Surya Tenggelam

Surya Tenggelam
Bab 31. Kelahiran sang pewaris


__ADS_3

...🌸🌸🌸...


Kinar merasa perutnya begitu sakit seperti saat dia pernah mengalami nyeri menstruasi, hanya saja ini hilang timbul dan terjadi secara continue.


Hilda yang sudah menghubungi dokter Adam diminta untuk segera membawa Kinar ke rumah sakit sebab mereka sudah menyiapkan semua prosedur yang bakal di jalani Kinar.


Membuat Sofia buru-buru menelepon nomer Xander sebab ia juga benar-benar bingung dan panik.


Xander memerintahkan Sofia untuk menghubungi ayahnya agar bisa segera membawa mereka menuju rumah sakit keluarga Arion.


Sofia berlari sekuat tenaga menuju peternakan sebab ponsel sang ayah sulit dihubungi. Dan betapa terkejutnya Dores, yang malam itu melihat putrinya bersimbah keringat dengan napas yang begitu ngos-ngosan.


" Ayah, nona Kinar mau melahirkan. Tolong antarkan kami!"


Maka kopi yang baru saja di seduh oleh Dores itu seketika tercampakkan.


Hilda terus berusaha menenangkan Kinar yang benar-benar merasa kesakitan dengan cara mengusap punggungnya perlahan. Sofia yang kini duduk di samping ayahnya, tak henti-hentinya saling berbalas pesan dengan Xander untuk mengupdate perkembangan kondisi Kinar, sebab ada bayi seorang Arion yang sebentar lagi akan keluar.


" Apa kau akan menepati janjimu tuan? Aku sudah akan melahirkan tapi kudengar kau berada di luar negeri?" Kinar tersenyum ironi di tengah-tengah dirinya menahan sakit.


Entah mengapa ia sangat berharap jika Kendra mau menotice permintaannya beberapa waktu yang lalu. Meski, agaknya Kinar harus menelan mentah-mentah harapannya itu.


Sementara yang di khawatirkan malah terlihat tak bisa tenang saat menunggu kedatangan maskapai penerbangan paling cepat malam itu.


Ya, yang dan kuasa rupanya selalu bisa memberikan jalan kemudahan bagi Kendra. Pria itu memilih bertolak ke negaranya dengan reason istrinya akan melahirkan. Meski para anggota aliansi itu tidak tahu, bila istri tersembunyi Kendra lah yang akan melahirkan.


Tak terasa waktu yang sudah terlewati, harapan Megan segera terwujud, namun entah mengapa, hati Kendra menjadi memiliki beban akan satu hal.


Kendra mengirimkan pesan kepada Megan sebab mereka harus mensetting kelahiran anak mereka, agar para khalayak tak menaruh rasa curiga bukan?


Namun tak satupun pesan yang Kendra kirim, dibaca oleh Megan. Nomor wanita itu juga tak menjawab saat ia telepon. Padahal, baru beberapa jam yang lalu mereka masih melakukan video call.


" Apa kata anak Dores Xan?" tanya Kendra dengan wajah yang tak bisa rileks sama sekali.


" Mereka sudah dalam perjalanan tuan. Team rumah sakit juga sudah standby!"


Kepanikan itu masih tak luntur dari wajah Kendra. Bayangan akan Kinar yang memintanya untuk menungguinya saat melahirkan mendadak mengusik dan membuatnya tidak tenang.


Selain itu, ia juga mendadak grogi lantaran dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam, ia akan bertemu dengan anaknya. Namun di sela kebahagiaan Kendra, pria itu masih saja resah sebab Megan malah tak bisa dihubungi.


Di lain pihak, Megan yang barusaja selesai makan malam dengan teman-temannya dan meninggalkan ponselnya di kamar hotel, seketika syok karena terlambat membaca pesan dari Kendra.


..." Megan, anak kita akan lahir. Kinar sedang menuju rumah sakit untuk proses melahirkan!"...


