Tawanan Hati Sang Musuh

Tawanan Hati Sang Musuh
Bab 42 Ternyata Ada Di Rumah Sakit


__ADS_3

"Terimakasih banyak Tuan. Sekarang saya tidak akan dibayang-bayangi lagi oleh Rendra," ucap Devi saat mereka semua kembali pulang ke hotel setelah urusan mereka dengan mantan suaminya telah beres.


"Kamu pantas bahagia Dev, suami seperti itu tidak bisa dikasih ruang sedikit pun untuk menghirup udara segar di Dunia ini." Samuel Richard menjawab dengan senyum diwajahnya.


"Dan sekarang kamu sudah bebas. Kamu bisa membuka lagi hatimu untuk orang yang mengharapkan mu," lanjut pria itu lagi. Devi tersenyum lalu menjawab, " Insyaallah Tuan. Saya tidak trauma tapi mungkin akan memberi waktu hati ini untuk meminta yang terbaik pada Tuhan. Saya sering takut dikecewakan lagi."


"Kalau pria itu mengecewakan kamu, lapor saja padaku. Saya akan memberinya surat peringatan yang sangat kejam, hahaha!" Tawa pria itu langsung bergema di dalam kotak besi berbentuk mobil itu. Ia melirik ke arah Black yang hanya diam saja sejak tadi.


"Ah iya lupa. Kita jemput istriku di sekolahnya Black." Pria itu baru sadar, kalau rencananya menjemput Prilya jadi terlewatkan.


"Ini sudah jam 3 sore Tuan. Semua orang pasti sudah pulang." Black menjawab dengan tatapan masih berada pada jalanan dihadapannya.


"Ah ya ampun. Kita terlalu sibuk sampai melupakan Prilya." Samuel Richard langsung merasakan hatinya tak nyaman. Ia pun meraih smartphonenya kemudian menghubungi istrinya lewat alat komunikasi itu.


Tuuut


Tuuut


Pria itu menatap layar handphonenya dengan perasaan kesal. Nomor yang ia hubungi tidak aktif. Akhirnya ia ulangi lagi dan tetap saja tidak tersambung.


"Ada apa ini, kenapa Prilya tidak mengaktifkan nomor handphonenya?" gumamnya pelan dengan perasaan campur aduk. Ada rasa khawatir yang tiba-tiba muncul dari dalam hatinya. Samuel tidak menjawab. Ia hanya berusaha untuk menghubungi sang istri lewat benda elektronik itu.


"Ada apa Tuan? Semuanya baik-baik saja?" Black bertanya karena merasa pria disampingnya ini sedang tidak baik-baik saja.


Devi yang sedang memperhatikan percakapan dua orang dihadapannya ini langsung berinisiatif menghubungi Prilya sendiri tapi ternyata nomor itu pun tidak merespon panggilannya.


"Ada apa ya? Kenapa Prilya tidak juga mengaktifkan handphonenya padahal ini kan bukan waktunya untuk belajar. Gadis itu sudah selesai ujian sekolah juga."


"Ahay, Kang Harun. Sopir itu pasti sudah menjemput Nyonya muda kembali ke Hotel." Devi langsung mencari nomor sopir pribadi keluarga Richard yang sudah beberapa hari ini menginap di hotel bersama dengan mereka.


"Assalamualaikum Kang" sapanya saat panggilan itu sudah tersambung.


"Waalaikumussalam. Ya saya neng. Apakah anda ingin dijemput di suatu tempat?" tanya pria paruh baya itu dari ujung telepon.


"Tidak Kang. Saya cuma ingin menanyakan tentang Nyonya muda. Apakah dia sudah pulang dari sekolah?"


"Nyonya sudah lama pulang dan sekarang sedang berada di sebuah tempat rekreasi di kota ini."


"Untuk apa nyonya muda di tempat itu Kang?"

__ADS_1


"Katanya ada acara perpisahan begitu Neng. Dan ia minta dijemput setelah sholat ashar."


"Oh begitu ya? Sekarang akang dimana?"


"Sudah ada ditempat yang dimaksud Nyonya muda, tapi kok disini rusak ada orang ya. Sudah sepi."


"Hah? coba Sharelock kang. Kami akan kesana sekarang juga." Devi langsung merasa tidak nyaman dengan apa yang didengarnya. Ia jadi sangat khawatir saat ini.


