Tawanan Hati Sang Musuh

Tawanan Hati Sang Musuh
Bab 46 Keinginan Ardina


__ADS_3

Samuel Richard meraih Prilya kedalam pelukannya. Ia ingin memberikan penghiburan dan kekuatan pada istrinya itu kalau semua akan baik-baik saja. "Jangan nangis sayang, kita akan melakukan apa saja yang penting ayah sembuh," bujuk pria itu dengan tangan mengelus lembut punggung sang istri.


Daren tersenyum melihat sahabatnya bisa selembut itu pada seorang perempuan. Selain Nargya Martha, tak ada perempuan yang pernah diperlakukan seperti itu olehnya.


"Profesi seperti kami ini akan terus berusaha memberikan pelayanan yang terbaik pada pasien. Sedangkan penentu kesembuhan adalah milik Allah semata, jadi usaha dan doa tetap sejalan," ucap Daren untuk lebih meringankan rasa sedih dan takut yang dirasakan oleh istri dari sahabatnya itu.


"Jadi kapan operasi pemasangan ringnya itu."


"Kalau kondisinya membaik maka sekitar sebulan atau lebih barulah kita bisa melakukan operasi semacam itu."


"Baiklah Ren, kami permisi. Istriku ini sepertinya perlu istirahat dan relax dulu. Ia terlalu tegang dan banyak pikiran. Terima kasih banyak ya Ren."


"Sama-sama," ucap Daren dengan senyum diwajahnya. Samuel pun meraih tangan istrinya agar berdiri dari duduknya dan mengikutinya keluar dari ruangan dokter itu.


"Hum Cinta. Ada banyak cinta di mata Sam untuk gadis itu. Apa mungkin sama dengan cintaku pada Felicia?" gumam dokter itu dengan senyum diwajahnya. Tiba-tiba saja ia jadi sangat rindu pada janda beranak satu itu. Dengan cepat ia menghubungi Felicia agar menemuinya di kantor direktur.


Sementara itu, Asna dan Ardina hanya bisa terpaku diam di depan ruangan ICU itu. Mereka merenungi hidup mereka kedepannya jika nyawa Sofyan tak lagi bisa diselamatkan.


Sampai saat ini kondisi pria itu masih belum bisa dijenguk karena harus steril dari pengaruh orang luar. Ia masih berada di dalam sebuah ruangan tertutup sampai kondisinya stabil.


"Bu, apa yang harus kita lakukan nantinya? Saya juga ingin kuliah di Universitas sedangkan kita tidak punya pekerjaan." Ardina menatap ibunya dengan perasaan yang sangat kacau.


Hari ini ia telah selesai ujian Sekolah. Semua temannya sudah mendaftar di perguruan tinggi negeri sedangkan dirinya tidak punya uang untuk melanjutkan pendidikan.

__ADS_1


"Ibu tidak tahu juga Din. Pengobatan Ayahmu saja ditanggung oleh nak Sam, suami Prilya. Sekarang ibu pusing. jadi jangan tambah sakit kepala ibu dengan rencanamu untuk melanjutkan pendidikan lagi."


Asna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia menangisi nasibnya saat ini. Ardina pun ikut bersedih. Gadis itu tidak mungkin memohon pada Prilya agar mau membiayai kehidupan mereka berdua kedepannya.


Mereka sadar kalau sudah terlalu banyak membuat Prilya menderita. Dan sekaranglah saatnya mereka menyesali perbuatan mereka.


"Ibu, apa saya harus meminta maaf pada Prilya?" tanya Ardina pada sang ibu yang masih menekuri lantai dihadapannya.


"Bukan cuma kamu Din. Ibu juga ingin meminta maaf padanya. Sekarang ibu sangat pusing. Ibu tidak tahu apakah ini yang dinamakan dengan hukum karma Din?" Asna balik bertanya. Perempuan paruh baya itu menatap putri satu-satunya itu dengan perasaan yang sangat sedih.


Ia pikir dengan menikah dengan Sofyan maka kehidupannya akan lebih baik tetapi ternyata tidak. Pria itu suka berjudi dan akhirnya beginilah akhir dari kehidupan mereka.


"Bibi, bagaimana keadaan paman Sofyan?" Dua perempuan beda usia itu tersentak kaget dengan kedatangan Praja Wijaya.


"Kebetulan saya bawa Mama untuk kontrol dan saya lihat Bibi dan Dina disini. Saya pikir ini pasti karena paman Sofyan." Praja pun ikut duduk dihadapan mereka berdua.


"Bagaimana keadaan paman Bibi?" Praja kembali bertanya karena ia benar-benar ingin tahu bagaimana perkembangan kesehatan pria paruh baya yang lumayan dekat dengannya itu.


"Belum ada kemajuan nak. Tapi saat ini obat-obatan terbaik sudah disuntikkan kedalam tubuhnya."


"Apa Prilya tahu hal ini Bibi?" tanya pria itu hati-hati.


"Iya nak. Suaminya yang mengusulkan untuk membawa Mas Sofyan dirujuk ke Rumah Sakit." Asna menjawab dengan senyum diwajahnya.

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu Bibi. Semoga paman lekas sembuh. Rumah sakit ini adalah Rumah Sakit tebaik di negara ini."


"Aamiin, aamiin. Semoga Allah mendengar doa kita nak." Asna menyapu wajahnya berharap Sofyan sembuh dari penyakit yang dideritanya.


"Din, gimana ujian kamu? Dah selesai 'kan?" tanya pria itu pada Ardina yang sejak tadi diam saja. Ya, sejak pria itu menolaknya secara langsung ia sudah mulai tahu diri dan tidak memaksakan keinginannya lagi.


"Din? Kok diam saja?"


"Eh, iya Kak. Saya sudah selesai ujian. Alhamdulillah karena ujian sudah selesai terus ada kejadian seperti ini."


"Ah iya. Rencana kamu mau kuliah dimana Din?" Ardina hanya bisa tersenyum meringis. Baru saja ia dan ibunya saling bercerita tentang hal itu dan sekarang Praja malah menanyakannya lagi.


"Belum tahu nih kak. Kami juga tidak ada biaya untuk lanjut ke Universitas. Ayah sedang sakit kak," jawab gadis itu dengan suara rendah. Ia menundukkan wajahnya seraya meremas jari-jarinya.


Praja tersenyum. Ia ikut prihatin dengan apa yang terjadi pada keluarga kecil itu.


"Kamu mau kerja gak di Perusahaan saya? Kamu juga bisa kuliah sambil kerja," tawar pria itu dengan harapan bisa membantu dengan cara seperti itu.


🌻🌻🌻


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2