Tawanan Hati Sang Musuh

Tawanan Hati Sang Musuh
Bab 68 Perang Panas


__ADS_3

Prilya sedang berdiri di depan jendela kamar memandang taman bunga yang baru saja ia kunjungi dengan Devi Aldiva.


Perempuan cantik itu benar-benar menikmati segerombolan kupu-kupu yang sedang hinggap dari setiap kelopak bunga yang dilaluinya. Ia sampai tidak menyadari kalau suaminya sudah berada di belakangnya, memeluknya dengan posesif. Bibir tipis suaminya bahkan menempel dilehernya, menciumnya, dan menghisapnya pelan.


Perempuan itu tersentak kaget tapi tak mampu untuk menolak. Tangan besar pria itu bahkan bergerak sangat pelan dan berirama meremas perutnya yang rata kemudian perlahan naik ke dua buah benda kenyal miliknya. Ia betul-betul menikmatinya apalagi lidah suaminya bergerilya di cuping telinganya. Ia merasakan dunia ini berhenti berputar. Seluruh permukaan kulitnya meremang sempurna. Seketika ia lupa kalau ia sedang ingin memasang bendera perang pada suaminya itu. Samuel Richard benar-benar membuatnya tak berkutik.


"Aku merindukanmu sayang," bisik sang suami dengan rasa bahagia yang tak terbendung. Prilya tersentak kaget. Kalimat itu juga diucapkan oleh suaminya pada mbak Miss World itu dalam video yang ia tonton.


Dengan cepat ia mendorong tubuh pria tinggi besar itu agar menjauh darinya. Samuel Richard tersentak kaget dengan penolakan istrinya. Ia menatap Prilya yang juga sedang menatapnya.


"Sayangku, ada apa? Aku benar-benar merindukanmu Pril, kemarilah," ujar pria itu dengan tatapan penuh cinta yang meluap-luap.


Ia mendekat dan ingin meraih istrinya ke dalam pelukannya lagi tapi perempuan itu mengangkat tangannya di depan wajahnya.


"Pergi kamu dari sini mas! Saya tidak ingin melihatmu!" Prilya berteriak keras seraya menunjuk ke arah pintu. Ia meminta suaminya untuk keluar dari sana. Cetakan bibir merah di kemeja suaminya itu benar-benar menambah rasa sakit dihatinya.


"Sayang, ada apa? Aku tadi mencari mu tapi kenapa kamu pulang duluan?" Samuel Richard tidak mengerti apa yang telah terjadi sebenarnya. Ia nampak sangat bingung dengan perubahan istrinya.


"Kamu menjijikkan mas. Dari mana saja kamu sampai mendapatkan tanda merah seperti itu?"

__ADS_1


"Apa yang kamu bicarakan Pril? Aku tidak mengerti sayang. Aku tadi hanya mengantar teman lama ke apartemennya karena kecelakaan. Tidak lebih."


"Saya tidak percaya kalau tidak ada yang lebih dari itu.!" Prilya mendorong suaminya yang masih nampak bingung itu keluar dari kamarnya.


"Prilya, plis sayang. Dengarkan aku." Pria itu tetap tidak bergerak dari posisinya meskipun istrinya mendorongnya dengan keras.


"Kamu jahat Mas. Saya tidak mau bicara lagi denganmu!" Karena tidak berhasil membuat suaminya keluar dari kamar itu.


Perempuan itu pun akhirnya berlari ke arah ranjangnya dan melempar dirinya di sana. Ia menumpahkan semua rasa kesalnya dengan menangis sesenggukan.


Samuel Richard langsung menghampiri istrinya itu kemudian duduk disampingnya. Ia mengelus lembut punggung istrinya itu yang sedang menangis.


"Prilya plis. Katakan ada apa? Apa karena aku tidak menemanimu shopping? Sekarang kita bisa pergi lagi bersama."


Prilya belum merespon. Ia masih menangis sesenggukan. Hatinya rasanya masih sangat sakit membayangkan apa saja yang dilakukan oleh suaminya dengan perempuan lain.


"Sayang, ada apa?" tanya pria itu lagi tapi Prilya tetap bungkam. Perempuan itu hanya menangis saja. Hingga Samuel, sang suami akhirnya ikut diam. Ia tidak ingin lagi bertanya. Lama ia menunggu tapi sepertinya istrinya benar-benar masih sangat marah padanya.


"Baiklah, kalau kamu tidak ingin bicara. Aku akan pergi saja." Ia pun berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu. Tapi seketika langkahnya terhenti di depan kaca besar yang terdapat di dalam kamar itu.

__ADS_1


Sebuah cetakan bibir merah di kemeja bagian depannya membuatnya merasakan bumi berhenti berputar. Ia jadi tahu kenapa Prilya begitu marah padanya. Dan pelakunya adalah Nargya Martha si perempuan sialan itu.


Ia pun berbalik dan mendekati ranjangnya kembali. Tangannya meraih tubuh istrinya untuk bangun.


"Apa tanda ini yang membuatmu marah sayang?" tanyanya dengan tatapan lurus kedalam bola mata istrinya yang masih tergenang dengan air mata.


Prilya tidak menjawab. Ia hanya terisak di depan wajah suaminya.


"Ini hanya permainan klise dari perempuan sialan itu."


"Jadi Mas bertemu dengannya lagi? Mas melakukan apa saja hah? Sekarang saya tidak ingin tinggal di rumah ini lagi. Kamu tega mas!"


🌻🌻🌻


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍

__ADS_1


__ADS_2