
"Beneran nih kak?" tanya Ardina dengan wajah tak percaya. Praja Wijaya tersenyum kemudian menjawab,"Iyya."
Gadis itu langsung tersenyum kemudian menatap sang ibu untuk meminta pendapatnya.
"Ibu? Boleh gak?" tanyanya dengan dada berdebar-debar. Asna ikut tersenyum kemudian meraih tangan putrinya itu lantas berucap, "Boleh. Kan kamu yang akan menjalaninya. Ibu setuju saja selama itu baik."
"Terimakasih banyak Bu dan juga Kak Praja Terimakasih banyak. Semoga Tuhan membalas kebaikan Kakak dengan balasan yang baik pula," ucap gadis itu dengan perasaan haru dan juga bahagia.
Senyumnya semakin nampak lebar diwajahnya yang cantik. Itu menandakan bahwa begitu bahagianya ia saat ini. Ardina juga tidak menyangka kalau dibalik musibah besar yang menimpa keluarganya ini justru memberikan hikmah yang sangat indah.
Ia bisa bekerja sambil kuliah dan tentunya yang yang tak kalah pentingnya adalah bisa dekat dengan Praja Wijaya. Hanya dekat, itu saja sudah membuatnya sangat bahagia.
"Kapan saya bisa bekerja Kak?" tanya gadis itu dengan rasa antusias yang sangat tinggi.
"Kita tunggu pengumuman ujianmu dulu ya, nanti saya dapat teguran dari dinas tenaga kerja lagi, karena mempekerjakan anak dibawah umur, hehehe," Praja terkekeh.
"Ah iya kak. Kamu betul juga, maaf ya, saya terlalu bersemangat sih hehehe," kekeh gadis itu seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ketiga orang itu langsung tertawa ringan.
"Ada apa Din? Apakah kondisi ayah sudah lebih baik?" tanya Prilya yang tiba-tiba saja sudah berada di hadapan mereka semua.Tawa ketiga orang itu langsung terhenti karena kemunculan Prilya dan juga Samuel Richard.
"Eh, Kak Praja juga ada disini?" lanjutnya dengan perasaan senangnya. Praja langsung berdiri dari duduknya kemudian menjawab pertanyaan dari gadis itu.
"Iya Pril. Saya kebetulan melihat bIbi dan juga Dina disini jadi saya samperin deh. Dan ternyata mereka berdua sedang menunggui paman Sofyan."
"Hai Sam. Terima kasih banyak ya udah nolongin dengan cepat." Ia berterima kasih dan menyalami Samuel Richard.
"Ah ya hai. Kamu tidak perlu berterima kasih seperti itu. Saya adalah menantu Ayah Sofyan, jadi hal itu adalah kewajiban saya untuk memastikan keluarga ini baik-baik saja." Samuel Richard menjawab dengan senyum diwajahnya. Praja Wijaya ikut tersenyum. Ia sangat senang melihat secara langsung bagaimana pria ini sangat bertanggungjawab atas Prilya dan juga keluarga ini.
__ADS_1
"Alhamdulillah, saya sangat senang mendengarnya. Kalau begitu saya permisi. Saya akan mengantar Mama untuk pulang terlebih dahulu setelah itu saya akan kemari lagi." Praja berpamitan setelah melihat jam tangannya.
"Terimakasih banyak nak Praja," ucap Asna seraya berdiri dari duduknya. Ardina juga melakukan hal yang sama.
"Sama-sama Bibi. Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam." Semua orang menjawab salam dari pria muda itu. Beberapa detik berikutnya, mereka pun memandang punggung Praja yang semakin menjauh dari pandangan mereka semua. Prilya pun mengalihkan pandangannya ke arah dua perempuan beda usia dihadapannya itu lantas berucap, "Ibu tenang saja ya, keadaan ayah insyaallah akan segera membaik. Kita hanya perlu banyak berdoa pada Tuhan agar Ayah segera diangkat penyakitnya."
"Ah iya Pril, kamu benar sekali. Kami berterima kasih pada kalian karena telah datang dan membawa ayah dengan cepat Rumah sakit ini." Asna menjawab dengan senyum diwajahnya.
Prilya sampai merasakan hatinya menghangat bahagia. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melihat Asna bicara dengan baik seperti ini padanya. Ia berharap sekali kalau ia tidak bermimpi.
"Maafkan kami ya nak, selama ini saya dan Dina selalu membuat kamu menderita," lanjut Asna seraya memeluk dirinya secara tiba-tiba.
