Tawanan Hati Sang Musuh

Tawanan Hati Sang Musuh
Bab 28 Sugar Baby


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Prilya sudah bangun. Setelah mandi ia segera berpakaian untuk pergi ke sekolahnya. Ujian praktek dihari pertama ini harus ia hadiri atau ia akan mendapatkan teguran lagi.


Rambut panjang sebahunya ia ikat tinggi-tinggi dengan satu jepitan kecil dibagian poninya. Ia tersenyum di depan cermin dengan perasaan yang sangat bahagia.


Bedak tipis ia sapukan pada wajahnya berikut liptin ia berikan pada bibirnya. Perlahan ia menjilati bibir nya yang ia rasakan masih membengkak karena perbuatan Samuel Richard semalam.


Dadanya kembali berdebar kencang dengan senyum tak pernah luntur dari wajahnya. Sungguh ia sangat senang pagi ini dan ia sudah begitu rindu pada sosok pria tampan yang telah menjadi suaminya itu.


"Makasih banyak Kak Dev," ujarnya pelan karena tiba-tiba mengingat guru privatnya yang telah memilihkan semua benda yang sedang ia pakai saat ini. Ia berputar-putar lagi di depan kaca karena merasa sangat cantik dengan seragam sekolah baru yang dipakainya.


"Ah, sudah. Kamu sudah lama disini Pril. Kamu tidak takut terlambat Hah?" tanyanya pada dirinya sendiri. Dengan segera ia pun mengambil tasnya dan segera keluar dari kamar itu. Ia menuju ruang makan dan bersiap untuk sarapan sebelum berangkat.


"Selamat pagi Nyonya, anda cantik sekali," sapa Anita seraya mempersalahkannya duduk di samping Samuel Richard sang suami.


"Selamat pagi Bu An, terima kasih ya." Prilya duduk dengan tenang. Setelah itu ia memandangi suaminya yang sedang asyik dengan sarapan roti isi daging dan segelas susunya.


Pria itu mengabaikannya dan tidak menegurnya samasekali. Prilya hanya tersenyum kemudian berucap," Apa saya boleh makan juga disini Tuan?"


Samuel Richard tidak menjawab. Ia benar-benar sedang tidak bersemangat pagi ini. Semalaman ia harus tersiksa menahan hasrat yang hampir membunuhnya. Ia juga memikirkan gadis itu yang telah bertemu dengan mantan kekasih yang ingin menebusnya dari dirinya.


"Baiklah. kalau begitu, Apa saya boleh meminta Bu Anita membuat bekal untukku Tuan? Saya akan sarapan di sekolah saja." Prilya kembali berucap dengan suara pelan. Saat ini ia sudah mulai merasa tak nyaman dengan tingkah pria itu padanya.


"Makanlah dengan cepat dan jangan terlalu banyak bicara! Saya juga hampir telat." Samuel Richard akhirnya mengeluarkan suaranya juga. Ia menatap tajam gadis manis dihadapannya itu tanpa ekspresi.


"Ah iya Tuan. Baiklah." Prilya menurut, ia pun mengisi piringnya dengan nasi putih dan segera makan. Tak ada lagi suara dimeja makan itu. Mereka berdua seakan sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Alhamdulillah, saya sudah selesai, Tuan."


"Minum susunya dulu!" Pria itu memberikan segelas susu yang ia tuangkan sendiri kedalam gelas istrinya itu.


"Tapi saya sudah kenyang Tuan."


"Tidak boleh menolak. Susah saya bilang kalau tubuhmu itu masih perlu nutrisi yang banyak dan bergizi."


"Ah iya Tuan. Baiklah." Prilya langsung meraih satu gelas susu itu dan meminumnya hingga tandas.

__ADS_1


"Kita berangkat sekarang juga." Samuel Richard pun berdiri dari duduknya dan segera meninggalkan Prilya yang masih terbengong-bengong.


"Maksudnya apa itu? Kita berangkat bersama?" Gadis itu bertanya pada dirinya sendiri kemudian ikut melangkahkan kakinya keluar. Bu Anita ikut dibelakangnya dengan membawa bekal makan siang nanti di sekolah.


Prilya terpaku di depan rumah mewah itu karena mendapati suaminya sudah duduk diatas mobil untuk menunggunya.


"Ayo naik!"


"Ah iya Tuan."


