Tawanan Hati Sang Musuh

Tawanan Hati Sang Musuh
Bab 22 Bertemu Pria Baik


__ADS_3

Prilya dan Devi tiba di sebuah Mall atau Pusat Perbelanjaan yang akan mereka tempati untuk berbelanja seragam sekolah baru. Raut wajah bahagia nampak sangat terasa diwajah Prilya saat ini.


Sejak kepergian ibunya Prilya tidak pernah lagi mengunjungi tempat yang namanya Mall. Kerjanya hanya ke sekolah setiap pagi dan setelah pulang ia akan tinggal di rumah untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah bagai seorang babu.


"Nyonya, silahkan dicoba dulu pakaiannya," ujar Devi saat mereka sudah tiba di sebuah Toko yang menjual perlengkapan Sekolah.


Gadis itu memberikan sepasang seragam putih abu-abu kepada Prilya yang nampak sangat cocok dengan ukuran gadis itu.


"Makasih Kak Dev, saya coba di dalam ya." Prilya mengambil seragam itu kemudian memasuki sebuah ruangan pas. Tak lama kemudian ia pun keluar dengan senyum cerah diwajahnya.


"Ini cocok sekali Kak." Ia berputar-putar dengan wajah bahagia. Ia seperti seorang anak yang akan bersekolah pada hari pertama.


"Baiklah kita ambil yang itu ya, selanjutnya sepatu dan tas." Devi tersenyum kemudian membawa Prilya mencari sepatu dan juga tas sekolah.


Setelah memilih dan mencoba ini dan itu, dan akhirnya memutuskan membeli semua perlengkapan sekolah untuk Prilya, mereka pun mendatangi sebuah restoran untuk makan siang.


"Senang banget kak Dev, akhirnya saya bisa kembali ke sekolah." Prilya berucap dengan penuh syukur.


"Ah iya itu karena kebaikan Tuan Richard."


"Ah iya Kak Dev. Entah apa yang terjadi padanya pagi ini sampai ia baik sekali padaku,. meskipun ia selalu mengejek tubuhku yang kurus ini." Devi tersenyum kemudian memajukan tubuhnya ke depan seolah ingin berbisik pada gadis manis dihadapannya.

__ADS_1


"Apa mungkin terjadi sesuatu semalam Nyonya?" tanya Devi dengan pikiran yang mulai menduga-duga.


"Oh, yang semalam? Tentu saja telah terjadi sesuatu Kak." Prilya menjawab kemudian meminum jus jeruk dihadapannya.


"Apa? Apa saya boleh tahu Nyonya?" Rasa ingin tahu gadis itu sepertinya sedang meronta-ronta.


"Tuan Richard sedang mabuk berat dan saya harus membuka semua pakaiannya," jawab Prilya seraya membayangkan keadaan semalam. Dan entah kenapa dadanya jadi berdebar saat mengingat bagaimana penampakan tubuh suaminya yang begitu menggoda dirinya yang masih sangat polos itu.


"Setelah itu apa yang terjadi?" tanya Devi lagi dengan wajah penasarannya.


"Tidak ada yang terjadi. Kami tidur saja sampai pagi. Memangnya Kak Devi membayangkan apa?" Kaki ini Prilya yang bertanya dengan menatap guru privatnya itu.


"Oh, tidak ada yang terjadi ya, Saya pikir Tuan dan Nyonya sudah melakukan Nana Ninu," jawab Devi kemudian segeralah menghabiskan makanannya. Ia jadi malu sendiri karena sudah membayangkan yang tidak-tidak.


"Ah sudahlah Nyonya. Kita selesaikan saja dulu makan kita, kemudian kita nonton. Bagaimana?" Devi Aldiva segera mengalihkan pembicaraan. Nyonya muda yang masih sangat polos itu belum mengerti dengan apa yang sedang ia bicarakan.


"Baiklah Kak. Saya juga sudah lama ingin nonton di Bioskop. Semua teman di sekolah sering banget cerita kalau mereka habis nonton."


"Ah iya, pokoknya hari ini kita bersenang-senang Nyonya. Setelah itu belajar lagi ya, kan bentar lagi ujian."


"Okey siap." Prilya menjawab dan langsung melanjutkan makannya. Ia baru ingat kalau besok ia akan ke sekolah lagi untuk ujian praktek. Dan salahnya adalah ia tidak meminta jadwal di sekolah itu.

__ADS_1


"Alhamdulillah, udah kenyang Kak. Kita langsung saja ya nontonnya."


"Ah iya. Ayok Nyonya." Devi pun berdiri dan segera melangkahkan kakinya ke arah kasir untuk membayar semua makanan mereka. Prilya hanya ikut dibelakangnya dengan tangan penuh dengan tas belanjaan. Devi pun sama.


Mereka berdua sama-sama membawa banyak belanjaan. Hingga tak ada yang bisa membedakan yang mana majikan diantara mereka berdua.


"Prilya?" Langkah gadis itu tiba-tiba saja terhenti karena suara seseorang. Ia pun membalikkan tubuhnya dan melihat siapa yang memanggilnya.


"Kak Praja?" Prilya tersenyum senang melihat pria yang selama ini baik padanya, berdiri dihadapannya.


"Kamu baik-baik saja Pril?" tanya pria itu dengan wajah gembira sekaligus khawatir.


"Iya Kak. Saya baik, Alhamdulillah."


"Saya akan menebusmu Prilya. Uang satu M itu baru akan terkumpul hari ini." Praja berucap seraya meraih semua barang yang dibawa oleh gadis itu. Pria itu yakin kalau Prilya pasti diculik dan dijadikan sebagai pelayan untuk majikannya.


"Hey, anda siapa?" Devi yang sudah selesai menyelesaikan pembayaran di kasir langsung menatap Praja dengan tatapan tanya. Ia menatap sosok tampan dihadapannya dari atas kebawah dengan wajah curiga.


🌻🌻🌻


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2