
"Hubungi kami kalau kamu telah selesai sayang," ujar Samuel Richard pada istrinya yang sudah berjarak dengannya itu. Prilya tersenyum lalu menjawab, "Iya Mas. Kalau semua barang yang kita mau beli sudah ada semua ditangan, insyaallah kamu mencari mu."
"Hum, baiklah. Tapi ingat jangan berkomunikasi dengan orang yang tidak dikenal. Kamu fokus aja shoping." Sang suami masih saja rewel dengan apa yang akan dilakukan istrinya.
"Iya Mas. Memangnya saya sama kak Devi ini anak kecil? Sudah ah, ayo cepetan Mas Meeting. Kita udah gak sabar shopping-shopping nih." Prilya akhirnya mencium pipi kanan dan kiri suaminya itu kemudian mendorong tubuhnya yang tinggi dan atletis itu agar segera pergi bersama Black.
Mereka seperti mau orang yang akan berpisah saja padahal mereka berada pada tempat yang sama.
"Ayo Black kita pergi sekarang!" Akhirnya pria itu pergi juga meninggalkan dua perempuan cantik itu.
Mereka berdua pun melangkahkan kaki mereka ke arah sebuah restoran di dalam kawasan Mall atau Pusat Perbelanjaan itu. Prilya dan Devi saling memandang kemudian saling melempar senyum. Mata mereka sudah membayangkan banyak barang yang ingin mereka beli.
"Ayo kak. Kita nikmati uang dari suami kita hehehe." Prilya menarik tangan perempuan itu menuju jejeran toko yang menjual bermacam-macam benda dan barang.
Devi tersenyum, ia setuju dengan perkataan Prilya. Mereka harus mensyukuri nikmat mempunyai suami-suami kaya. Selain menjaga harta suami, istri juga mempunyai tugas menikmatinya.
"Kak Dev, kita mau belanja apa ya?" tanya Prilya dengan wajah bingung. Tiba-tiba saja ia jadi tidak berselera belanja setelah cukup lelah keluar masuk toko.
"Lho, tadi sangat bersemangat, kok sekarang jadi gak berselera ya," ujar perempuan itu dengan senyum diwajahnya. Devi tersenyum, ia lantas berucap," Kalau gitu kita gak usah belanja, kita minum-minum saja di Cafe sana, gimana?" usul Devi karena ia juga tidak berselera lagi untuk berbelanja. Entah kenapa perasaannya sama dengan yang dialami oleh Prilya.
__ADS_1
"Mau minum apa Nya?" tanya Devi seraya membaca daftar menu di dalam Cafe itu.
"Ya Allah Kak Devi gak usah panggil Nyonya dong, kesannya kayak gimana gitu. Gak nyaman banget." Prilya memanyunkan bibirnya. Ia benar-benar tidak suka dengan panggilan formal seperti itu. Ia ingin santai.
"Hahaha, iya deh. Tapi saya takut sama suami kamu. Nanti saya gak dapat THR lagi," jawab Devi dengan tawa renyahnya. Bagaimana pun juga ia hanya seorang pekerja di Rumah keluarga Richard begitupun dengan suaminya meskipun mereka sekarang adalah keluarga dekat.
"Saya minum jus jeruk aja kak."
"1 jus jeruk dan 1 jus alpukat" ujar Devi kepada seorang pelayan yang sedang berdiri di depan mereka untuk mencatat pesanannya.
"Itu aja mbak?"
"Okeh makasih ya mbak, pesanannya akan segera datang," ujar pelayan itu kemudian meninggalkan meja mereka dengan langkah cepat.
"Lincah banget jalannya, kayak terbang hihhi," ujar Prilya cekikikan. Matanya terus menatap kepergian pelayan itu yang cepat sekali menghilang bagaikan punya ilmu terbang.
"Mereka bekerja benar-benar sangat efisien waktu. Ya time is money lah istilahnya." Devi berucap dengan mata ikut memandang kepergian pelayan itu.
"Maaf nih, Bisa gak gabung dengan mbak-mbak cantik ini?" tanya seorang perempuan cantik yang tiba-tiba saja berada dihadapan mereka. Dua perempuan itu tersentak kemudian memandang sosok yang sedang berdiri dihadapan mereka itu.
__ADS_1
Devi dan Prilya pun saling berpandangan. Mereka jadi ingat pesan suami mereka untuk tidak berinteraksi dengan orang yang tidak dikenal.
"Mohon maaf mbak. Kami sedang tidak ingin diganggu." Prilya langsung menjawab untuk menolak akses pada siapapun yang ingin bergabung dan menggangu waktu santai mereka berdua.
Nargya Martha merasa sangat kesal dengan perempuan muda yang ia tahu begitu dekat dengan mantan kekasihnya beberapa saat yang lalu itu. Akan tetapi ia sangat bisa menutupi kekesalannya. Ia pun tersenyum sangat ramah.
"Hum, lihatlah semua meja di dalam ruangan ini. Semuanya sudah terisi. Apakah mbak tega membiarkan saya berdiri saja?" Gadis itu pun mengajak mata kedua perempuan itu untuk berkeliling menjelajahi seluruh ruangan. Dan benar saja semua meja tiba-tiba sangat ramai dan penuh.
Rasa kemanusiaan mereka berdua langsung tertohok. Sedangkan Nargya Martha langsung tersenyum senang. Ia yakin sekali kalau rencananya kali ini tidak akan gagal.
"Oh, ya maaf. Silahkan duduk mbak." Prilya tersenyum kemudian mempersilahkan gadis itu untuk duduk.
"Terimakasih banyak ya. Aku rasa kamu adalah gadis yang baik." ujar perempuan itu dengan tangan menyentuh tangan Prilya.
Prilya tersentak kaget dan segera menarik tangannya. Ia merasa kalau perempuan cantik itu mempunyai maksud yang tidak baik padanya.
🌻🌻🌻
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya Okey?" Nikmat alurnya dan happy reading 😍