Megan langsung kalang kabut detik itu juga. Bagaimana ini? Kenapa mendadak dan kenapa mendahului estimasi?


Sementara itu, Kinar yang kini sudah di baringkan diatas ranjang di sebuah ruangan khusus itu tak hentinya meringis karena kesakitan. Rasanya nyeri kontraksi ini benar-benar luar biasa.


Kinar meneteskan air matanya sebab rasa sakitnya benar-benar melebihi apapun. Lebih sakit saat ia merasakan nyeri yang paling patah Selain. Sofia yang berada di sana terus saja mendampingi Kinar yang masih menunggu pembukaan. Gadis itu terlihat menatap iba Kinar yang harus berjuang sendiri seperti ini.


" Masih buka dua nona, jika anda menginginkan lahir normal kita harus sabar menunggu!" kata dokter Adam yang selalu saja sopan kepada Kinar. Membuat gadis itu tersenyum.


" Terimakasih banyak dokter. Saya akan menunggu!"


Sebenernya dokter Adam sudah menawarkan Kinar untuk operasi saja. Tapi Kinar yakin, jika proses penyembuhan Caesar akan membutuhkan waktu yang panjang. Selain itu, setelah ini ia akan pergi jauh dari kehidupan Arion.


Kinar tak boleh menyerah, ia ingin menuntaskan perjanjian ini dengan sebaik-baiknya sebelum ia akan menghadapi bibinya.


Namun seperti sudah menjadi hukum alam, waktu yang biasanya cepat berlalu, akan terasa berjalan lambat bagi si penunggu.


Kendra dan Xander yang kini sudah berada di dalam pesawat tak henti-hentinya cemas. Penerbangan itu akan memakan waktu kurang lebih lima jam.


" Kenapa anda terlihat sangat khawatir tuan? Bukankah anda bisa santai dan membiarkan nona Kinar melahirkan sendiri? Lagipula yang anda butuhkan adalah tuan / nona muda kecil?"


Xander tak henti-hentinya mengamati sikap bosnya yang sedari tadi tak mau diam barang sejenak karena gelisah.


Xander tidak tahu, bila pria di sampingnya itu benar-benar dilanda keresahan.


Lima jam kemudian.

__ADS_1


Setibanya mereka di airport, Xander telah memerintahkan orangnya untuk menjemput mereka dengan mobil super mewah. Namun sialnya, saat mencapai setengah perjalanan, mereka malah terjebak macet sebab terjadi tabrakan beruntun di depan yang mengakibatkan ekor kepadatan mengular hingga bermeter- meter.


"Brengsek, kenapa kau malah lewat disini?" memaki anak buah Xander padahal ini juga bukan atas kendali mereka.


Membuat Xander lagi-lagi heran.


" Apa kata anak Dores itu Xan?" bertanya dengan wajah risau dan tampak marah.


" Nona sudah pada tahap buka delapan, mungkin sebentar lagi anak itu lahir!"


" CK!" mendecak kesal sebab takut kalau-kalau ia sampai tidak bisa mendampingi Kinar.


Kendra semakin resah. Ia bahkan sampai menelpon langsung dokter Adam untuk bertanya mengenai kelahiran anaknya itu.


" Kontraksi pada ibu yang akan melahirkan pertama kali memang biasanya berlangsung lama tuan. Bahkan di beberapa kasus ada yang sampai 12 jam. Saya salut kepada nona Kinar karena mau memilih lahir secara normal dengan konsekuensi yang seperti ini!"


Melihat kemacetan yang semakin parah, Kendra benar-benar murka. Ia tak bisa lagi menunggu.


" Bawakan aku heli Xan. Jika begini terus, bisa-bisa aku tak memiliki kesempatan untuk melihat anakku lahir!" titahnya dengan rahang yang mengeras.


Maka titah Kendra segera Xander lakukan sebab kini Xander tahu, bila Kendra ingin menunggui langsung proses Kinar melahirkan.


