
Praja Wijaya membuka layar handphonenya dan melihat ada sebuah pesan dalam bentuk video dari Ardina. Pria itu tersenyum. Ia sama sekali tidak marah melihat gadis yang ia ingin nikahi ada di dalam video itu.
Dalam hati ia bersyukur karena Prilya mendapatkan kebahagiaan lewat keluarga suaminya. Ia disekolahkan kembali adalah sebuah hal yang sangat luar biasa yang didapatkan oleh gadis yang hanya jadi penebus utang.
"Alhamdulillah, semoga kamu bahagia Pril," ujarnya pelan dengan berusaha menerima keadaan yang telah terjadi.
Pria itu pun menutup benda pipih elektronik ditangan nya dan melanjutkan pekerjaannya. Akan tetapi, ia tidak bisa lagi berkonsentrasi. Ia ingin ke sekolah Prilya dan memberinya semangat. Meskipun ia sudah ikhlas tapi ia ingin bertemu dengan gadis itu dengan cara yang baik.
Praja Wijaya meraih kunci mobilnya dan segera pergi dari ruangan kerjanya. Ia ingin menyampaikan permohonan maaf pada Prilya tentang kejadian kemarin.
Tak lama kemudian ia pun sampai di sekolah itu bertepatan dengan Devi Aldiva datang untuk menjemput gadis itu.
"Hai," sapa nya pada Devi. Gadis yang disapa itu tersenyum dan membalas sapaan pria yang sangat ngotot ingin mengambil Prilya lagi menjadi miliknya.
"Hai."
"Mau menjemput Prilya ya?" tanya pria itu berbasa-basi.
"Iya. Kamu?"
"Sama."
Wajah Devi Aldiva langsung berubah warna. Ia menatap pria itu dengan tatapan tajam.
"Kamu belum juga sadar ya? Nyonya muda itu sudah menikah dan sekarang sudah sah menjadi istri dari Tuan Samuel Richard. Kamu mau mengganggu keluarga orang ya?!"
Praja Wijaya tersenyum dan menatap balik gadis yang nampak sangat marah itu.
"Saya kan cuma mau bertemu. Dan tidak mengatakan akan mengganggu hubungan keluarga Prilya dan suaminya. Jadi apa itu salah juga nona bodyguard?!"
Devi melengos, ia kesal.
"Kalau saya ingin berkenalan denganmu juga apa itu salah?" Lanjut Praja Wijaya dengan senyum diwajahnya.
"Salah!" Devi cepat-cepat menjawab karena sudah terlanjur keki.
"Hum, begitu sial nasibku jika itu berhubungan dengan gadis-gadis cantik." Praja Wijaya menunjukkan wajahnya yang nampak sedang terzolimi.
"Bodo amat! Emangnya saya pikirin?" ujar Gadis itu dengan wajah kesal. Ia pun meninggalkan pria itu dan menuju ke sebuah taman di depan sekolah itu.
"Apa saya datang terlalu cepat? Kenapa siswanya telat sekali pulangnya," gumamnya seraya menatap jam tangan di pergelangan tangannya. Sementara itu Praja Wijaya justru melangkahkan kakinya ke arah Kantor Kepala Sekolah. Ia ingin menunggu Prilya disana saja.
__ADS_1
"Kak Praja? Kamu disini?" tanya Ardina yang kebetulan bertemu dengan pria itu di depan koridor sekolah.
"Iya Din. Kamu yang kirim pesan padaku tentang Prilya di sekolah ini, jadi saya datang." Pria itu menjawab dengan tersenyum lebar.
Jadi pria ini tidak marah kalau gadis itu bersama dengan Isnur? Ardina membatin dengan wajah meringis.
"Untuk apa Kak Praja datang?"
"Ya untuk menemui Prilya dong, saya rindu. Terimakasih ya atas kiriman video kamu." Ardina jadi berubah malu. Wajahnya ia rasakan memanas. Sungguh ia menyesal mengirim pesan video itu pada pria dihadapannya ini. Karena dengan itu Praja jadi bisa bertemu lagi dengan Prilya.
"Tapi sekarang, Prilya masih bersama dengan Isnur kak. Ada tugas yang harus dikumpulkan hari ini juga."
"Oh gitu ya? Kalau begitu saya tunggu di depan taman saja. Kamu tidak bohong 'kan?"
"Ngapain saya bohong sama Kak Praja?"
"Ya bisa saja kan kamu berbohong untuk mendapatkan keuntungan disini."
