sakit besar milik pria yang menjadi papa anaknya itu, ia langsung berjalan tak sabar bahkan meninggalkan Kendra yang masih menyerahkan kunci mobilnya kepada salah satu pengurus.


Dan saat sampai di persimpangan, Kinar mendecah tak percaya sebab ia kini bingung harus kemana. Membuat Kendra yang sadar akan hal itu, seketika menahan tawanya.


" Mari ku antar!"


Kinar tak menjawab maupun menatap, ia agak malu. Sebab sudah terlanjur meninggalkan Kendra, tapi malah tidak tahu.


Di dalam lift, kecanggungan lagi-lagi mendominasi. Membuat Kinar memilih membuang pandangannya ke arah lain.


" Jika semua ini bisa membuatmu kembali kepadaku, aku akan menerimanya dengan sabar Kinar!" batin Kendra tersenyum kecut.


Dan Setibanya ia di ruangan bercat biru pastel dengan aksen kartun yang lucu khas anak-anak itu, ia tertegun demi melihat papan nama yang jelas mengindikasikan jika itu benar kamar rawat Flo.


Namun, di sela keyakinannya itu, ada satu hal yang membuatnya seketika tercengang, yakni nama lengkap anaknya itu.

__ADS_1


Room for Aldera Flo Arion


Deg!


Membuat jantung Kinar berdetak kencang.


" Aldera?" batinnya tak percaya saat melihat papan nama akrilik itu.


"Astaga, aku bahkan baru tahu nama lengkapnya sekarang. Jadi...jadi tuan Kendra selama ini notice dengan permintaanku?"


Kinar benar-benar tercenung demi mengetahuinya fakta itu. Ia memang menyadari jika selama ini dia tak pernahkah menanyakan nama lengkap anaknya itu.


" Masuklah, di dalam ada Sofia!"


Suara berat Kendra membuat Kinar langsung tersentak dari lamunannya, lamunan yang berisikan soal nama Aldera yang sempat ia minta dulu. Sama sekali tiada menduga jika Kendra telah mengabulkan permintaannya.


Kinar lagi-lagi tak menjawab, pikirannya kini menjadi bercabang dan perasaannya turut menjadi aneh. Dibukanya pintu yang terbuat dari baja ringan itu dengan perasaan campur aduk. Rindu, sedih, cemas, iba, semua bergumul menjadi satu dan menyesakkan dada Kinar.


CEKLEK!


" Nona?"


Sapaan penuh keterkejutan dari suara khas itu membuat Kinar tersenyum dalam tangisnya. Tiada menduga setelah sekian lama, ia dipertemukan kembali dengan gadis baik itu.


" Nona anda benar-benar datang?" ulang Sofia yang kini seketika menyongsong Kinar dengan hati yang penuh kerinduan dan langsing memeluk tubuh wanita itu.


" Terimakasih anda telah membawa nona Kinar kembali tuan!" kata Sofia menaati Kendra yang wajahnya terlihat kurang tidur.


Pria itu hanya menarik senyuman tipis, sebab Meskipun Kinar kemari, tapi benteng pertahanan wanita itu masih sulit ia taklukan.


" Apa yang kau bicarakan Sof?" tanya Kinar melepaskan pelukannya yang menggaris bawahi ucapan Sofia yang gadis itu ucapkan terakhir kali.


Kendra yang masih berdiri di ambang pintu terlihat takut untuk masuk. Ia hanya tak ingin Kinar merasa tak nyaman, sebab ia tahu bila Kinar belum memaafkan dirinya.


Namun belum juga Sofia menjawab pertanyaan Kinar, suara baby Flo menginterupsi interaksi keduanya.


" Pa- pa!"


Dan rengekan lirih Flo berhasil membuat Kinar langsung bergerak menuju ranjang anaknya itu.


" Sayang, kau terbangun ya? Ini Ibu nak. Ibu sangat merindukanmu!"


Mata jernih Flo yang baru saja terbangun itu terlihat mengidentifikasi sosok cantik di hadapannya dengan wajah sedikit bingung. Dua tahun tak bersama Flo jelas membuat anak itu kini asing dengan ibunya itu.


Dan melihat Flo yang seperti tengah ketakutan, Sofia coba ambil bagian disana.


" Nona, ini Ibu, Ibunya nona, ayo panggil Ibu sayang..."


" Pa- pa!" rengek baby Flo yang malah menangis saat Sofia memaksanya.


Maka Kinar langsung terisak saat melihat Flo tak mengenali dirinya. Di detik itu, Kendra seketika masuk lalu mendekat kepada anaknya guna menenangkannya anaknya itu.


