
Samuel Richard menarik nafas panjang dan menghembuskannya berkali-kali untuk meredakan hasrat yang semakin bergejolak dari dalam dirinya.
Ia sungguh menyesali keputusannya untuk tidur dikamar ini. Berbaring sepanjang malam dengan Prilya, sang istri dan tidak bisa berbuat apa-apa adalah hal yang sangat tidak disukainya.
Dua gundukan milik istrinya yang ternyata sudah semakin besar dan juga kencang kini diremas-remassnya dengan pelan dan sangat lembut sampai membuat yang punya merasa sangat gelisah.
"Oh ya ampun, Prilya. Kamu bisa membuatku gila malam ini," bisik pria itu dengan suara bergetar menahan hasrat yang semakin tak terkendali. Hampir setahun ini ia tidak pernah berhubungan dengan perempuan karena sangat kesal pada Nargya Martha. Dan saat ini ia merasakan akan meledak jika tidak melakukannya sekarang juga.
Pria itu pun bangun dan mulai membuka pakaian istrinya. Akan tetapi bunyi detak jarum jam dimalam yang sangat sepi itu menyadarkannya kalau saat ini sudah dinihari. Ia bisa saja membuat istrinya itu tak bisa mengikut ujian sekolah mata pelajaran terakhir jika ia melanjutkan keinginannya yang bagaikan seseorang yang sangat kelaparan.
"Apa aku harus membangunkan Devi dan bertukar tempat dengan perempuan itu?" tanyanya pada diri sendiri karena mulai tersadar dari aksinya itu.
"Aku takut tak akan mudah berhenti jika sudah memulainya sayangku. Dan kamu akan kelelahan nantinya," ujar pria itu seraya mengancingkan kembali pakaian tidur istrinya yang sudah terbuka setengahnya.
Ia pun turun dari ranjang dengan tatapan kasihan pada belalainya yang nampak sudah sangat siap menyerang pertahanan sang istri.
"Kamu yang sabar ya, besok saat Nyonya muda sudah selesai ujian kamu bisa melakukan apa saja Okey?" pria itu menghibur dirinya dengan mengelus lembut sang belalai. Ia menutup matanya merasakan sensasi yang luar biasa dengan perlakuan tangannya sendiri.
"Oh tidak. Ini tidak benar. Bisa-bisa aku semakin tersiksa nantinya."' Pria itu pun memakai kembali pakaiannya dan beranjak keluar dari kamar tidur itu. Ia ingin ke bar hotel untuk mencari minuman dingin.
🌻
Malam yang terasa sangat panjang dan cukup menyiksa itu ternyata bukan hanya dirasakan oleh Samuel Richard. Devi Aldiva juga merasakan hal yang sama. Di atas tempat tidur ia hanya sibuk membolak-balik tubuhnya karena tidak bisa terlelap sama sekali.
Rendra yang datang kembali ke dalam kehidupannya membuatnya merasa sangat waw-was. Pria yang menikahinya karena sebuah perjanjian pelunasan utang oleh kedua orangtuanya pada pria itu.
"Hum, nasibku sama dengan Nyonya muda. Akan tetapi Prilya sekarang sudah sangat bahagia karena semua orang mencintainya, sedangkan saya? Keluargaku sendiri sudah membuangku."
Gadis itu menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya. Airmatanya tiba-tiba saja mengalir dari kelopak matanya yang bulat bening.
"Ya Tuhan. Bagaimana saya dapat hidup dengan ketakutan lagi jika pria brengsek itu masih menginginkan saya dijual pada pria hidung belang?"
__ADS_1
Devi Aldiva menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dalam hati ia berdoa semoga besok, saat pagi tiba. Permasalahannya sudah bisa terpecahkan.
"Saya benar-benar tidak bisa tidur ya Allah. Apa ini karena sudah meminum kopi luwak itu?" gumamnya seraya bangun dari posisi berbaringnya. Ia menatap berkeliling keadaan kamar yang sangat luas itu karena ia cuma sendirian.
"Mungkin kalau saya keluar dan berjalan-jalan sebentar saja bisa membuat tubuh ini lelah dan bisa tidur lagi" ujarnya lagi dan berjalan ke arah pintu kamar. Ia pun membuka pintu itu.
