Tawanan Hati Sang Musuh

Tawanan Hati Sang Musuh
Bab 44 Ayah Harus Dirujuk


__ADS_3

Prilya merasakan dadanya berdebar kencang. Pipinya menghangat bahagia. Perlakuan manis suaminya padanya hari ini membuat bibirnya berkedut ingin tersenyum. Akan tetapi ia malu dilihat oleh orang banyak.


Ia pun mengantar pria tampan itu mendekati ranjang yang sedang ditempati oleh sang Ayah.


"Apa kabarmu Ayah?" tanya Samuel Richard pada Sofyan. Pria tua itu langsung merasakan tenggorokannya tercekat. Lidahnya kelu.


Untuk beberapa detik ia tidak bisa berkata-kata karena tidak percaya kalau seorang Samuel Richard memanggilnya ayah.


"Sa-saya baik Tuan."


"Ah benarkah? Tapi wajahmu masih tampak sangat pucat." Samuel Richard mendekat. Rasa bencinya pada Sofyan telah menguap entah kemana. Baru kali ini ia merasakan bahwa pria yang sedang sakit ini adalah keluarganya dan bahkan ayah mertuanya.


"Kedatangan Prilya kesini membuat perasaanku jadi lebih baik Tuan." Sofyan tersenyum lemah. Ia pun meraba dadanya yang kembali terasa sakit.


"Ayah kamu tidak apa-apa?" tanya Prilya dengan wajah yang sangat khawatir. Bulir-bulir keringat pun tampak keluar dari pori-pori kulitnya yang nampak semakin tua.


Devi yang ada disekitar tempat tidur itu dengan cepat memberikan kotak tissue pada Prilya agar menyapu keringat dingin itu.


"Ayah harus sembuh, saya yang akan membawamu ke rumah sakit yang lebih lengkap fasilitasnya." Samuel Richard berucap seraya memberi kode pada Black untuk mengurus segala sesuatunya.


"Terimakasih banyak Tuan. Tapi kurasa usiaku mungkin tidak lama lagi." Sofyan meremas kembali dada kirinya karena merasakan rasa nyeri yang teramat sangat.


"Jangan berkata seperti itu Ayah. Kamu akan segera sembuh. Tuan Richard akan membawamu segera ke kota."


"Aaaargh, ini sakit sekali. Tolong maafkan kesalahanku Tuan. Kumohon jaga Prilya dengan baik. Hanya Tuanlah keluarganya satu-satunya." Sofyan berucap dengan tarikan nafas beratnya. Ia merasakan pernafasannya semakin sesak dan sempit.


Black segera memanggil dokter agar pasien itu segera diberikan bantuan oksigen atau pernafasan.


"Ayah jangan bicara dulu. Istirahatlah. Saya akan menjaga ayah disini." Prilya mulai menyusut airmatanya. Ia begitu kasihan dengan kondisi kesehatan ayahnya yang sedang kritis seperti sekarang.

__ADS_1


"Permisi Pak Bu. Kami akan memberikan bantuan pernafasan pada pasien." Seorang dokter dan beberapa perawat pun datang untuk memberikan pertolongan pada Sofyan. Sebuah tabung gas yang sejak tadi memang berada di samping ranjang pasien kini segera dihubungkan pada daerah mulut dan hidung pria yang sedang dalam kondisi sesak itu.


"Prilya," ujar Sofyan dengan suaranya yang lemah. Sang putri langsung meraih tangan ayahnya yang terbebas dari jarum infus.


"Ayah tidak usah bicara. Tenanglah, kami semua ada disini bersamamu."


"Ma-af-kan A-yah," ucap pria itu terbata-bata. Prilya menangis kemudian memeluk pria itu.


"Iya ayah, saya memaafkan semua kesalahanmu. Sekarang istirahatlah," balas gadis itu dengan tangan mengelus lembut lengan sang ayah agar bisa tertidur.


Sofyan pun tersenyum dan menutup matanya. Pria itu berusaha untuk tidur dengan membayangkan kebahagiaan keluarganya dulu bersama dengan Prilya kecil dan juga almarhumah istrinya.


"Jangan menangis Pril, kamu bisa membuat ayahmu semakin sedih," ujar Samuel Richard seraya mengelus lembut punggung sang istri untuk menenangkannya.


