Tawanan Hati Sang Musuh

Tawanan Hati Sang Musuh
Bab 29 Ardina Lagi


__ADS_3

Apa yang harus saya katakan? Jujur atau tidak?


Oh tidak. Saya harus mengatakan apa? Prilya membatin dengan perasaan campur aduk.


Gadis itu benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa saat ini. Ia seperti sedang makan buah simalakama. Kalau ia jujur, semua orang pasti akan tahu kalau ia sudah menikah. Dan itu akan menjadi hal yang sangat tabu kalau ia masih sekolah dan sudah menikah.


Dan kalau ia tidak jujur apa ia akan lolos dari masalah ini?


"Ayo katakan yang sebenarnya Pril, kamu darimana saja? Tiba-tiba datang dan nampak sangat kinclong seperti ini kalau bukan jadi sugar baby lalu jadi apa hah?!" Ardina memandang saudara tirinya itu dengan tatapan tajam.


"Iya Pril, katakan saja. Kamu kan sudah tidak tinggal di rumahnya Dina lagi."


"Apakah kamu tinggal bersama dengan orang tua asuh yang kaya?"


"Atau tinggal dengan seorang sugar Daddy?"


Semakin banyak lagi pertanyaan yang keluar dari mulut teman-temannya.


Teman-temannya yang lain pun menatapnya intens untuk meminta jawaban. Ia terdesak. Bagaimanapun juga ia harus menjawab pertanyaan mereka semua.


Dengan tarikan nafas panjang ia pun bersiap untuk menjawab. Akan tetapi seorang guru mata pelajaran IPA tiba-tiba saja masuk ke kelas dan meminta semua siswa untuk duduk di tempatnya masing-masing.


Prilya bersyukur. Ia tidak harus menjawab semua pertanyaan dari temannya itu. Ia pun duduk di kursinya dan bersiap mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh guru mata pelajaran IPA di kelasnya itu.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh," salam guru perempuan itu sebelum menyampaikan informasi tentang ujian praktek pada hari itu.


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh." Semua siswa menjawab dengan serentak.


"Bagaimana kabar kalian, sehat?"


"Sehat Bu!"


"Alhamdulillah kalau begitu. Untuk ujian praktek kita, berdasarkan kompetensi Dasar yang sudah ibu sampaikan pada pertemuan yang lalu. Maka praktek kita adalah kalian secara berpasangan diminta untuk

__ADS_1


memahami konsep kemagnitan serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari."


"Bagaimana? Sudah siap semuanya?"


"Siap Bu."


"Kalau begitu kita ke laboratorium sekarang."


"Maafkan saya Bu." Prilya mengacungkan tangannya ingin bertanya.


"Ah Prilya, ada apa? Apa ada yang tidak kamu mengerti?"


"Mohon maaf Bu karena saya baru masuk sekolah pada hari ini. Jadi saya belum mempunyai pasangan."


"Hum, kenapa kamu baru datang Prilya?" Guru itu bertanya dengan tatapan intens pada gadis itu.


"Maafkan saya Bu, ada sedikit masalah keluarga jadi saya tidak sempat hadir dalam beberapa hari ini."


"Lain kali kalau ada masalah atau tidak bisa hadir, kamu harus bersurat atau meminta izin agar kami tahu tentang keadaanmu."


"Ah ya tidak apa-apa. Sekarang hubungi ketua kelas. Dia yang telah mengatur tentang siapa berpasangan dengan siapa."


"Ah iya Bu. Terima kasih banyak." Prilya tersenyum senang karena gurunya itu tidak memarahinya. Ardina mencibir tidak suka. Ia sungguh ingin agar Prilya tidak diizinkan masuk ujian praktek dan berakhir tidak lulus. Akan tetapi guru IPA itu ternyata sangat baik dan mudah luluh.


Mereka semua keluar dari kelas menuju Laboratorium kecuali Prilya. Gadis itu menghampiri Isnur sang ketua kelas.


"Kita akan berpasangan."


"Hah?" Prilya terbengong-bengong. Ia belum juga menyatakan maksudmu tetapi pria itu sudah langsung memutuskan.


"Tapi saya,-?"


"Saya juga tidak punya pasangan Pril. Jadi kita akan berpasangan membuat Magnit itu." Prilya tersenyum lebar. Lesung pipinya langsung nampak diwajahnya yang manis.

__ADS_1


"Makasih banyak Is. Kamu baik sekali."


"Tentu saja Prilya, Tapi ini tidak gratis lho." Isnur tersenyum kemudian berdiri dari duduknya. Ia sudah lama mempersiapkan ini untuk mendapatkan gadis manis dan lugu itu.


"Maksud kamu apa?" tanya gadis itu dengan wajah bingung. Isnur tidak ingin menjawab. Ia tidak mungkin menjelaskan maksudnya menjadikan Prilya menjadi pasangannya untuk saat ini.


"Ayo cepat kita ke Laboratorium," ajak pria itu dengan cepat.


"Ah ya baiklah." Prilya tersenyum kemudian mengikuti langkah pria itu.


Mereka berdua pun bergabung dengan semua siswa yang akan melaksanakan praktek di dalam Laboratorium itu.


Isnur benar-benar memanfaatkan kesempatan ini untuk menarik perhatian gadis itu. Ia menyediakan waktunya untuk membantu gadis itu agar mendapatkan nilai terbaik.


"Terimakasih banyak Is. Kamu adalah partner yang sangat baik. Kalau gak ada kamu mana ada saya bisa mengerti yang seperti ini. Udah lama sih gak masuk sekolah hehehe." Prilya terkekeh.


Isnur semakin diatas angin. Kepalanya membesar. Ia yakin kalau hati Prilya akan ia dapatkan sebentar lagi.


"Gak perlu berterima kasih seperti itu Pril, temani saja saya makan siang di Kantin ya." Isnur tersenyum kemudian menarik tangan gadis itu meninggalkan Laboratorium. Kebetulan ujian praktek mata pelajaran IPA sudah selesai.


"Saya membawa bekal sendiri. Tunggu sebentar ya, saya akan mengambilnya di dalam kelas." Gadis itu berusaha melepaskan tangannya tapi pria itu tidak bersedia. Ia tetap menggenggam tangan Prilya kembali ke kelas.


Ardina tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia merekam apa saja yang dilakukan oleh saudara tirinya kemudian mengirimkannya pada Praja Wijaya. Ia ingin sekali memperlihatkan pada pria itu kalau selama ini ia telah salah menyukai gadis seperti Prilya.


"Sadarlah, bahwa Prilya tak sebaik yang kamu pikir!" Begitu caption yang ia kirimkan pada pria itu.


"Rasakan kamu Prilya!" ujar gadis itu dengan seringainya.


🌻🌻🌻


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading ya gaess 😍


__ADS_2