
"Saya calon suaminya Prilya Sofyan!" Praja menjawab pertanyaan gadis yang sedang bersama dengan Prilya. Ia menatap Devi Aldiva dengan tatapan lurus ke dalam mata gadis itu.
"Kak Praja, apa yang kamu katakan?" Prilya menatap pria dihadapannya dengan ekspresi kaget. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang ia dengar baru saja.
"Iya Prilya. Saya sudah memintamu pada Ayahmu jauh sebelum kamu diambil oleh bajingan Samuel Richard itu. Saya menyukaimu sejak dulu."
"Kak Praja, tapi saya sudah bukan lagi milik ayahku lagi. Ayah sudah menjual ku, hiks." Prilya merasakan dadanya sesak. Ada rasa kecewa yang ia rasakan saat ini. Ternyata rasa sukanya pada pria itu berbalas tapi sayangnya sudah sangat terlambat.
"Tidak apa Prilya. Saya akan menebusmu lagi. Jadi kamu tidak perlu khawatir okey?" Praja meraih tangan gadis yang terisak itu dengan perasaan haru dan bahagia.
"Hellow, maafkan saya ya Tuan Praja yang terhormat. Gadis yang ada dihadapan anda ini tidak bisa lagi anda raih maupun sentuh." Devi langsung menarik tangan Prilya yang sedang digenggam oleh pria itu.
"Siapa anda yang berani menggangu urusan saya hah?!" Wajah Praja Wijaya tampak kesal karena apa yang sedang dilakukannya diganggu oleh seorang gadis yang tidak ia kenal.
"Saya adalah Devi Aldiva. Saya guru privat homeschooling dari Nyonya muda Samuel Richard. Saya harus memastikan bahwa Nyonya tidak mendapatkan gangguan dari seseorang seperti anda." Devi mengangkat dagunya menghadapi pria menggangu rumah tangga majikan yang menggangunya.
"Prilya, bisakah kamu menjelaskan apa maksud gadis ini?" Praja nampak bingung. Ia meminta gadis yang sangat disukainya itu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Kak Devi benar kak. Saya sudah menjadi istri dari Tuan Samuel Richard. Kakak tidak bisa lagi mengatakan hal seperti tadi."
"Apa? Ini tidak mungkin Prilya, saya tidak percaya ini. Kamu adalah calon istriku. Saya sudah menunggu ini lama sekali. Dan sampai kamu selesai ujian saya akan menikahimu." Praja menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia tidak ingin mendengar apa yang dikatakan oleh gadis manis dihadapannya.
"Tuan Praja. Anda sudah dengar kan? Nyonya Prilya tak lagi bisa anda cintai. Lupakan saja dia."
"Tidak Prilya. Kamu itu bukan dinikahi dengan niat yang baik. Saya akan menebusmu. Dan kamu harus menjadi istriku. Kamu pasti mendapatkan tekanan selama berada di sana."
"Kak Praja, mana bisa seperti itu."
__ADS_1
"Bisa Prilya. Ayahmu sudah menceritakan kalau kamu diculik oleh mereka karena ia mempunyai utang yang banyak pada pria yang bernama Samuel Richard itu."
"Kak," ujar Prilya dengan tenggorokan tercekat. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Sesungguhnya ia sangat senang karena pria yang selama ini ia sukai kini ingin memperistri nya. Akan tetapi dalam keadaan seperti ini ia takut kalau keinginan Praja Wijaya itu akan dibuktikan oleh pria itu disaat ia sudah menjadi istri dari orang lain.
"Ada apa Prilya, katakan kalau kamu juga menyukaiku. Saya akan menebusmu saat ini juga. Kita akan bahagia." Praja Wijaya menatap gadis manis itu dengan tatapan serius.
"Kak Praja." Prilya meragu. Hatinya mulai merasa bimbang. Ia berpikir kalau kata-kata Praja ada benarnya. Mereka mungkin akan bahagia karena suaminya sendiri menginginkan perempuan lain yaitu Martha.
"Nyonya, bukankah kita akan menonton? Ayo kita berangkat sekarang." Devi cepat-cepat menarik tangan istri dari Samuel Richard itu. Ia tidak Ingin mendapatkan masalah kedepannya.