"Saya kasihan pada ayah Tuan. Ia pasti sangat tersiksa dengan penyakitnya itu, hikss." Prilya terisak. Gadis itu langsung memeluk suaminya dan menumpahkan rasa sedihnya disana.


"Kamu yang sabar ya, insyaallah semua akan baik-baik saja," ujarnya seraya menciumi seluruh permukaan wajah istrinya. Air mata Prilya ia hapus dengan ibu jarinya. Setelah itu Samuel Richard memeluk kembali istrinya dengan sangat erat.


"Ekhem, kalau ada keluhan atau ada sesuatu yang terjadi pada pasien, silahkan panggil kami ya," ujar sang dokter setelah semua alat-alat kesehatan itu terpasang dengan baik pada pasien. Ia pun keluar dari ruangan itu diikuti oleh para perawat dibelakangnya.


"Hum, dokter. Bisa kami minta supaya pasien dirujuk ke Rumah Sakit di kota? Mohon maaf karena kami semua tinggal di sana jadi akan sangat mudah merawatnya kalau jaraknya dekat dengan tempat tinggal kami." Samuel Richard menahan langkah dokter itu untuk menanyakan maksudnya.


"Bisa saja Pak. Silahkan minta salah satu anggota keluarga untuk mengurus administrasinya."


"Baik dokter terimakasih banyak." Pria itu pun meminta Black untuk mengurus admistrasi dan pembayaran perawatan Sofyan sebelum meminta rujukan ke rumah sakit di Kota.


"Terimakasih banyak Tuan. Kamu begitu banyak membantu kami. Semoga mas Sofyan bisa segera pulih kembali." Asna mendekat dan mengucapkan ucapan terimakasih sampai berkali-kali.


Saat ini ia dan Ardina harus mengambil hati pria kaya itu agar mereka juga diajak ikut tinggal di rumah orang kaya seperti keluarga Samuel Richard.

__ADS_1


"Aamiin, semoga doamu didengar kan oleh Tuhan." Samuel menjawab dengan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Entah kenapa ia sangat tidak suka pada perempuan tua dan juga putrinya itu.


"Terimakasih banyak nak Sam." Asna kembali berucap dengan nada yang semakin terasa akrab ditelinga semua orang. Prilya saja langsung kaget dengan nada akrab dari Perempuan yang sangat membencinya itu.


Tak lama kemudian, Black yang ditemani oleh Devi sudah tiba di ruangan itu dan meminta semua orang bersiap-siap.


"Tuan, pasien akan segera dibawa ke Rumah Sakit di kota beberapa jam berikutnya. Jadi ada baiknya semua perlengkapan yang harus dibawa sudah harus siap." ujar Black meminta semua orang bersiap-siap.


"Terimakasih banyak Tuan Black. Mari Kak Devi. Tolong bantu saya menyiapkan semua barang-barang Ayah."


"Baik Nyonya," ucap Devi dengan posisi sigap.


"Hey kenapa kamu tidak mengajak aku Prilya. Saya juga adalah putrinya ayah bukan hanya kamu!" Ardina merasa tersinggung karena samasekali tidak diajak bicara dan dimintai pendapatnya.


"Apa saya harus mengucapkan kalimat ajakan pada keluarga sendiri? Kamu saja yang kurang peka dan tidak pernah perduli." timpal gadis itu dengan wajah sedikit kesal.


"Jangan mentang-mentang suamimu yang mengurus semua keperluan ayah, kamu jadi sombong ya!" Ardina kembali mengeluarkan kata-kata yang sangat tidak enak didengar.


Prilya hanya menarik nafas panjang dan berusaha untuk tidak perduli. Ia dan Devi terus saja sibuk membereskan semua barang dan perlengkapan sang Ayah.


Ardina langsung memandang Samuel Richard untuk meminta dukungan. Ia sungguh ingin menunjukkan sikap di depan pria tampan itu kalau Prilya itu bukanlah gadis yang baik.


Samuel Richard tidak merespon apapun. Ia mengabaikan perkataan gadis itu yang ia tebak adalah saudara dari Prilya. Ia hanya meraih handphonenya dan segera menghubungi Rumah Sakit yang akan mereka tuju nantinya.


🌻🌻🌻


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2