Apa pria ini akan mengantarku ke sekolah pagi-pagi begini?


Tadi ia nampak marah dan mengabaikanku. Apa sekarang ia mempunyai niat yang tidak baik?


Prilya pun masuk kedalam mobil itu dan duduk di bagian belakang berdampingan dengan suaminya karena yang duduk di depan adalah Black.


"Berangkat Black!" titah pria itu pada sang asisten. Kendaraan mewah itu pun berangkat ke sekolah Prilya menembus pagi yang masih gelap. Maklumlah jarak sekolah dan juga Rumah mereka harus ditempuh berjam-jam.


Sepanjang perjalanan itu Prilya duduk dengan memperhatikan pemandangan sepanjang jalan yang mereka lalui. Gadis itu merasakan hatinya menghangat. Rasa syukur tak bisa lagi ia ucapkan atas nikmat yang Tuhan berikan ini padanya.


"Kamu akan tinggal di sebuah Hotel selama ujian berlangsung." Samuel Richard berbicara saat mereka sudah sampai di depan gerbang sekolah istrinya itu.


Untuk apa ia tinggal di hotel? Apa pria itu ingin membuangnya dan tidak membiarkannya lagi tinggal bersamanya?


"Turunlah. Devi akan datang membawakan perlengkapan untukmu." Samuel Richard berucap dengan nada dingin.


"Terimakasih banyak Tuan." Prilya pun turun dari mobil itu dengan perasaan campur aduk. Harusnya hatinya sangat senang karena akan bertemu dengan teman-temannya di sekolah.


Akan tetapi ekspresi yang ditampilkan oleh pria yang sudah menjadi suaminya itu benar-benar membuatnya khawatir.


Kenapa Tuan Richard begitu berbeda dengan semalam?


Apa ia sedang marah padaku?


Bugh

__ADS_1


Gadis itu tersentak dari lamunannya karena Black tiba-tiba saja menutup pintu mobil dengan keras dihadapannya.


"Nikmati hari anda Nyonya. Devi akan datang saat jam pulang tiba." Black berucap kemudian naik ke atas mobil dan segera melajukan kendaraan mewah itu. Dua pria itu meninggalkan dirinya sendirian di depan gerbang sekolah tanpa ada basa-basi lagi.


Prilya menarik nafas panjang dan berusaha untuk berprasangka baik. Ia pun melangkahkan kakinya ke dalam lingkungan sekolah dan mencari kelasnya berada.


"Hai Pril," sapa beberapa teman kelasnya dengan tatapan takjub pada sosok gadis cantik dihadapan mereka.


"Oh Hai." Prilya membalas mereka dengan senyum lebar diwajahnya. Ia bahkan meraih teman-temannya itu kedalam pelukannya dengan perasaan yang sangat senang.


"Kamu dari mana saja Pril?"


"Pakaian sekolah baru ya?"


"Parfummu juga harum banget."


"Kamu dah gak tinggal di rumah ibu tirimu lagi?"


Berbagai macam pertanyaan muncul dari mulut mereka semua. Sedangkan Prilya hanya tersenyum dan tak berminat menjawab pertanyaan mereka.


"Pril, kamu kok gak jawab sih? Ayo dong ceritakan pada kami."


"Gimana mau cerita, kalau dia tuh udah jadi sugar baby, simpanan om-om kaya." Ardina tiba-tiba saja muncul dihadapan mereka semua dan menjawab apa yang mereka ingin ketahui.


"Din! Ngomong apa kamu?!" tantang Prilya dengan wajah tak sukanya.


"Lho, memang benarkan? Kamu pergi dari rumah karena ada pria kaya yang mampu memberimu barang mewah seperti ini!" Ardina mengangkat tas sekolah saudara tirinya itu ke atas udara kemudian melemparnya ke lantai kelas.


Prilya tidak menjawab, ia hanya cepat-cepat mengambil tasnya itu dan membersihkannya. Ia adalah tipe orang yang suka menjaga pemberian orang lain. Ya, semua barang mewah yang ia pakai adalah pemberian suaminya yang tidak boleh dirusak.


"Ayo jawab pertanyaan teman-teman Pril!" Tantang Ardina lagi. Prilya nampak berpikir. Ia tidak mungkin menjawab kalau ia sudah menikah diusia sekolah seperti saat ini.


🌻🌻🌻


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2