Tawanan Hati Sang Musuh

Tawanan Hati Sang Musuh
Bab 49 Bertemu Mama Mertua


__ADS_3

Prilya masih betah duduk di antara dua makam itu. Antara makam ibu dan juga makam Ayahnya. Air matanya masih saja meleleh seolah tak pernah kering.


Gadis manis berusia 18 tahun itu memandang dua makam itu dengan hati teriris sakit. Ia merasa kalau Tuhan tidak adil padanya. Ketika ia baru saja akan merasakan bahagia, dua orang yang paling dekat dengannya justru dibawa kembali oleh yang kuasa.


Samuel Richard sudah memintanya untuk kembali pulang tapi sepertinya ia tidak ingin meninggalkan tempat itu. Ia masih sangat rindu dengan kedua orangtuanya. Rasa rindu yang tak akan bisa diobati karena tidak bisa lagi bertemu secara fisik.


Rasanya masih sangat segar ingatannya pada dua sosok itu yang sangat mencintai dan menyayanginya delapan tahun yang lalu. Sebuah keluarga kecil yang sangat bahagia sebelum musibah itu datang.


"Ibu, ayah, Prilya sayang kalian. Semoga Allah mengampuni dosa kalian. Melapangkan kubur kalian, dan menyayangi kalian seperti kalian menyayangiku sewaktu masih kecil, aamiin ya Allah." Gadis itu berdoa dengan rasa sedih yang masih menggumpal di dalam hatinya.


Gadis itu menarik nafasnya panjang untuk memberikan ruang pada dadanya. Akan tetapi air matanya masih saja terus menyeruak keluar dari pelupuk matanya.


Rasa sedihnya belum juga berkurang meskipun ia berusaha menghibur dirinya kalau ia mempunyai suami yang baik dan menyayanginya.


Statusnya sekarang adalah yatim piatu. Dua orang ibu bapaknya sudah kembali ke asalnya dan meninggalkannya dalam kesan yang sangat mengharu biru.


"Hiks, ayah, ibu," ujarnya pelan seraya menyentuh batu nisan keduanya. Samuel Richard yang sejak tadi memperhatikannya jadi ikut trenyuh. Ia tidak tahan melihat istrinya seperti itu. Benar kata pemuka agama yang pernah ia dengar. Perempuan sebaiknya tidak ikut ke pemakaman karena perasaannya sering labil dan sangat gampang terbawa perasaan.


Pria itu pun segera meraih tubuh istrinya itu dan menggendongnya ke mobil nya Prilya sudah nampak sangat lemas dan hampir tak sadarkan diri. Mungkin saja dikarenakan seharian ini gadis itu tak juga mau makan sesuatu pun. Ia hanya menangis saja sampai saat ini.


"Kita pulang sekarang Pril, kondisimu sangat tidak baik-baik saja." Samuel Richard meletakkan istrinya itu di atas jok mobilnya dan memerintahkan Black untuk kembali pulang.


"Jalan Black!"


"Baik Tuan."


"Bagaimana dengan Ibu dan Dina Kak. Mereka akan pulang kemana?" tanya gadis itu dengan wajah sembabnya.


"Ibu dan Dina ikut pulang bersama dengan kita ke rumah. Mereka ikut bersama dengan mobil Praja."


"Oooh," hanya itu kata yang bisa terucap dari mulut gadis itu. Ia lantas menutup matanya karena merasa kepalanya sangat sakit.


"Kamu makan dulu ya," ujar Samuel seraya mengelus lembut kepala isterinya itu. Prilya tidak bereaksi. Kepalanya sungguh ia rasakan sangat berat. Ia hanya ingin tidur saja. Perlahan ia menyimpan kepalanya pada bahu suaminya.


"Cari tempat makan Black."

__ADS_1


"Iya Tuan."


"Saya tidak mau makan, maunya tidur saja."' Prilya menolak. Ia benar-benar tak ada selera makan saat ini. Akan tetapi Samuel tidak mau mendengarkan perkataan istrinya itu. Prilya harus makan agar tidak terkena asam lambung.


"Kamu harus makan supaya perasaanmu membaik. Ini karena perutmu belum terisi makanan sedikit pun." Samuel memaksa sedangkan Prilya hanya memeluk suaminya dengan meletakkan kepalanya di dada pria itu.


Tak berapa lama kemudian. Black menghentikan mobilnya di sebuah Restoran. Mereka semua sebenarnya juga sangat lapar. Mau tidak mau Prilya akhirnya makan karena suaminya benar-benar memaksanya.


