
"Kita ke kamar sekarang juga!" Samuel menarik tangan Prilya untuk berdiri dari duduknya dan meninggalkan tempat itu.
"Eh kenapa kak?" Semua tamu juga belum pulang." Prilya bingung. Ia menatap suaminya dengan tatapan tanya.
"Kamu yang mengajarkan saya untuk menghormati tamu 'kan kak?" ujarnya lagi dengan wajah yang masih sangat bingung. Yang ia tahu adalah keluarga suaminya adalah keluarga terhormat dan juga beradab.
Samuel Richard langsung diam. Ia tersadar. Ia tidak boleh nampak kekanakan-kanakan pada acara yang ia adakan ini hanya karena cemburu. Sebagai tuan rumah ia haruslah jadi tuan rumah yang baik.
"Baiklah. Kita tetap duduk di sini tapi kamu harus menundukkan pandanganmu. Tidak boleh tersenyum bebas pada siapa saja." Dengus pria itu seraya menatap wajah istrinya yang terasa semakin cantik saja dari hari ke hari.
"Iya Kak, saya akan menundukkan wajah saja dan tidak menyapa semua orang. Saya akan jadi patung cantik saja." Prilya berucap dengan bibir manyun.
"Eh, jangan seperti itu. Bibirmu itu tidak boleh nampak seperti itu." Pria itu kembali protes. Ia sangat terganggu dengan bentuk bibir Istrinya yang rasanya ingin ia sentuh dengan bibirnya sendiri.
"Kamu ini kenapa sih kak? saya begini salah begitu juga salah." Prilya kesal dan semakin bingung dengan tingkah suaminya yang semakin aneh saja. Meskipun begitu ia sangat suka diperlakukan seperti itu oleh pria yang sudah mengisi seluruh hatinya itu.
"Aku ingin menciummu kalau kamu seperti itu sayang," bisik Samuel dengan suara rendah. Takutnya ada tamu yang mendengar percakapan berbau mesum itu.
"Bibirmu sungguh sangat manis Pril. Saya sangat ingin mencicipinya lagi," lanjutnya dengan tatapan penuh cinta pada istrinya yang berusia jauh berbeda dari dirinya. Prilya seperti seorang adik baginya.
"Ish." Prilya mendengus tapi tak urung membuat ia tersenyum juga. Dadanya berdebar tak karuan hanya karena ucapan seperti itu oleh suaminya. Otak kecilnya jadi membayangkan sesuatu yang tidak-tidak.
__ADS_1
"Pril, kita ke kamar yuk sayang" ucap sang suami masih dengan suaranya yang sangat pelan. Nampak sekali kalau pria itu benar-benar sangat menginginkannya saat itu juga. Prilya tersenyum dan mengangguk. Entah kenapa ia juga ingin merasakan belaian suaminya lagi pada dirinya.
"Heh, mau kemana Sam?" tanya Eliza yang tiba-tiba saja berada di belakang mereka berdua. Dua orang suami istri itu langsung terlonjak kaget. Wajah mereka memerah karena malu. Mereka seperti pencuri yang sedang tertangkap tangan.
"Mama? Mama sudah lama disini?" tanya Samuel dengan wajah tanyanya. Sedangkan Prilya langsung menutup wajahnya dengan ujung kerudung yang sedang ia gunakan.
Eliza tersenyum lebar kemudian berucap, "Tentu saja anak nakal. Kamu tidak malu berbicara seperti itu pada istrimu di dalam suasana seperti ini hah? Ada banyak pak ustadz dan santri di sekitar sini. Mereka bisa saja mendengar kamu. Memangnya kamu tidak bisa menyembunyikan keinginanmu itu barang sejenak?" Eliza berpura-pura marah. Ia menatap dua orang suami istri dengan wajah dibuat serius.
"Mama, maafin saya. Ini semua gara-gara saya." Prilya meraih tangan perempuan itu dengan wajah malu.
"Eh, iya Ma, ini semua salah menantumu yang sangat lezat ini. Saya sampai tidak bisa jauh-jauh darinya, hehehehe," kekeh Samuel yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari dua perempuan beda usia itu.
"Ya ampun Sam! Kamu sepertinya bukan cuma butuh belajar ngaji dari pak ustadz tapi kamu juga perlu di ruqyah!"
"Eh, tentu saja Mama tahu. Di Inggris orang yang terkena Voodoo atau sihir ilmu hitam biasanya ditangani oleh seorang dukun. Kalau disini ditangani seorang ustadz." Jelas Eliza.
"Jadi menurut Mama saya terkena sihir ilmu hitam?"
"Tidak."
"Trus kenapa harus di ruqyah?"
__ADS_1
"Karena- eh nanti mama jelaskan Sam. Sekarang kamu jangan kemana-mana. Bawa istrimu untuk minta doa dan berkah dari pimpinan pondok pesantren ini. Minta supaya cepat diatur jadwal kalian untuk belajar ngaji dan sholat."
"Eh iya Ma. Terimakasih. Saya akan bawa Prilya kesana sebelum mereka pulang."
"Nah, itu bagus. Untuk kebaikan jangan ditunda-tunda. Harus segera dilaksanakan." Tegas Eliza dengan wajah serius.
"Baiklah Ma, saya kesana ya sama Prilya," ujar Samuel seraya meraih tangan istrinya untuk menghampiri pimpinan pesantren yang menyempatkan hadir di acaranya ini.
Elizabeth tersenyum senang. Ia bahagia melihat putranya jadi patuh begitu. Padahal selama ini ia tidak pernah mau mendengar ketika diberi nasehat untuk tidak lagi bermain-main dengan yang namanya perempuan.
"Ini karena dia bergaul dengan Nargya Martha, hingga jadi seperti ini. Dan sekarang Alhamdulillah. Sam sudah menemukan sosok pendamping yang cocok untuknya."
Seketika ia jadi merinding mengingat tentang Nargya Martha yang menurut orang-orangnya sedang berusaha memisahkan putranya dengan Prilya dengan menggunakan hal yang berbau mistik.
"Naudzu billahi minassyaitonirrojim," ucap Eliza dengan kulit yang tiba-tiba merinding takut.
Perempuan paruh baya itu berharap usaha mantan kekasih putranya itu tidak akan berhasil jika terlebih dahulu ditangkal dengan mendekatkan diri pada yang mahakuasa.
🌻🌻🌻
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