" Ssttt, loh kok nangis. Ini ada mama nak, ayo sapa mama dulu!" kata Kendra mengusap lembut punggung Flo, yang kini menangis.


Melihat Kendra dan Kinar berada di dalam satu ruangan, Sofia berinisiatif pergi sebab ia tak enak hati jika harus berada di lingkaran keluarga, yang harus segera membersihkan segala kesalahpahaman itu.

__ADS_1


" Ssttt, sayang... don't cry hm, lihat siapa yang datang, ini mama kamu..."


Meski Flo masih terlalu kecil untuk diajak bicara selugas itu, namun Kendra tetap mengajar anaknya itu untuk berkomunikasi secara wajar. Ia hanya ingin melatih Flo sejak dini.


" Sayang, ini ibu..." kata Kinar yang mencoba memproklamirkan diri kepada buah hatinya itu.


Namun Flo yang tangannya masih di tancapi selang infus kini malah bersembunyi di balik leher Kendra sebab takut.


Membuat Kinar semakin sedih.


" Tenang Kinar, dia pelan-pelan akan mengingatmu. Kau dan Sofia bisa bersama disini malam ini!" seru Kendra dengan suara yang begitu lembut.


Namun sebenarnya, meskipun Kendra tak mengatakan hal itu, Kinar memang ingin menemani Flo malam ini. Wajah pucat dan tangan yang harus di infus di usia sekecil itu membuat hati sang ibu terasa sakit.


Malamnya Flo masih tak mau dengan Kinar. Bahkan Sofia turut merasa bingung kenapa Flo tak mau di gendong bahkan di dekati Kinar.


" Sabar ya nona. Saat anda pergi nona kecil memang belum tahu apa-apa. Ia juga belum bisa mengingat dengan baik!"


Kinar yang kini duduk di dekat ranjang Flo, hanya bisa menatap anaknya yang tengah tertidur usai diberikan obat. Sofia benar, inti dari kesemuanya ini adalah waktu.


" Meskipun kau belum mengingat Ibu, tapi ibu sangat senang karena bisa melihatmu lagi nak!" batinnya yang kini sepi.


" Setiap malam tuan sering termenung sendiri nona!"


Suara Sofia yang tiba-tiba terdengar membuat Kinar buru-buru mengusap wajahnya, sebab lelehan air mat itu kian membanjiri muka pucatnya.


" Saat anda diminta pergi, waktu itu tuan Kendra mengira jika Nyonya Megan masihlah membenci anda nona!"


Kinar meneguk ludahnya cepat saat mendengar hal itu. Siapkah Sofia kini juga sudah menjadi antek Kendra?


" Maaf jika saya harus mengatakan ini nona, tapi sepertinya tuan benar-benar telah menyesal dengan apa yang pernah ia lakukan terhadap anda!"


Tanpa terasa, air mata itu kini kembali menetes. Membuat hati Kinar terasa penuh.


" Bahkan tuan Xander selalu menjadi sasaran amukan tuan Kendra saat dia tak berhasil menemukan anda nona!"


" Apa?"


Membuat Kinar semakin hanyut dalam keresahan akan perasaannya yang kini bergejolak.


"Tapi kedalaman hati seseorang tidak akan pernah ada yang tahu, pun dengan perasaan anda. Tapi saya berharap, anda bisa mempertimbangkan nona kecil!"


" Yang saya lihat, beliau hanya ingin menunjukkan sikap setia kepada istri pertamanya, namun juga tak ingin menyakiti yang lainnya!"


Kinar semakin tak bisa menahan tangis demi menyadari jika yang dibuat oleh Sofia adalah Megan.


" Tuan meminta anda pergi sebab ia takut tak bisa mengontrol dirinya dan terus menyalahkannya anda nona, begitu yang tuan Xander katakan kepada saya!"


Kinar kini menangis sejadi-jadinya. Sebenci apapun Kinar kepada Kendra, ia tak bisa menipu dirinya sendiri jika batinnya telah terpatri pada hati pria itu. Pria yang telah membuatnya menjadi seorang ibu.


Membuat dadanya sesak, pilu dan terasa nyeri.


" Jangan tinggalkan nona kecil, nona. Bukalah pintu maaf selebar-lebarnya agar hati anda tenang. Saya tahu anda juga sangat mencintai tuan...."


Di detik itu, Kinar benar-benar tak lagi sanggup menahan diri. Kinar terisak dalam perasaan yang tak tahu harus di sebut apa.

__ADS_1


__ADS_2