" Akhirnya anda mengkhawatirkan nona Kinar tuan!"


Usai mendengar umpatan dan makian berkali-kali dari Kendra sebab kemacetan itu sangat parah, para manusia di sana seketika terkejut saat melihat sebuah helikopter hitam, yang kini mendarat diatas tanah kosong yang terletak di sisi barat jalanan padat merayap itu.


Kendra masuk terlebih dahulu lalu di susul Xander yang wajahnya selalu tampak serius. Membuat semua orang takjub kala memandang.


Sementara itu, Kinar yang masih merasakan rasa mulas yang berlebih dari waktu ke waktu itu, Kini terlihat nyaris tak sanggup.


Dokter Adam mengecek kembali kemajuan progres pembukaan itu, namun rupanya pembukaan itu masih saja tetap.


" Jika belum bereaksi, beri saja obat perangsang sus. Kasihan nona Kinar!" kata dokter Adam yang berbicara kepada suster yang membantunya disana.


Mereka juga tidak tahu apa yang menyebabkan pembukaan itu stuck di angka delapan. Benar-benar mengherankan.


" Siapa itu?" gumam Sofia yang kaget saat melihat helikopter yang beberapa detik yang lalu melintas tepat di depan kaca ruangan Kinar yang berada di lantai atas.


Dan pemandangan itu, sukses membuat pengunjung rumah sakit lain takjub. Pun dengan Kinar.


Hingga, saat Kinar kembali merasakan kontraksi itu timbul kembali, suara pintu yang terjeblak keras membuatnya syok.


BRAK!


Membuat Kinar, Sofia bahkan Hilda seketika syok manakala melihat Kendra yang masih berseragam resmi membanting pintu itu dengan wajah gusar.


" Tuan?"


Sapa Hilda yang buru-buru mengangguk hormat sebab tak menyangka jika pria yang di kabarkan berada di negri seberang kini ada berdiri di hadapannya.


Sofia celingak-celinguk lantaran tak mendapati Megan disana. Bahkan Kinar juga heran, sebab Kendra datang hanya bersama Xander.


" Bagaimana keadaanmu?" bertanya panik kepada Kinar dan mengabaikan tatapan - tatapan penuh keterkejutan dari para maid itu.


" Anda menepati janji anda tuan?" Kinar tak bisa menahan air matanya saat melihat Kendra mencemaskan kondisinya. Meski ia tahu, mungkin kecemasan itu adalah untuk malaikat kecil.


Kendra yang di tanyai hal seperti itu seketika bingung harus menjawab apa. Dan saat Kendra hendak membuka mulutnya, Kinar tiba-tiba kembali merasakan nyeri yang bertambah dahsyat. Membuat Kendra spontan di serang rasa takut.


" Xander kenapa ini, cepat panggil dokter, kenapa dia kesakitan begitu?"


Dalam kepanikan yang semakin bertambah, Xander buru-buru menekan tombol untuk memanggil dokter, dan terkejutlah dokter Adam saat melihat Kendra sudah berada di sana.


" Tuan!"


Kendra mengangguk membalas sapaan Adam yang begitu menghormatinya.


" Apakah rasanya semakin sakit nona?" tanya dokter Adam yang menyimpulkan mungkin saja pembukaan itu bertambah.


" Iya dokter. Ini sangat sakit!" rintih Kinar dengan wajah yang pucat dan membuat Kendra semakin speechless.

__ADS_1


" Biar saja cek dulu!" kata dokter Adam bersiap mengecek kembali pembukaan Kinar.


Kendra yang melihat tangan dokter Adam di masukkan ke kelamin Kinar seketika syok dan tiba-tiba merasa tidak terima.


" Hey apa yang..."


Namun Kendra seketika diam manakala dokter Adam memberikan instruksi lewat gerakan tangannya, dan meminta Kendra agar tenang. Membuat Sofia dan Hilda saking bertukar pandang.


