
Beberapa menit berikutnya, Sofyan pun dirujuk ke Rumah Sakit di ibu kota yang bertaraf internasional. Sebuah tempat perawatan yang lebih lengkap fasilitasnya daripada di kota Kabupaten tempatnya sekarang.
Ardina dan Asna yang ikut bersama dengan ambulans itu sedangkan Samuel Richard dan tiga orang lainnya harus kembali ke Hotel tempat mereka menginap selama ini.
Hampir dua pekan, Prilya tinggal di kota kelahirannya ini hingga ada banyak barang maupun pakaian yang harus mereka bawa kembali ke ibu kota.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Samuel Richard pada istrinya yang nampak masih sangat sedih. Wajahnya saja kelihatan sembab karena terlalu banyak menangis.
"Iya Tuan," jawab gadis manis itu seraya menyusut airmatanya yang masih saja sering keluar. Pria itu langsung meraih istrinya kedalam pelukannya lantas berucap," Jangan panggil aku Tuan. Kedengarannya sangat tidak bagus di telingaku sayang."
Prilya mendongak dan hanya bisa melihat dagu suaminya yang berbeda jauh tingginya dari dirinya.
"Saya harus memanggilmu apa?" tanya gadis itu dengan tatapan polosnya.
"Panggil aku sayang. Atau panggil aku Sam saja."
"Humm." Gadis itu tampak berpikir kemudian berucap, "Saya panggil Kakak saja bagaimana?" Samuel Richard tersenyum. Ia terima apa saja panggilan dari istrinya asalkan bukan Tuan.
"Kak Sam, bagus juga," ujar pria itu seraya menyentuhkan bibirnya pada bibir istrinya dengan sangat lembut. Ia mengulumnya dengan singkat karena harus berangkat ke Kota.
Semburat merah pun muncul di wajah Prilya karena begitu malu dengan perlakuan lembut yang suaminya berikan.
"Saya ingin lebih lama sayang tapi sayangnya kita harus segera meninggalkan tempat ini," ujar pria itu seraya menyentuh bibir istrinya dengan jempolnya. Sungguh, ia masih sangat ingin merasakan manisnya bibir istrinya tapi keadaan Sofyan sedang kritis sekarang ini.
"Ayo kita berangkat sekarang. Black dan Devi pasti sudah menunggu kita di luar." Samuel Richard segera meraih tangan istrinya untuk keluar dari kamar itu. Mereka berdua pun check out dari hotel itu dan langsung menuju ke ibu kota.
"Padahal ada banyak tempat yang ingin aku kunjungi bersama denganmu sayang," ujar pria itu seraya memandang wajah istrinya yang nampak kembali bersedih saat mengingat kembali keadaan Ayahnya.
"Maafkan ayah ya kak. Pasti kamu sangat membencinya. Ia banyak memberikan kerugian padamu." Prilya berucap dengan mata kembali basah. Samuel Richard langsung meraih istrinya itu kedalam pelukannya.
"Jangan terlalu dipikirkan sayang. Apa yang dilakukan oleh ayahmu sudah ku ikhlaskan saat aku menyadari betapa dirimu lebih berharga daripada uang yang hanya seujung kuku itu," ujar Samuel Richard seraya mengelus lembut kepala sang istri yang sedang bersandar di dada bidangnya.
"Ayah sedang sakit keras Kak. Dan saya sangat takut kalau ia tidak bisa lagi bertahan."
__ADS_1
"Sssst. Tidurlah. Perjalanan masih panjang. Jangan pikirkan itu. Berdoa saja semua baik-baik saja." Pria itu sudah tidak Ingin mendengar nada sedih dari istrinya. Ia pun mengelus lembar punggung Prilya sampai gadis itu benar-benar tertidur dalam pelukannya.
"Black, kita langsung ke rumah Sakit ya!" titahnya pada sepupu sekaligus orang kepercayaannya itu.
"Baik Tuan." Pria itu menjawab dengan tegas seperti biasa. Ia pun menambah laju kendaraan roda empat itu dengan kecepatan tinggi.
Pria itu melirik Devi yang sedang duduk menikmati pemandangan jalanan yang mereka lewati. Sungguh, rasanya hari ini ia merasakan perasaan haru dan bahagia secara bersamaan.
Ia bahagia karena Devi Aldiva sudah beres urusannya dengan suaminya. Dan sebentar lagi ia akan mengungkapkan isi hatinya pada perempuan itu. Dan yang kedua adalah, meskipun ini berita buruk, tapi ia cukup terharu melihat bagaimana seorang Samuel Richard mau menurunkan egonya untuk memaafkan Sofyan yang sangat ia benci.
Pria itu menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya pelan. Ia tak ingin mengganggu Devi yang sepertinya sedang menikmati perjalanan ini.