"Sudah Kak. Saya bisa sendiri. Malu sama Kak Devi dan Tuan Black." Prilya melirik dua orang yang berbeda jenis kelamin itu yang sepertinya tidak terganggu dengan kegiatan mereka.


"Dua orang itu tidak akan peduli sayangku, mereka sedang jatuh cinta jadi dunia ini serasa milik mereka berdua," ucap Samuel Richard dengan suara yang agak dikeraskan. Sengaja untuk menyindir dua orang yang sedang kasmaran itu.


"Nah benarkan, kita ini hanya jadi tukang ngontrak saja." ujar pria itu lagi dengan nada menyindir.


"Uhuuk Uhuuk." Devi langsung terbatuk-batuk karena merasa sedang diperhatikan.


"Minum Dev," ujar Black dengan cepat. Ia memberikan segelas untuk Devi. Prilya tanpa sadar langsung tertawa melihat dua orang itu yang tiba-tiba jadi salah tingkah.


"Hahaha, kak Dev. Ada kemajuan nih!" Devi merasakan pipinya menghangat. Ia malu. Sedangkan Black sendiri langsung merubah ekspresinya menjadi datar.


Samuel Richard dan istrinya tak bisa lagi menahan tawanya. Untuk beberapa saat gadis itu melupakan kesedihan yang dialaminya seharian ini.


🌻


Seorang perempuan cantik berusia sekitar 50 tahun menjemput mereka semua di depan pintu rumah kediaman keluarga Richard. Perempuan itu langsung meraih Prilya kedalam pelukannya dan membuat gadis itu sangat heran.


"Maafkan kami ya sayang, karena baru tiba di tanah air dan tidak ikut mengantar ayahmu ke peristirahatannya yang terakhir." Prilya bingung. Ia tidak tahu siapa perempuan cantik yang sedang memeluknya.


Gadis itu menatap suaminya meminta penjelasan. Sedangkan Samuel dan juga Black hanya bisa tersenyum. Mereka sepertinya sedang tidak ingin menjawab rasa bingung gadis manis itu.


Elizabeth memandang dua pria keluarga Richard itu dengan tatapan kesal.


"Dasar kalian nakal!"


Samuel langsung menghampiri dua orang kesayangannya itu dan memeluknya.

__ADS_1


"Saya ini mama mertuamu sayang. Memangnya suamimu tidak pernah bercerita kalau dia mempunyai mama yang sangat cantik seperti saya?" Prilya sekali lagi terpaku dalam beberapa detik. Setelah itu ia tersenyum malu. Ia saja baru akrab dengan pria yang telah menikahinya itu. Ia belum sempat bertanya-tanya tentang hal yang pribadi kepadanya.


"Panggil saya Mama sayang." Elizabeth menatap Prilya meminta gadis itu melakukan apa yang ia inginkan.


"Mama?"


"Iya, saya Mamamu. Dan sekarang kamu istirahat dulu. Ibumu dan saudara mu sudah berada di dalam kamar mereka."


"Ah iya Mama. Terima kasih banyak." Prilya tersenyum kemudian meraih tangan perempuan cantik itu dan mencium punggung tangannya.


"Wah, kamu sopan sekali sayang. Mama jadi semakin senang punya menantu seperti kamu." Prilya kembali merasakan pipinya menghangat. Ia sangat bahagia dan bersyukur. Ternyata ia mempunyai mama baru pengganti mamanya.


"Papa mertua mu belum bisa datang sayang. Ada banyak pekerjaan yang harus ia lakukan di negaranya. Tapi tidak apa, ia mengirim salam untukmu sayang."


"Ah iya Mama. Terimakasih banyak."


"Sam, bawa istrimu beristirahat sayang." Elizabeth pun meminta putranya itu untuk membawa Prilya beristirahat. Ini sudah sangat larut.


"Makasih Mama, karena sudah mau datang." Pria itu mencium pipi Ibunya dengan perasaan senang.


"Kami sebenarnya sudah lama ingin pulang untuk merayakan pernikahanmu tapi ya, papamu sedang sangat sibuk saat ini."


"Tidak apa Mama. Saya dan Prilya sudah sangat senang karena mama bisa datang."


"Sudah, nanti kita lanjutkan ngobrolnya. Sekarang kamu ke kamar. Prilya pasti sangat lelah."


Samuel pun segera berlalu dari hadapan Ibunya bersama dengan Prilya. Sungguh,. bukan cuma isterinya yang ingin beristirahat. Tubuhnya juga sangat lelah.


"Dan kamu Black? Siapa gadis yang ada di sampingmu, apa kamu tidak ingin memperkenalkannya pada Mama?" Elizabeth menatap Black dan Devi dengan tatapan tajam.


🌻🌻🌻


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2