Tawanan Hati Sang Musuh

Tawanan Hati Sang Musuh
Bab 33 Pengukuran Tubuh


__ADS_3

Elizabeth Richard duduk dengan anggun di depan Nargya Martha sore itu. Secangkir teh hangat ia seruput dengan sangat elegan sesuai budaya keluarga bangsawan Inggris pada umumnya.


"Katakan apa yang membuatmu datang ke Inggris jauh-jauh seperti ini Martha?" tanya Elizabeth dengan tatapan lurus pada gadis cantik dihadapannya.


Nargya Martha menyeruput teh hangat beraroma melati itu dengan gaya yang sama dengan yang dilakukan oleh perempuan berdarah Indonesia itu. Setelah itu ia balas menatap wajah perempuan cantik dihadapannya dengan wajah dibuat merajuk.


"Aku ingin mengadukan putramu bibi."


"Putra yang mana Martha? Samuel atau Black?" tanya Elizabeth dengan alis terangkat.


"Ah bibi, kamu bercanda ya? Putramu kan hanya Samuel Richard. Dan Black hanya seorang pelayan yang harus patuh pada keluarga Richard."


"Heh jangan bicara seperti itu Martha. Black adalah putraku juga. Saya tidak pernah membeda-bedakan mereka berdua. Hanya saja Black tidak pernah ingin dikenal sebagai keturunan Richard."


"A-Apa? Apa maksudmu bibi?" Nargya Martha tiba-tiba merasakan tubuhnya lemas. Ia tidak pernah menyangka kalau Black adalah saudara dari Samuel Richard.


"Black adalah kakak sepupu dari Sam. Ia adalah putra uncle Edward yang sudah meninggal sebelum Black berusia 16 tahun."


Oh tidak!


Apa aku masih punya kesempatan mendapatkan Sam setelah Aku menghina Black?


Gadis itu terdiam dengan pikiran yang mulai bergejolak takut dan khawatir. Ia tidak tahu harus mengatakan apalagi saat ini. Lidahnya terlalu keluh untuk berbicara.


"Hey, kenapa kamu diam Martha?" Elizabeth menyentuh tangan gadis itu karena tiba-tiba saja menunjukkan wajahnya yang sangat khawatir.


"Ah tidak bibi. Aku cuma sedang resah saja. Aku merasa telah dibohongi oleh dua putramu yang nakal itu." Nargya Martha tersenyum tipis dengan wajah dibuat seceria mungkin.


"Apa yang mereka lakukan Martha. Saya yang akan menegur mereka jika telah berbuat yang tidak baik padamu." Gadis itu semakin diatas angin. Ia merasa mendapatkan sebuah dukungan yang sangat ia inginkan.


"Sam bercanda padaku dan mengatakan kalau ia telah menikah. Itu kan tidak lucu bibi. Bukankah hanya aku yang cocok menjadi menantumu iyyakan?" Gadis itu segera meraih tangan perempuan paruh yang masih sangat cantik diusianya saat ini.


"Katakan padaku bibi kalau ini hanya lelucon mereka berdua." Elizabeth Richard tersenyum kemudian mengelus tangan gadis cantik dihadapannya ini.

__ADS_1


"Yang mereka katakan itu benar adanya Martha. Putraku itu sudah menikah dengan seorang gadis yang sudah lama saya inginkan."


Duarrrr


Gadis itu merasakan langit terasa runtuh dihadapkannya. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang ia dengar saat ini. Ia berharap ini hanya mimpi buruk.


"Tapi bibi, bagaimana mungkin ini terjadi? Bukankah aku yang kamu inginkan menjadi menantumu?" Nargya Martha menatap wajah Elizabeth Richard dengan tatapan memohon.


"Tadinya sih iya Martha. Tapi sayangnya kamu berkhianat dengan banyak pria yang berbeda sayang. Jadi saya anggap semua hal yang berhubungan denganmu sudah harus dikubur dalam keluarga kami."


"A-Apa maksud kamu bibi?" Gadis itu tergagap. Tubuhnya ia rasakan membeku. Sungguh, ini adalah pukulan telak yang langsung mengenai jantungnya.


"Kamu pasti sudah mengerti maksud saya Martha. Bersyukurlah karena saya masih mau menerimamu sebagai tamu di rumah ini."


"Bibi? Apakah kamu percaya tentang semua itu? Berita tentang saya berhubungan dengan banyak pria itu sungguh tidak benar bibi. Itu semua adalah fitnah yang sangat kejam." Nargya Martha mulai menitikkan air matanya. Ia sangat sedih karena semua orang tidak lagi mempercayainya.


