
...🌸🌸🌸...
Matahari sudah melorot ke sisi barat namun Kinar masih belum bisa memandikan baby Flo sebab kondisinya sangat tidak memungkinkan. Jangankan popok, bahkan bedak bayi pun tak ada disana.
Kinar bahkan kini menggunakan kain yang ia jadikan sebagai pengganti diapers, sebab benda itu sudah tak bisa lagi menampung cairan yang dikeluarkan oleh baby Flo.
Namun saat keresahan masih bersemayam di dalam hatinya, datang seorang perempuan berwajah sadis yang membawa beberapa perlengkapannya bayi juga makanan lalu melemparkan benda itu tepat ke arah wajahnya.
" Pakai ini dan cepat mandikan dia!"
Wanita itu hanya mengatakan seperlunya dan langsung pergi seraya membanting pintu dengan begitu keras.
BRAK!
Meski Kinar masih heran kenapa mereka tiba-tiba memberikan perlengkapan bayi, namun Kinar tak mau ambil pusing akan hal itu.
Beberapa saat kemudian, Kinar yang baru mau membereskan perlengkapan bayi itu agar tidak berserakan, menjadi terkejut manakala pintu itu tiba-tiba terjeblak.
" Cepat turun dan bawa bayi itu!"
Membuat Kinar seketika tertegun dengan hati bertanya-tanya, akan ada apa lagi ini?
" Cepat!"
Teriakan wanita berwajah sadis tadi membuat Kinar tergeragap dan langsung meraih tubuh mungil baby Flo untuk sejurus kemudian pergi menuju ke bawah dengan perasaan takut.
Ia masih teringat dengan jelas akan kebiadaban orang-orang itu kala melenyapkan dokter Adam.
Dan setibanya di bawah.
" Kemarikan bayi itu!" seru wanita berwajah sadis yang tiba-tiba merebut baby Flo manakala Kinar tak siap.
" Apa yang kalian lakukan? Kembalikan anak itu!"
Namun saat Kinar berusaha meraih baby Flo, seorang wanita lain tiba-tiba menghalau dan langsung menampar wajah Kinar sebab melakukan perlawanan.
PLAK!
Kinar yang kini di tampar seketika mundur sembari memegang pipinya yang panas seraya menitikkan air mata.
Baby Flo yang di ambil paksa oleh satu orang pria lain kini menangis. Kinar tak tahu mereka akan dibawa kemana sebab mobil mereka kini terpisah.
" Kumohon kembalikanlah dia, kumohon!"
Namun meskipun Kinar menjerit hingga suaranya serak, wanita itu tak mendapatkan apapun kecuali perlakuan kasar.
Zen yang sudah berada di mobilnya kini menatap Kinar dengan wajah penuh selera. Kinar yang di paksa masuk tentu merasa takut akan hal itu.
" Akhirnya sebentar lagi kita bisa bersenang-senang sayang, hahahaha!" bisik Zen yang meraba paha Kinar, namun langsung di tepis oleh gadis yang bibirnya tampak memar itu dengan cepat sebab jijik.
Membuat Zen seketika naik pitam.
" Sebaiknya bersikaplah baik kepadaku karena aku sudah membelimu, ingat itu!"
__ADS_1
Kinar hanya bisa menangis tanpa suara manakala bibirnya di cengkeraman erat oleh Zen yang melotot marah ke arahnya.
Sungguh, dalam ketidaksadarannya Kinar bahkan memanggil- manggil nama Kendra dalam hatinya.
" Tuan, tolong saya. Tolong anak kita!"
Zen lantas memberikan kode bagi anak buahnya untuk menjalankan mobilnya.Tiga mobil itu berjalan secara beruntun menuju ke bukit sion. Sebuah kawasan yang dekat dengan pesisir pantai barat samudera Hindia.
Kinar tidak tahu apa yang akan mereka lakukan, namun setelah berada di perjalanan yang begitu mencekam, matanya mendadak melebar saat melihat mobil Kendra ada di depan sana.
" Tuan Kendra?"
-
-
Zen tergelak saat melihat Kendra sudah ada disana, sementara Kinar kini khawatir sebab dia yakin jika Zen pasti telah merencanakan sesuatu hal yang buruk.
" Dia sangat peduli kepada anaknya. Aku mengajakmu kesini agar kau bisa mengucapkan salam perpisahannya kepadanya, hahahaha!"
Kinar tentu saja terkejut. Jadi dia dibawa kemari hanya agar mendapat siksaan batin?
" Keluarkan aku dari sini pria brengsek!"
" Cuih!"
" Kurang ajar!"
PLAK!
" Kau adalah budak yang sudah kubeli dengan harga mahal. Kau dengar itu!" teriak Zen sembari mendorong tubuh Kinar dengan begitu kerasnya.