Untuk beberapa detik Prilya sampai terbengong-bengong dengan apa yang terjadi. Apalagi Ardina juga melakukan hal yang sama. Mereka berdua menangis dan memohon maaf atas segala kesalahan mereka selama ini.
"Terima kasih banyak nak. Kami sangat malu padamu, hiks." Asna menghapus airmatanya dan meraih tangan anak tirinya itu dan menciumnya. Teringat bagaimana dengan tidak berperasaan nya ia menyiksa dan memaksa Prilya bekerja diusianya yang masih sangat belia sampai saat ini. Rasanya balasan apapun tak akan sanggup menghapus perasaan menyesalnya saat ini.
"Ibu, jangan seperti ini. Saya adalah anak ibu. Saya pantas bekerja dibawah perintah ibu dan Ayah. Saya juga meminta maaf kalau saya juga pernah marah dan membantah mu."
Prilya ikut menangis. Ia tak urung merasa bersalah juga karena pernah marah dan tak sabar menerima penderitaan yang dialaminya selama berada bersama dengan ibu tirinya ini.
"Kamu baik sekali nak, Ibu sangat menyesal. Kalau kamu mau balas lah ibu mu yang jahat ini. Kamu bisa melakukan apa yang pernah ibu lakukan padamu Pril." Asna meraih tangan Prilya kemudian memukulkannya pada dirinya sendiri.
"Ibu! Sudah. Jangan membuatku jadi anak yang durhaka, hikss." Prilya semakin tersedu-sedu dibuatnya. Mereka bertiga saling berpelukan dengan tangis pecah.
"Keluarga pasien atas nama Pak Sofyan!" Seorang dokter keluar dari ruangan ICU dengan tergesa-gesa dan memanggil mereka semua. Seketika ketiga orang itu melepaskan pelukan mereka dan berlari ke arah pintu ruangan.
__ADS_1
"Pasien sudah sadar dan bisa dikunjungi. Silahkan." Tarikan nafas lega pun keluar dari mereka semua yang sudah lama menantikan berita baik ini. Prilya pun masuk ke ruangan itu bersama dengan Asna. Sedangkan Ardina masih berada di luar ruangan karena mereka tidak diperbolehkan untuk masuk semuanya.
"Ayah, gimana kabarnya?" tanya Prilya dengan perasaan campur aduk. Antara sedih dan juga gembira menguasai hatinya saat ini. Wajah ayahnya nampak sangat berbeda dengan beberapa saat yang lalu.
"Mas, insyaallah kamu akan sehat dan panjang umur," ujar Asna seraya mengelus lembut tangan suaminya yang terasa hangat.
Sofyan hanya menatap kedua perempuan yang sangat dekat dengannya itu dengan mata berkaca-kaca. Entah kenapa ada rasa sedih yang nampak dari pancaran mata layu itu.
"Ayah, saya dan Dina sudah selesai ujian. Kami berdua akan melanjutkan pendidikan yang sangat tinggi sesuai keinginanmu. Jangan khawatir, Kak Sam akan membiayai kami berdua. Jadi Ayah tidak perlu lagi memikirkan biayanya." Prilya menyampaikan isi hatinya karena sang ayah diam saja bahkan mengeluarkan cairan bening dari sudut matanya.
"Mas, ada apa? Suami Prilya sudah bersedia membiayai semua perawatanmu di sini. Kamu tidak perlu lagi memikirkan biayanya." Asna ikut menimpali.
Ia tahu keresahan suaminya akhir-akhir ini adalah tentang biaya besar yang harus ia siapkan untuk perawatan jantungnya yang sudah lama bermasalah. Jadi ia memberitahunya tentang hal itu agar ia tidak perlu lagi memikirkan biaya. Dan Samuel Richard yang bersedia melakukan apa saja
"Maafkan saya ya, andaikan saya tidak suka berjudi mungkin keadaan kita bisa lebih baik daripada sekarang," ujar Sofyan dengan perasaan bersalahnya.
"Ayah, jangan kamu pikirkan itu ya. Kami sudah memaafkanmu. Tetap semangat untuk sembuh ya yah." Prilya menghapus air mata sang ayah dengan menggunakan tissue. Sofyan tersenyum kemudian menutup matanya.
Asna dan Prilya hanya bisa saling berpandangan. Dan detik berikutnya mereka berdua serentak berteriak histeris memanggil nama sosok pria yang sudah tak bernyawa itu.
"Ayah, bangun!"
🌻🌻🌻
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😍