"Ish, kak Praja maksudnya apa? Kakak tega menuduhku seperti itu?!" Wajah Ardina tampak marah. Ia tersudut.
"Ya, kamu tidak perlu marah kalau itu tidak benar."
"Ya sudah Kak. Saya pulang aja, Kakak terlalu suka sama Prilya sampai semua keburukannya tidak bisa kakak lihat!" Ardina menghentakkan kakinya kesal kemudian pergi dari sana. Praja Wijaya pun melakukan hal yang sama. Akan tetapi ia malah pergi ke Taman di depan sekolah untuk bertemu dengan gadis yang selalu setia menemani Prilya kemanapun.
"Oh ya ampun. Apa kamu tidak sarapan di rumahmu nona? Sejak tadi kamu kesal terus padaku. Apa wajahku ini memang menyebalkan ya?"
"Syukurlah kalau kamu sadar." Devi kembali mendengus.
"Tapi ngomong-ngomong, saya berterima kasih padamu nona." Praja Wijaya memandang wajah Devi dengan tatapan lurus ke dalam mata indah gadis itu.
"Untuk?"
"Karena kamu sangat baik, mau menjaga Prilya sampai seperti ini. Saya yakin kamu adalah teman yang sangat menyenangkan."
"Tentu saja saya baik karena saya diberikan gaji yang tinggi dari Tuan Samuel Richard."
"Apa hanya karena itu nona?" Devi Aldiva nampak berpikir kemudian menjawab.
"Ya bukan karena itu saja sih. Nyonya muda sangat baik dan sederhana. Semua orang juga menyayanginya termasuk saya sendiri."
"Terimakasih banyak. Prilya sejak kecil tidak pernah mendapatkan kebahagiaan di rumahnya sendiri. Jadi sekarang saya sangat bahagia karena ia mendapatkannya bersama keluarga barunya." Praja mengalihkan pandangannya ke arah siswa-siswi yang sudah keluar dari area sekolah.
__ADS_1
Devi Aldiva tersenyum. Hatinya menghangat. Itu artinya pria dihadapannya ini tidak lagi kekeh ingin mendapatkan lagi nyonya muda keluarga Richard.
"Nah itu Prilya," ujar Praja Wijaya dan segera berdiri dari duduknya. Ia meninggalkan Devi dan segera menuju ke arah gadis yang sudah lama ia tunggu-tunggu.
"Pril, gimana ujian prakteknya?" tanyanya dengan wajah berbinar bahagia. Ia bisa melihat kalau hari ini gadis itu juga tampak sangat bahagia bisa kembali ke sekolah.
"Kak Praja? Alhamdulillah ujiannya berjalan dengan sangat baik dan lancar. Ini semua karena bantuan Isnur kak." Prilya menjawab seraya menunjuk ketua kelasnya yang sejak tadi menemaninya.
"Hai Isnur, terimakasih banyak ya," ujar Praja dengan tangan menjabat tangan pria muda itu.
"Sama-sama Kak. Prilya 'kan soulmate saya Kak." Isnur menjawab dengan rasa yang penuh percaya diri.
"Soulmate? Enak saja mengakui milik orang sebagai soulmate!" Praja berucap dengan wajah berubah tak nyaman.
"Udah deh kak. Isnur sudah banyak bantuin saya tadi. Bagaimana kalau Kak Praja traktir dia dan saya?" Prilya tersenyum dengan memberikan penawaran pada pria baik hati itu.
"Boleh saja sih, ayo." Praja setuju. Sedangkan Isnur memandang dua orang itu dengan wajah curiga.
Apa mereka berdua punya hubungan khusus? Tanyanya membatin.
"Ayo Is. Jangan bengong aja. Mumpung kita mau ditraktir sama pengusaha muda nih. Apa salahnya kita terima, iyya gak?"
"Ah iya. Ayo."
"Nyonya!" panggil Devi yang tiba-tiba menahan langkah mereka yang sudah akan meninggalkan area sekolah itu.
"Kak Devi! Kakak dah lama ya? Maaf. Saya tidak lihat." Prilya terlongo kaget kemudian segera memeluk guru privatnya itu karena hampir saja meninggalkannya.
"Memangnya Tuan yang terhormat ini tidak memberi tahu ya Nya?"
"Enggak tuh hahaha."
"Nyonya. Tawanya jangan terlalu seperti itu." Devi mulai rewel dengan adab dan kesopanan.
Nyonya?
Isnur kembali membatin dengan wajah penasaran.
🌻🌻🌻
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading ya gaess 😍