
"Devi dan Nyonya Prilya tiba-tiba harus pulang ke rumah Tuan," ucap Black dengan suara rendah setelah meeting itu selesai. Samuel Richard langsung menatap asisten kepercayaannya itu dengan dahi mengernyit.
"Apa ada yang terjadi pada mereka hingga tidak menunggu kita Black?"
"Saya tidak tahu Tuan, tapi kata Devi nyonya Prilya sedang sakit kepala."
"Oh, padahal saya sudah membuat surprise untuknya di Mall ini. Ah, sudahlah. Kita pulang saja kalau begitu." Pria itu pun berdiri dari duduknya kemudian mencoba menghubungi istrinya tapi ternyata selalu berada dil luar jangkauan.
"Prilya pasti sangat sakit sekarang. Kenapa ia sampai menonaktifkan handphonenya segala," gumam pria itu dengan perasaan yang sangat khawatir. Ia terus menatap layar benda pipih ditangannya itu seraya berjalan ke arah pintu utama Pusat Perbelanjaan itu. Dan,
"Aaaawww! Sakit. Kakiku, hiks." Seorang perempuan berhasil ia tabrak karena tidak berkonsentrasi dengan jalanan dihadapanmya.
"Ah maaf, maafkan saya," ujar Samuel Richard tak enak hati. Ia pun berusaha membantu perempuan yang berpakaian serba terbuka itu dengan perasaan khawatir.
"Sam? Kamu? Awwww, kakiku, aku tidak bisa berdiri," ujar Nargya Martha dengan berpura-pura jatuh kembali. Black langsung mendekat dengan memanggil security untuk membantu perempuan itu. Akan tetapi sang pimpinan sudah terlebih dahulu membantu perempuan itu.
"Martha, hati-hati. Maafkan saya." Samuel Richard langsung menggendong tubuh perempuan cantik itu ala bridal style.
"Kenapa bisa seperti ini? Kamu mau kemana?" Pria itu bertanya seraya memandang jalanan di depannya.
"Aku tidak bawa mobil Sam. Tolong antarkan aku ke apartemen saja." Gadis itu menjawab seraya menahan senyumnya. Ia sangat senang karena pria itu masih sangat khawatir padanya.
"Black! Kita ke apartemen Marta sekarang."
"Baik Tuan." Black pun membuka pintu mobilnya agar Samuel bisa meletakan perempuan itu di dalam sana.
"Terima kasih banyak Sam. Lihat heels ku sampai patah seperti ini. Kamu jalan kenapa tidak fokus sih?" Nargya Martha merajuk. Ia memperlihatkan sepatu dengan heels setinggi 10cm itu sudah patah sebelah. Berikut kakinya yang nampak lebam.
__ADS_1
"Pantas saja kamu jatuh. Sepatu seperti itu mana bisa nyaman dan aman? Untungnya kakimu tidak patah." Samuel Richard balas menggerutu kesal.
"Dan untungnya adalah karena kamu yang nabrak aku Sam. Jadi ya syukur deh." Gadis itu semakin senang saja. Ia semakin yakin kalau pria dihadapannya ini pasti masih mempunyai rasa padanya. Terbukti dari rasa khawatir yang sangat kentara di mata pria itu.
"Black jalannya jangan lewat Sudirman! Cari jalanan yang bisa lebih cepat sampai di Rumah Sakit!" titah Samuel Richard dengan suara tegasnya.
"Baik Tuan." Black tanpa sadar tersenyum. Ia pun segera memutar kemudinya mengambil jalur tikus yang sering merasa lewati selama ini.
"Lho, kok ke rumah sakit sih Sam, ke Apartemen ku saja. Aku ingin istirahat disana saja." Nargya Martha protes. Ia ingin agar pria tampan yang pernah ia tinggalkan itu tidak membawanya ke Rumah Sakit. Ia tidak mau ketahuan kalau ia hanya berpura-pura sakit.
"Sam, hey dengarkan aku. Penyakitku ini, tidak bisa ditangani oleh dokter."
"Lalu harus ditangani oleh siapa Hem?"
"Ya kamu lah. Kan kamu yang membuatku seperti ini. Kalau aku tidak bisa berjalan di atas catwalk lalu aku harus bagaimana lagi Sam?"
"Sam, kumohon bawa aku ke apartemen aja, plis." perempuan itu memohon-mohon sampai menitikkan airmatanya.
"Kamu tahu kan kalau aku paling takut dengan jarum suntik, aku tak mau ketemu dokter. Penyakitku bisa saja lebih parah dari ini."
Samuel Richard menarik nafas panjang. Ya, ia ingat akan phobia dari seorang Nargya Martha. Ia paling trauma dengan yang namanya Rumah Sakit.
"Black?"
"Iya, siap Tuan!" Black sangat paham tentang kondisi ini. Ia tahu kalau Tuannya sudah mulai terpengaruh dengan permintaan perempuan itu. Baiklah, ia akan mengikuti apa lagi yang sedang direncanakan oleh Nargya Martha.
Pria itu pun melewati Rumah Sakit. Mobil mereka melaju dengan cepat ke arah Apartemen Nargya Martha yang dulu sering dikunjungi oleh Samuel Richard sang pimpinan.
__ADS_1
"Terima kasih banyak Sam," ujar perempuan itu saat mereka sudah tiba di sebuah gedung pencakar langit dengan unit-unit apartemen di dalamnya.
"Jangan katakan itu. Aku hanya akan membawamu saja sampai dengan unit mu. Setelah itu aku harus pergi." Samuel pun membantu perempuan itu turun dari mobil yang masih terpincang-pincang.
"Sam, gendong," pinta perempuan itu lagi dengan manja.
"Ah ya baiklah." Pria itu pun melakukan keinginan Nargya Martha dengan suka rela. Black yang mengikut dibelakangnya hanya bisa menarik nafas panjang. Ia berharap tuannya itu tidak lagi jatuh ke dalam pelukan perempuan itu.
"Black buka pintunya!" titah Samuel padanya saat mereka sudah sampai di depan pintu apartemen itu.
"Password nya apa?" tanya pria itu dengan kaki segera melangkah ke depan kunci apartemen itu.
"Masih sama Black. Supaya kalian bebas datang kemari." Nargya Martha menjawab dengan senyum diwajahnya. Ia benar-benar sangat gembira saat ini. Sedikit lagi rencananya akan berhasil.
Tak lama kemudian pintu apartemen itu terbuka. Samuel Richard segera membawa Nargya Martha ke dalam kamarnya. Pria itu tak perlu bertanya lagi di mana letak kamar perempuan itu karena ia sudah menghafal semua letak dan isinya.
"Terima kasih banyak ya Sam, aku tahu kalau kita masih punya harapan untuk berhubungan kembali," ucap perempuan itu saat Samuel Richard meletakkannya di atas ranjangnya.
"Istirahat lah, aku akan segera pergi." Pria itu mengabaikan keinginan sang mantan kekasih. Ia pun ingin keluar dari kamar itu tetapi tangannya langsung ditarik oleh Nargya Martha.
"Temani aku disini Sam. Aku sangat merindukanmu," ujarnya dengan tatapan lurus ke dalam bola mata sang Pria tampan.
🌻🌻🌻
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😍.