" Sungguh ajaib. Anak ini mungkin memang menunggu anda tuan, bukaannya sudah 10. Ini sempurna. Sus, segera siapkan peralatan!" kata dokter Adam tersenyum senang.


" Kalau begini, anda benar- benar kelihatan bodoh tuan!"


Sofia, Hilda dan Xander akhirnya memilih menunggu diluar sebab mereka di usir oleh Kendra yang tampak tak suka keintiman Kinar dilihat. Padahal, mereka tak melihatnya sama sekali sejak tadi.


Ada dua dokter, serta tiga perawat dalam ruangan itu. Terlihat begitu serius dan profesional dalam menjalankan tugas mereka saat ini. Semakin terasa berbeda sebab ada Kendra diantara mereka.


" Jika anda merasa seperti ingin buang air besar, tolong katakan ya nona, itu pertanda anda harus mengejan!"


Kinar mengangguk. Ia kini sudah semakin kehilangan daya untuk sekedar menjawab. Ia sudah merasakan nyeri sejak ia masih di mansion tadi. Dan sungguh, sakit yang ia rasakan saat ini tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.


Dan saat melihat Kinar yang sudah pucat dan bersimbah keringat seperti itu, Kendra merasakan sebuah kedekatan emosional yang tak bisa ia jelaskan.


Kendra nampak turut merasakan sakit yang di derita Kinar.


" Dokter saya..."


" Suster persiapan!"


Sepanjang sejarah hidup Kendra, baru kali ini ia merasa bingung tak tidak bisa melakukan apa-apa selain menatap Kinar dengan wajah khawatir.


" Tarif napas nona, ayo kita coba. Satu...dia...ti..."


Masih belum berhasil, Kinar terlihat bolak-balik menarik napas dan mengabaikan rasa malu yang tadi sempat singgah di hatinya. Rasa sakit yang menjalar hingga ke urat-urat terkecil itu benar-benar membuat Kinar mengerti arti kekeramatan seorang ibu.


" Tuan, anda bisa memilin pu ting ibu guna merangsang percepatan kelahiran!"


Maka Kendra seketika mendelik saat dokter Adam menangkap tangannya, dan langsung memposisikan tangan Kendra ke atas bukit kembar.


Kinar sempat terkejut tapi sakit yang ia rasakan melebihi rasa terkejutnya.


Di menit ke lima, Kendra yang melihat Kinar bolak-balik menarik napas karena berjuang melahirkan itu, seketika memposisikan tubuhnya ke belakang Kinar, lalu mendorong tubuh itu sebab tidak tahan.


"Ayo nona, ini bagus, kepala bayi sudah mulai terlihat!" kata dokter Adam di balik maskernya dengan suara senang.


Kendra yang mendengar hal itu spontan mendongak dan dadanya seketika berdebar demi melihat sebiji kepala yang mungil, yang kini berada diantara jalan lahir yang sempit itu.


" Ayo nona sedikit lagi! Kita lakukan bersama-sama, satu...dua...ti..."


Hingga akhirnya.


BRUL


Tangis bayi seketika memecah ketegangan dan membuat Kendra terlolong tak percaya. Hati yang semula diliput ketakutan, kini berubah menjadi cerah manakala ia menatap wajah mungil yang kini menangis keras.


Ia menatap wajah Kinar yang kini berurai air mata dengan hati yang benar-benar sulit ia jelaskan. Pengalaman eksklusif ini benar-benar tak Kendra sangka benar-benar merasuk dan meresap kedalam hatinya.


" Dia mirip anda tuan!" kata Kinar yang kini grogi sebab Kendra masih berada di belakang tubuhnya.


" Itu anakku?" balas Kendra dengan mata yang tiba-tiba basah.


Ya, Kendra menangis dan membuat Kinar turut merasakan emosi yang sama. Dan tidak tahu kenapa, Kinar yang sempat melihat wajah bayi itu kini merasa tak ingin dipisahkan dengan malaikat kecil itu.


" Selamat tuan, bayi anda berjenis kelamin perempuan!"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2