Tawanan Hati Sang Musuh

Tawanan Hati Sang Musuh
Bab 11 Masa Pertumbuhan


__ADS_3

Seorang pelayan pun masuk ke ruangan itu dengan membawa banyak makanan. Semuanya mengandung gizi dan nutrisi yang sangat bagus untuk pertumbuhan.


"Makanlah," ujar Devi seraya memandang ke atas meja. Pelayan baru saja menata makanan yang sangat menggugah selera itu dan meninggalkannya untuk mereka berdua.


Prilya ikut memandang makanan itu dengan menelan air liurnya malu-malu. Aromanya sangat menggoda dan memancing perutnya kembali bernyanyi dengan ceria.


"Ayo makanlah." Devi mempersilahkannya lagi dengan senyum diwajahnya. Akan tetapi Prilya menggelengkan kepalanya pelan. Ia harus tahu diri. Ia hanya seorang pelayan yang tidak boleh sembarangan menerima ajakan orang lain.


"Maaf, saya sudah makan tadi. Mbak Devi makan aja sendiri." Prilya menolak dengan halus. Ia sungguh malu dengan perempuan cantik dan sangat modis dihadapannya itu. Ia yakin perempuan itu adalah orang penting dan ada hubungan keluarga dengan pemilik rumah ini.


"Humm, sedapnya." Devi kembali memancing karena gadis dihadapannya tak merespon.


"Kamu yakin tidak mau mencoba makanan ini Pril?"


"Ah tidak. Terima kasih banyak Mbak."


"Yakin?"


"Iya Mbak."

__ADS_1


"Meskipun ini perintah dari Tuan Black?"


"Hah? Apakah soal makan dan tidak itu juga karena perintah Tuan Black?" Prilya balas bertanya dengan wajah serius.


"Ehem, sepertinya begitu Pril." Devi menjawab dengan pandangan ia alihkan pada tatanan makanan yang sangat menggugah selera itu.


"Wah, apa mungkin di kehidupan sebelumnya ia adalah pimpinan dari Tuan Richard?" tanya Prilya dengan wajah penasaran.


Puffft


Devi tak tahan untuk tidak tertawa. Gadis di hadapannya ini benar-benar aneh. Ia selalu mempunyai pikiran-pikiran yang absurd dan di luar nalarnya.


"Kenapa kamu berkata seperti itu Pril?" tanya Devi setelah berhasil meredakan tawanya.


Devi menahan dirinya untuk tidak tertawa lagi. Ia membenarkan semua kata-kata gadis itu.


"Kalau Tuan Richard kenapa Pril?"


"Hum," Prilya nampak berpikir kemudian menjawab," Tuan Richard hanya tahu marah-marah tak jelas."

__ADS_1


Devi mengangguk membenarkan. Ia lantas memberikan sebuah piring kepada gadis itu agar ikut makan bersamanya.


"Nah, sekarang makanlah. Saya takut Tuan Black akan marah kalau kamu tidak ikut makan bersama dengan saya."


"Tapi Mbak."


"Udah, anggap ini adalah perintah dari Tuan Black, okey?" Devi mengibaskan tangannya agar tampak santai.


"Baiklah mbak, karena kamu memaksa, maka saya akan makan. Tapi jangan salahkan saya ya, kalau susah berhenti."


"Tidak akan Pril. Kamu makanlah yang banyak agar kamu lebih berisi lagi." Devi tersenyum kemudian memulai makannya dengan santai.


Sebenarnya ia ditugaskan oleh Black untuk mengajar gadis dihadapannya ini tabel manner. Tapi ia harus santai dan tidak perlu terburu-buru. Karena menurutnya Prilya adalah gadis yang sopan dan gampang diajak ngobrol.


Gadis itu pasti mudah untuk belajar menjadi seorang istri bangsawan. Yang terpenting saat ini adalah tubuhnya perlu gizi dan nutrisi agar lebih segar dan juga nampak semakin menarik. Samuel Richard haruslah jatuh cinta padanya, atau karirnya akan dihancurkan oleh pria dingin yang sangat suka berpakaian hitam-hitam itu.


🌻🌻🌻


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2