
"Prilya sayang, pulang shopping kok gak bawa apa-apa sih?" Elizabeth, sang ibu mertua langsung menjemput kedatangan Prilya dan Devi di depan pintu.
"Saya lagi sakit kepala Ma. Gak jadi belanjanya. Mau tiduran aja," jawab Prilya seraya mencium pipi kiri dan kanan ibu mertuanya itu. Elizabeth menatap Devi Aldiva memastikan istri dari Samuel Richard ini baik-baik saja atau tidak.
"Iya Nyonya. Nyonya muda-,"
"Dev, panggil saya Mama. Prilya juga adalah saudaramu. Jangan ikuti suamimu yang keras kepala itu." Elizabeth tampak tidak suka jika Devi selalu memanggilnya Nyonya.
"Ah iya, maafkan saya Ma. Prilya memang kurang sehat jadi kami berdua pulang duluan dan tidak menunggu para pria itu selesai meeting."
"Oh, sayang. Kalau begitu istirahatlah di kamarmu. Ibu Anita akan membawakan makanan untukmu Prilya."
"Terima kasih banyak Ma." Prilya pun pergi dari sana dengan berlari ke kamarnya di lantai 1. Rasanya ia masih sangat terluka jika mengingat bagaimana suaminya menghabiskan waktu yang sangat menyenangkan bersama dengan model cantik itu.
Ia merasa sangat jijik dan tak mau satu kamar lagi dengan suaminya untuk saat ini.
"Dev, apa ada yang ingin kamu ceritakan pada Mama?" Elizabeth yang melihat kalau menantunya itu tidak naik ke lantai dua jadi mencurigai sesuatu.
"Anu Ma, itu yang mantan Miss World baru menemui Prilya dan mengatakan sesuatu yang sangat menyakitkan."
"Apa? Nargya Martha menemui Prilya?" Mata perempuan paruh baya itu langsung melotot tak percaya.
"Iya Ma. Dan Prilya sangat terluka." Devi menunduk. Ia sendiri merasakan perasaan terluka dengan apa yang telah dilakukan oleh perempuan itu.
"Kurang ajar itu si Martha!" Elizabeth mengumpat dengan wajah memerah karena marah.
__ADS_1
"Perempuan itu sepertinya tidak menerima kalimat penolakan dengan halus," lanjutnya dengan seringai diwajahnya. Ia paling tidak suka kalau ada hama yang berani mengganggu kebahagiaan keluarganya.
"Kamu temani Prilya ya Dev, jangan biarkan ia bersedih." Perempuan itu pun memandang wajah Devi Aldiva sementara ia ingin melakukan sesuatu.
"Baik Ma, saya akan menemani Prilya."
"Makasih sayang. Kalian adalah istri-istri yang baik. Para pria itu memang sering nakal tapi kamu jangan khawatir. Saya akan menarik kuping mereka berdua jika berani macam-macam.
"Iya Ma. Saya mengandalkanmu," ujar Devi dengan senyum diwajahnya. Sungguh ia sangat senang mempunyai seorang ibu mertua yang sangat baik seperti ini. Rasanya hidupnya sudah sangat sempurna sekarang.
"Pergilah ke kamar Prilya. Ajak ia bicara. Jangan sampai ia memikirkan hal-hal yang buruk sayang. Itu akan membuat jin atau setan jadi gampang merasuki jiwanya." Elizabeth pun meninggalkan Devi yang sedikit bingung dengan kata-kata ibu mertuanya itu. Ia tiba-tiba merasakan kulitnya meremang. Dengan cepat Devi pergi dari tempat itu dan menuju ke kamar Prilya. Ia jadi takut jika Mama mertuanya berbicara tentang jin dan juga syetan.
Elizabeth segera naik ke mobilnya dan mengendarainya sendiri ke sebuah Pondok Pesantren yang tidak jauh dari rumah kediamannya. Sejak pagi tadi ia sudah gelisah dan juga was-was.
Ciiit
"Assalamualaikum Kyai. Saya mohon maaf karena telah mengganggu istirahat Kyai." Eliza Richard menundukkan wajahnya dengan perasaan tak nyaman. Ia sangat malu karena datang bertamu tanpa memberi tahu terlebih dahulu. Apalagi sekarang ini adalah waktu istirahat.
"Waalaikumussalam. Tidak apa. Saya mengerti kalau Bu Eliza pasti sedang merasakan sesuatu yang mengganjal hatinya 'kan?"
Eliza mengangkat wajahnya kemudian memaksa bibirnya untuk tersenyum.
"Ceritakan apa yang terjadi." Lanjut Kyai H. Ahmad dengan sabar.
"Semalam saya bermimpi yang sangat aneh dan menakutkan Kyai. Ada seekor ular besar memasuki rumah kami." Eliza menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Sungguh ia masih merasa sangat nyata dengan ular itu. Rasanya tidak seperti sebuah mimpi. Kyai H. Ahmad mendengarkan dengan sabar. Ia tidak menyela dan tetap menunggu sampai cerita Ibu Eliza itu selesai.
__ADS_1
"Dan tadi pagi, Yani menemukan paket di depan pintu rumah yang berisi foto Sam, putra saya penuh dengan darah. Saya sangat takut kyai. Mohon doanya agar hal-hal yang tidak diinginkan itu jauh dari keluarga kami."
"A'udzu billahi minassyaitonirrojim. Mintalah perlindungan kepada Allah agar kita semua terhindar dari gangguan jin dan juga manusia yang mungkin mempunyai niat yang tidak baik."
"Iya Pak Kyai."
"Hanya kepada Allah kita berlindung. Rumah ibu insyaallah akan jauh dari hal buruk yang disengaja maupun yang tidak disengaja jika didalamnya selalu ada bacaan Alquran."
"Dekatkan diri pada Allah. Dan ingat untuk selalu menjaga keharmonisan dalam keluarga. Karena jika ada celah sedikit saja. Maka hal-hal yang seperti itu akan gampang masuk dan merusak."
"Pastikan putra Ibu selalu saling menyayangi dengan istrinya. Tak boleh ada rasa tidak percaya diantara keduanya. Dan jangan lupa untuk tidak meninggalkan sholat. Karena shalat adalah benteng atau pondasi bagi orang yang beriman."
"Iya Kyai."
"Selalulah membaca tak pernah putus tiga surah dalam Alquran itu sebelum tidur. Kul Hualllah. Kul a'udzu birobbil Falaq, dan juga kul audzu birobbin nas."
"Iya Kyai. Insyaallah akan kami amalkan itu setiap sebelum tidur."
"Dan sekarang pergilah cari putramu. Ia mungkin sedang bersama dengan sumber masalah ini." Eliza terhenyak. Rasa was-wasnya semakin menjadi-jadi.
🌻🌻🌻
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😍