Kinar semakin terisak-isak seraya memeluk tubuhnya sendiri sebab ia kini tak memiliki daya untuk melawan Zen usai tubuhnya barusaja terlempar.
Bagai seorang psikopat, usai mengajar Kinar, Zen terlihat menyentuh pipi Kinar penuh selera sembari mendengungkan kata-kata menjijikkan.
" Diam dan lihatlah sayang. Aku hanya akan sebentar, kita akan bersenang-senang setelah ini, hm. Hahahaha!"
Kinar yang kini di kunci dari luar terus menggedor kaca mobil itu dengan resah. Ia mencari-cari dimana Flo sebab ia benar-benar khawatir saat ini.
Kendra yang berdiri bersama Xander dan Sofia seketika geram demi melihat hal itu. Sama sekali tak mengira jika Kinar malah di pisahkan dengan baby Flo.
" Kenapa kau mengurungnya brengsek?" maki Kendra yang dadanya sudah bergemuruh dengan tangan yang mengepal kuat.
" Hey bung, santailah sedikit. Emmmm.... kau kesini hanya untuk mengambil anakmu kan? Lagipula... dia milikku. Jadi, jangan mempersulit diri sendiri. Hahahah!" ejek Zen yang sengaja ingin memancing emosi musuhnya dengan kata-kata menyakitkan.
" Kurang aj..."
Xander yang sudah mau maju kini di tahan oleh Kendra yang terlihat membaca situasi.
" Tahan Xan. Fokus pada Flo!" bisik Kendra yang membuat Xander memundurkan langkahnya kembali dengan tatapan tak lekang menatap anak buah Zen yang juga menatapnya sengit.
" Dimana bayiku!" tanya Kendra mencoba berdiplomasi dengan suara standar.
__ADS_1
Zen menjentikkan jarinya lalu datanglah wanita sadis yang kini menggendong anak itu di belakang Zen.
Membuat Kendra menatap murung baby Flo yang kini membuka mata seperti sedang mencari sesuatu.
" Serahkan dulu apa yang aku minta dan aku akan memberikan bayi ini kepadamu!"
Kendra yang melihat Flo mulai menggeliat dan hendak menangis, seketika meminta Xander untuk membuka koper yang berisikan sebuah surat yang diminta oleh Zen.
Sofia yang melihat Kinar dari kejauhan hanya bisa menatap resah. Apalagi, baby Flo kini juga sudah mulai menangis seperti seolah tahu jika mereka sedang berada dalam situasi genting.
" Ambillah. Dan bawa anak itu kemari!" kata Kendra yang tak ingin berbasa-basi.
Kinar yang melihat Kendra menyerahkan sebuah koper besar yang tak ia ketahui apa isinya itu, masih gencar berteriak dan membuat Kendra risau.
Zen meminta anak buahnya untuk memeriksa keaslian benda itu. Tentu saja, ia tak mau kecolongan lagi.
" Asli bos!" kata pria yang wajahnya penuh dengan luka itu seraya mengangguk penuh hormat.
" Aku sangat senang bekerjasama dengan orang sportif sepertimu. Berikan bayinya!" kata Zen tersenyum penuh arti.
Wanita itu langsung melempar baby Flo dan membuat Kendra, Xander juga Sofia seketika mendelik secara bersamaan. Brengsek!
" Astaga, nona!"
Namun dengan gerakan cepat, Sofia langsung maju dan berhasil menangkap baby Flo yang kini menangis dan membuat Kinar yang melihat hal itu lega.
" Kurang ajar!" maki Kendra yang tentu saja marah akan kelakuan wanita bengis itu.
DOR!
Namun saat hendak maju, sebuah tembakan yang entah darimana asalnya membuat Kendra mundur.
" Jangan coba-coba menipuku. Atau kalian akan tahu akibatnya!"
Kendra mengepal kuat demi melihat pergerakan Zen yang kini berjalan menuju ke arah mobil yang memuat Kinar didalamnya.
Namun saat bandot tua itu membuka pintu, Kinar langsung menendang kelelakian bandot tua itu dan seketika berlari menuju dimana Flo berada.
" AKH! Cepat tangkap dia!" teriak Zen yang kini menahan sakit yang luar biasa pada bagian krusialnya.
DOR!
DOR!
Rupanya, para anak buah Kendra sedang bersembunyi di balik tebing-tebing curam itu seketika melayangkan tembakan beruntun manakala para pasukan Zen rupanya juga melakukan hal yang sama.
Membuat Zen seketika kalang kabut.
" Sofi, bawa nona kecil masuk!" titah Xander yang jelas menyadari jika situasi kini berubah menjadi genting.
Kendra yang melihat Kinar berlari terseok-seok dengan wajah babak belur, seketika menjadi marah dengan dada bergemuruh luar biasa.
" Kau apakan istriku brengsek?"
__ADS_1
Maka Xander segera tahu jika bosnya tengah benar-benar marah besar detik itu juga.