"Ah iya Kak Dev. Maaf Kak Praja. Kami pergi dulu." Prilya menjawab kemudian segera pergi dari sana meninggalkan pria itu. Meskipun hatinya sekarang mulai meragu tapi ia tetaplah adalah istri dari seorang Samuel Richard. Ia tidak boleh macam-macam dengan menerima permintaan pria lain padanya.
"Prilya!" Praja memburu dua gadis itu. Tapi seketika langkahnya terhenti karena seorang pria berpakaian hitam-hitam menghalanginya.
"Anda mau apa?" tanya pria itu dengan tatapan membunuh.
"Saya tidak mengenalmu jadi jangan ikut campur urusan saya!" Praja mengindahkan pertanyaan pria itu padanya. Ia terus saja melangkah untuk memburu dua gadis yang sedang menuju ke arah eskalator.
"Heleh, memangnya kamu siapa hah?!" Praja menatap pria itu dengan tatapan mencemooh kemudian meniggalkan pria itu dan dengan langkah cepat bagai berlari ia menaiki eskalator itu.
Sang sopir merasakan ada hal yang tidak baik disini. Ia langsung menghubungi nomor Tuan Black untuk melaporkan kejadian hari ini pada pria kepercayaan Tuannya itu.
🌻
Sementara itu, Ardina sudah kembali dari sekolahnya. Ia langsung memasuki rumahnya dengan wajah yang sangat jengkel. Tas dan sepatunya ia lempar ke sembarang arah.
Kedatangan Prilya ke sekolah tadi pagi dalam keadaan yang sangat baik membuat hatinya sakit. Ia pikir saudara tirinya itu mungkin sudah sangat menderita karena telah dijadikan sebagai alat penebus utang sang ayah.
__ADS_1
Asna yang sedang menyapu di dalam rumah itu langsung menghentikan kegiatannya. Ia menghampiri putrinya dan bertanya, "Ada apa Din? Kok wajahmu kusut begitu?"
"Prilya Bu. Dia datang ke sekolah dan ingin ikut ujian."
"Benarkah? Lalu bagaimana keadaannya?"
"Keadaannya tidak seperti orang yang sedang diculik Bu. Ia seperti orang kaya. Pakaiannya sangat bagus." Ardina menjawab dengan bibir manyun. Ia benci pada Prilya yang selalu mendapatkan hal yang lebih baik darinya.
"Kok bisa seperti itu Din? Apa jangan-jangan ia sebenarnya dijual untuk melayani hasrat Tuan Samuel Richard?" Pikiran buruk Asna mulai berkelana tak tentu arah.
"Maksud ibu apa?" Ardina tidak mengerti dengan perkataan ibunya.
"Tuan Samuel Richard itu menikmati tubuh kurus Prilya Din. Makanya ia diberikan pakaian yang bagus agar ia tidak memalukan jika dibawa ke tempat umum."
"Oh iya Ibu. Betul juga kata-katamu. Prilya pasti dijadikan sebagai perempuan bayaran. Dan mungkin juga ia dijual kembali oleh Tuan Richard untuk membayar utang-utangnya ayah." Ardina mulai tersenyum. Ia yakin kalau Prilya pasti sangat menderita di tempat tinggalnya sekarang.
"Tapi Bu. Bagaimana kalau kak Praja melihatnya lagi dan ingin membebaskannya dari Tuan itu." Senyum gadis muda itu langsung luntur. Ia jadi takut dengan keluarnya Prilya dari cengkeraman Samuel Richard maka Praja akan benar-benar membuktikan perkataannya.
"Jangan kamu pikirkan itu Din. Ia tidak mungkin mau menerima perempuan yang sudah melayani banyak pria hidung belang. Kamu pasti bisa menarik perhatiannya sayang."
"Ah iya Ibu. Tapi ayah harus memaksanya, karena Kak Praja lebih mendengarkan perkataan ayah daripada saya."
"Ibu yang akan memberitahu ayahmu. Kamu tenang saja." Ardina langsung memeluk ibunya karena senang. Ia berharap Praja bisa ia miliki nantinya.
🌻🌻🌻
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading ya 😍