🌻
"Pril, kita sudah sampai sayang," ujar pria itu seraya menepuk-nepuk lengan sang istri dengan sangat lembut. Prilya melenguh pelan kemudian membuka matanya.
"Sampai dimana?" tanyanya dengan wajah yang masih nampak bingung. Ia melihat ke sekeliling mobil yang sedang mereka kendarai. Setelah beberapa detik ia baru sadar kalau masih berada di dalam mobil.
"Sudah sampai di rumah sakit tempat ayah dirawat sayang," jawab Samuel Richard dengan senyum diwajahnya. Ia membingkai wajah istrinya dengan kedua telapak tangannya kemudian berucap.
"Kenapa?" tanya Prilya lagi dengan wajah polosnya. Rupanya nyawanya belum juga terkumpul dengan sempurna. Samuel Richard tersenyum kemudian mengecup bibir Istrinya sekilas.
"Ayo turun," ujarnya lagi kemudian membuka pintu mobil. Berlama-lama dengan gadis manis berlesung pipi itu bisa membuatnya lupa diri. Prilya pun merapikan dirinya kemudian ikut turun dari mobil itu mengikuti suaminya.
Koridor panjang Rumah Sakit itu mereka lalui untuk sampai ke ruangan ICU dimana Sofyan dirawat karena kondisinya yang sangat kritis.
Samuel Richard membawa Prilya langsung memasuki ruangan dokter yang menangani Sofyan. Pria itu ternyata adalah temannya sewaktu di Universitas.
"Halo bro!" sapa pria itu ketika menjumpai Daren yang juga merupakan direktur Rumah Sakit itu.
"Hai Sam. Silahkan duduk. Ini siapa?" Daren mempersilahkan pria itu duduk seraya memandang sekilas pada Prilya.
"Istriku."
__ADS_1
"Wah, masih sangat muda. Udah tamat SMA belum nih?"
"Baru saja ikut ujian akhir. Dan pasti lulus, iyyakan sayang?" Samuel menatap istrinya itu dengan penuh cinta. Prilya hanya menundukkan wajahnya karena sangat malu dengan tingkah pria yang sudah menjadi suaminya itu.
"Wah wah wah. Lolos gak tuh di Kantor Urusan Agama? usianya masih muda banget hahaha."
"Hush, gak lucu. Kamu gimana dengan Felicia?" Samuel mengalihkan pembicaraannya ke kehidupan asmara dokter itu dengan Felicia, dokter bedah yang juga merupakan kenalannya.
"Bentar lagi kami nikah. Do'akan kami lancar ya," jawab Daren tersenyum.
"Aamiin. Eh, kamu sudah periksa ayah mertuaku kan? Gimana keadaannya?"
"Oh Pak Sofyan? Mohon maaf ya Sam. Saya harus mengatakan kalau ada penyumbatan atau penyempitan pada pembuluh darah arteri koroner yang membentuk plak pada jantungnya."
Samuel Richard langsung memandang istrinya yang menundukkan wajahnya dengan tangis tertahan.
"Terus apa yang harus kami lakukan Ren?"
"Kami akan memberikan obat-obatan untuk mengencerkan darah pada pasien agar darahnya tidak mengental dan menyumbat peredaran darahnya." Daren menarik nafas kemudian melanjutkan,
"Selain itu kita bisa melakukan operasi, salah' satunya adalah Angioplasti dan pemasangan ring jantung (stent) Pada pelaksanaannya, kami akan memasukkan kateter atau tabung tipis berukuran panjang ke dalam arteri. Lalu, kawat disertai dengan balon khusus dimasukkan ke dalam pembuluh arteri yang menyempit melalui kateter. Balon tersebut kemudian akan dipompa, menekan plak-plak yang ada ke dinding arteri."
"Biasanya, dari proses ini, kami akan melakukan pemasangan ring jantung secara permanen pada pembuluh darah arteri yang menyempit untuk membantunya tetap terbuka. Sebagian besar, ring jantung yang dipasang dilengkapi dengan obat untuk membantu memaksimalkan fungsinya mempertahankan pembuluh arteri agar tetap terbuka."
"Dan cara yang lainnya adalah Operasi bypass jantung. Pada proses operasi ini, kami akan membuat ‘jalan pintas’ dengan memotong pembuluh darah yang terdapat pada bagian tubuh yang lain dan menjahitkannya di antara pembuluh darah aorta dan bagian dari arteri koroner di atas pembuluh darah yang tersumbat."
"Hal ini tentu dapat membantu mengembalikan aliran darah menuju jantung, karena aliran darah tidak perlu melewati pembuluh darah yang telah menyempit atau tersumbat tersebut."
Prilya semakin tak tahan untuk menangis. Ia sangat takut mendengar istilah-istilah kedokteran itu. Ia takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada ayahnya.
🌻🌻🌻
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