Ceklek
Gadis itu tampak sangat kaget karena di depan pintu berdiri Black dengan tatapan lurus kedalam matanya.
"Tuan Black, kamu belum tidur?" tanyanya dengan perasaan yang sangat tak nyaman. Ia merasa bersalah pada pria ini karena telah membawanya terlibat dengan semua rentetan peristiwa yang terjadi.
"Hem."
"Apa ada yang bisa saya bantu Tuan?" Devi bertanya seraya menundukkan kepalanya menekuri lantai. Sedangkan Black hanya tersenyum. Dengan melihat wajah Devi hatinya langsung tenang.
"Temani saya mencari minum Dev, saya tidak bisa tidur. Kamu juga?"
"Kamu tidak perlu minum. Temani saja saya."
"Baiklah, ayo." Devi merasakan hatinya menghangat dengan dada berdebar. Ia sangat senang karena pria ini mau menemaninya melewati malam ini. Mereka berdua pun segera melangkahkan kaki mereka ke arah lift untuk menuju bar hotel yang ada di lantai 3.
"Apakah boleh saya bertanya Dev?" pinta pria itu pada gadis yang sedang berdiri dengan gelisah di dalam ruangan sempit berbentuk kotak itu.
"Silahkan Tuan."
"Waktu kamu dinikahi oleh pria itu apakah kamu merasa menandatangani sesuatu?" Hal inilah yang sangat ingin diketahui oleh pria itu dan membuatnya tidak bisa tidur. Devi Aldiva menggelengkan kepalanya kemudian tersenyum, "Tidak Tuan. kami menikah dibawah tangan dan tidak pernah memiliki buku nikah." Black menarik nafas lega. Rasa galau dihatinya sedikit terobati dengan jawaban itu.
"Dan apakah Ayah dan ibumu masih hidup Dev?"
Tring
__ADS_1
Belum juga gadis itu menjawab. Pintu lift itu pun terbuka. Black mempersilakan gadis itu keluar terlebih dahulu.
"Hey, itu Tuan Richard, kok bisa ada disini?" Devi terbelalak tak percaya dengan penglihatannya. Di meja bartender, Samuel Richard sedang minum ditemani oleh seorang gadis yang sangat cantik dan juga seksih.
Black menarik nafas panjang kemudian meminta Devi untuk duduk di sebuah sofa dan menunggunya. Ia harus berada di bartender itu sebelum Samuel Richard merusak lagi dirinya sendiri.
"Ah ya, pergilah Tuan. Saya akan menunggu disini saja." Menit berikutnya, ia pun memandang bahu lebar dan kuat milik pria itu semakin menjauh.
"Tuan. Mari ikut saya duduk di meja sebelah sana." Black meminta Samuel Richard untuk berpindah tempat. Pasalnya begitu banyak mata lapar perempuan di dalam bar itu yang sedang menunggu sang pria tampan mabuk dan tak sadarkan diri."
"Black? Kamu juga disini?"
"Iya Tuan. Devi juga ikut kesini karena tidak nyaman di dalam kamar yang seharusnya anda tempati." Black menyindir pria itu dengan senyum miring.
"Eh, kamu ya. Berani menyindirku seperti itu."
"Tapi sangat benar 'kan?"
Samuel Richard mendengus kesal. Percuma ia bertukar kamar dengan Devi yang pada akhirnya ia tidak bisa juga mengganggu tidur istrinya itu.
"Lalu apa yang kalian lakukan di sini hah? Bukannya ada banyak kamar yang kalian bisa gunakan." Black hanya tersenyum meringis. Ia tahu maksud dari pria aneh dihadapannya ini. Dan ia mulai mencurigai sesuatu.
"Apakah anda belum juga mendapatkan sesuatu yang sudah lama anda inginkan?" tanya pria itu dengan senyum miringnya. Kedua tangannya pun ia lipat di depan dadanya.
"Diam kamu Black? Akan ada waktunya kamu pun akan cemburu dan meminta hal yang sama denganku."
🌻🌻🌻
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😍