"Meskipun seandainya itu tidak benar. Tapi Samuel tetap tidak bisa kamu raih Martha. Putraku itu sudah menikah dengan gadis yang baik dan sederhana. Ia sangat pantas menjadi menantuku."


"Kumohon bibi, jangan katakan seperti itu. Hanya aku yang pantas menjadi menantumu. Hanya aku yang pantas mendampingi putramu di manapun. Di dalam maupun di luar rumah."


🌻


"Kenapa? Apa kamu tidak ingin saya datang?" balas pria itu dengan balik bertanya.


"Tentu saja tidak Tuan. Anda bebas datang kapan saja yang anda inginkan." Prilya tersenyum lebar seraya membuka pintu kamarnya lebar-lebar.


"Siapa yang datang Nyonya?" tanya Devi yang baru saja keluar dari kamar mandi. Gadis itu sungguh tidak tahu kalau suami Prilya akan datang padahal ujian sekolah belum selesai.


"Tuan Richard Kak Dev." Prilya menjawab seraya mempersilahkan suaminya itu untuk duduk di sebuah sofa yang ada didalam kamar hotel itu.


Devi langsung menundukkan wajahnya saat melihat kalau tamu yang datang di tengah malam itu adalah Tuan Samuel Richard.


"Maafkan saya Tuan. Tuan Black tidak memberi kabar sebelumnya kalau anda akan datang. Kalau begitu saya akan menunggu di luar saja." Devi berucap seraya meraih handphonenya diatas nakas. Ia keluar dari kamar itu karena tidak ingin menggangu suami istri itu.

__ADS_1


"Kak Devi, kenapa harus keluar sih?" gerutu Prilya dengan wajah cemberut. Mereka berdua sebenarnya sedang sibuk menjawab soal-soal untuk mata ujian terakhir besok.


"Kenapa? Kamu tidak ingin berdua saja denganku?" Samuel Richard menatap wajah istrinya dengan perasaan yang sangat rindu. Ia sampai tak bisa menunggu sampai selesai hari terakhir ujian.


"Ah tidak Tuan. Bukan seperti itu," ujar Prilya dengan gugup. Ia meremas jari-jarinya karena tidak tahu harus berbuat apa dengan pria itu.


"Kemarilah," panggil pria itu seraya menepuk pahanya. Ia ingin sekali Prilya duduk dipangkuannya saat ini.


"Maaf Tuan. Saya duduk disini saja. Anda pasti lelah naik mobil ke tempat ini sampai berjam-jam." Prilya berusaha menolak karena sangat malu.


Ia tak bisa membayangkan dirinya yang berusia 18 tahun harus duduk di atas pangkuan pria dewasa seperti itu meskipun itu suaminya sendiri.


"Kemarilah, duduk disini. Saya sangat ingin tahu bagaimana kerja Bu Anita dan Devi selama dua pekan ini." Samuel Richard menepuk kembali pahanya dengan pelan agar Prilya mengikuti keinginannya.


"Bu Anita sudah sangat baik dalam mengatur makanan yang bergizi Tuan. Lihatlah, saya merasa sudah sangat gemuk dan berisi," jawab gadis itu seraya memperlihatkan bagian perut dan juga lengannya. Samuel Richard tersenyum. Ini yang ia rindukan dari istrinya itu. Ia terlalu polos dan juga lugu.


"Hem, bagus 'kan Tuan. Sudah berisi seperti yang Tuan inginkan." Prilya melanjutkan dengan tangan masih memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhnya yang nampak semakin sensual.


"Bagus sekali. Akan tetapi saya ingin mengukurnya sendiri. Apa benar-benar sudah sangat berisi atau hanya casingnya saja."


"Hah? Casing? Memangnya Handphone yang pakai casing?" Prilya mendengus kesal.


"Saya tetap tidak percaya kalau bukan saya yang mengukurnya Prilya. Jadi kemarilah cepat. Saya sudah tidak sabar." Samuel kembali memanggil istrinya yang sangat cantik dimatanya itu.


Ia benar-benar tidak sabar untuk menyentuh Prilya malam ini. Black saja tidak bisa menghalanginya apalagi readers, iyya gak? 😅


🌻🌻🌻


Gimana nich para readers? Apakah kita kasih kesempatan pada Samuel Richard melaksanakan keinginannya? Atau kita tunggu sampai selesai lebaran?


Like dan komentarnya dong, agar othor semangat updatenya.


Selamat berbuka puasa bagi readers yang menjalankan puasa di bulan Suci Ramadhan ini. Semangat puasanya ya, bentar lagi lebaran 😬😁🤭

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2