Tring


Gadis itu segera membuka pesan yang masuk dari Kang Harun.


"Tuan, kita ke tempat ini. Kata Kang Harun. Nyonya muda sedang berada di sebuah tempat dalam rangka acara perpisahan sekolah." Black tidak menunggu penjelasan yang lama lagi. Ia pun segera menuju tempat yang dimaksud. Letaknya tidak begitu berjarak dengan posisi mereka sekarang.


"Cepatlah Black!" Samuel Richard meminta Black mempercepat laju kendaraannya. Entah kenapa ia begitu khawatir dengan keadaan istrinya itu. Black mengikuti kemauan Tuannya. Ia pun menambah kecepatan laju kendaraannya itu.


Tak lama kemudian mereka pun sampai. Samuel dan Devi langsung turun dari mobil dan mendatangi Kang Harun.


"Dimana Nyonya Prilya?"


"Saya tidak tahu Tuan. Saya cuma diminta untuk menjemputnya disini." Kang Harun menjawab dengan menundukkan kepalanya sopan.


"Kamu sudah masuk mencarinya ?!" Samuel bertanya lagi untuk mengobati rasa khawatirnya.


Samuel Richard tidak lagi mendengar kata-kata sopir pribadi istrinya itu. Ia langsung berlari ke dalam pos penjaga tiket yang berada di depan pintu gerbang tempat rekreasi itu. Devi dan Black mengikut dibelakangnya.


"Apakah ada pengunjung yang datang dari SMA negeri 1 Pak?" tanya Devi dengan cepat pada pria penjaga tiket itu.


"Oh iya ada mbak."


"Terimakasih banyak. Kami juga mau tiket sebanyak 3 orang dewasa."


"Ah iya ini." Pria itu pun segera memberikan potongan tiket masuk ke tempat itu kepada Devi. Setelah membayar mereka pun memasuki tempat yang lebih mirip dengan lokasi outbound dan juga kebun binatang."


"Apa tidak ada tempat yang lain yang lebih bagus dari ini untuk sebuah acara perpisahan sekolah?" tanya Samuel Richard dengan wajah meringis. Sungguh ia sangat bingung dengan pemberi ide tempat perpisahan ini. Devi dan Black hanya bertatapan kemudian tersenyum.


Mereka terus berusaha mencari kumpulan anak SMA yang mungkin sedang menikmati acara perpisahan itu.


"Mereka dimana ya?" tanya Devi dengan ekspresi yang tampak sudah lelah. Maklumlah lokasi tempat wisata itu sangat luas.

__ADS_1


"Kamu istirahat saja disana. Kami yang akan mencarinya." Black meminta pada Devi agar duduk di sebuah Gazebo yang terdapat di sekitar kolam renang.


"Ah iya Tuan. Saya juga akan menghubungi Isnur. Pasti ia juga berada di sini."


"Siapa Isnur?"


"Isnur itu ketua kelasnya Nyonya Prilya, Tuan. Saya yakin ia juga ikut berada di tempat ini."


"Kamu kenal dimana Isnur itu Hem?" Devi tidak ingin menjawab pertanyaan pria yang kurang ekspresi itu. Ia hanya mencari nomor handphone Isnur sesegera mungkin.


"Halo Is?" Devi tersenyum karena pria muda itu ternyata langsung menjawab tidak pakai lama.


"Ya ada apa ya Kak?" tanya Isnur dari ujung telepon.


"Kamu ada di tempat wisata ini gak?"


"Iya Kak."


"Dimana Prilya?"


"Prilya? Tadi anak itu sudah pulang duluan. Katanya Ayahnya sedang sakit dan dibawa ke rumah sakit kak."


"Okey deh. Makasih banyak ya Isnur. Kami semua sangat khawatir dibuatnya."


"Iya Kak."


Devi pun menutup panggilan itu dan kemudian memandang dua orang pria tampan yang nampak sangat khawatir itu.


"Kita pulang saja Tuan. Nyonya muda sedang ada di rumah sakit."


"Ada apa ? Apa ia sedang sakit Dev?"


"Katanya Ayahnya sedang sakit Tuan."


"Black kita kesana sekarang!"


🌻🌻🌻


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2