Tawanan Hati Sang Musuh

Tawanan Hati Sang Musuh
Bab 71 Sebuah Balasan


__ADS_3

"Prilya, sayang," ucap Elizabeth seraya mengelus lembut punggung menantunya. Prilya yang sedang tengkurap itu langsung bangun dari posisinya. Ia menatap ibu mertuanya kemudian memeluknya.


"Mama, hiks." Perempuan itu kembali menangis. Ia sendiri bingung dengan airmatanya yang tak mau juga berhenti mengalir, seolah-olah stoknya tak ada habisnya.


"Pril, Mama tahu perasaanmu saat ini. Kamu pasti sangat sedih dengan kelakuan suamimu. Tapi ia sudah minta maaf padamu 'kan?"


"Iya Ma. Mas Sam sudah meminta maaf, tapi bayangan saat ia bersama dengan perempuan itu masih sangat segar Ma. Gak bisa langsung saja dihapus, hiks."


"Iya sayang, Mama mengerti. Kamu sayang gak sama suamimu?"


"Iya Ma." Prilya mengangguk. Ia tak bisa membohongi kata hatinya kalau ia benar-benar sangat mencintai pria tampan itu. Dan mungkin karena perasaannya itulah ia merasa sangat cemburu melihat pria itu bersenang-senang dengan perempuan lainnya.


"Nah, kalau sayang, kamu jangan kayak gini dong. Perempuan itu adalah masa lalu suamimu. Ia sengaja datang untuk merusak hubungan kalian agar ia bisa merebut kembali Sam dari mu."


Prilya langsung menatap ibu mertuanya dengan wajah serius.


"Iya sayang. Martha adalah masa lalu suamimu. Mereka pernah sangat dekat tapi itu dulu, jauh sebelum kalian menikah. Sekarang hati suamimu adalah milikmu. Jadi terima permohonan maafnya ya," jelas Elizabeth dengan penuh perasaan.


"Mama takut kalau kamu seperti ini terus, keinginan Martha dengan cepat tercapai nak. Ia sengaja ingin menggangu hubungan kalian. Dan apa kamu tahu kalau niat orang jahat seperti itu akan gampang cepat berhasil jika kalian memberinya celah. Godaan bisa dengan cepat masuk dalam rumah tangga kalian."


"Tapi Ma, hatiku sangat sakit membayangkan mereka berdua." Prilya menundukkan wajahnya dengan tangan saling meremas.


"Iya sayang, Mama mengerti. Tak ada seorang pun yang suka keadaan seperti itu. Tapi cobalah memaafkan nak. Kasihan suamimu. Mama takut kalau ia akan mendatangi Martha lagi kalau kamu diamkan seperti ini."

__ADS_1


"Tidak mama. Tolong berikan saya waktu untuk melupakan apa yang mereka lakukan. Saya masih sakit Ma."


"Terserah padamu sayang. Mama cuma berharap kamu menerima permintaan maafnya. Kamu pasti bisa mempermainkan hubungan ini sayang."


"Ah iya Ma."


"Baiklah, sekarang kamu sholat dan jangan lupa untuk selalu berdoa pada Tuhan nak. Karena hanya kepadaNya lah kita menyembah dan memohon pertolongan."


"Iya Ma. Makasih banyak." Prilya pun pergi ke kamar mandi untuk berwudhu'. Sekarang waktunya magrib. Ia harus sholat untuk menenangkan hatinya yang masih sangat galau dan sedih.


Elizabeth tersenyum. Ia berharap kalau keinginan Nargya Martha tidak akan pernah berhasil jika dua orang itu selalu kompak dan tidak saling menjaga jarak seperti ini.


"Kalau sudah sholat, amalkan doa ini sayang." Perempuan itu memberikan selembar kertas pada menantunya itu. Beberapa amalan yang diberikan oleh kyai pimpinan pesantren yang ia datangi tadi siang.


"Katanya, saat malam itulah kejahatan dari seseorang yang hasad hatinya akan sering beraksi sayang. Jadi usahakan untuk selalu meminta perlindungan pada Tuhan."


"Setelah ini kamu ikut makan malam bersama ya sayang," ujar perempuan paruh baya itu kemudian keluar dari kamar menantunya.


Prilya menarik nafas panjang. Ia sangat bersyukur karena mempunyai seorang ibu mertua yang sangat baik seperti Elizabeth.


Sementara itu, Nargya Martha yang sedang mabuk-mabukan di dalam bar mungil miliknya, mulai meracau tak jelas. Ia terus mengumpat seraya menangisi nasibnya.


Ia sangat menyesal karena telah meninggalkan Samuel Richard yang selama ini sangat baik padanya.

__ADS_1


"Aaaaargh, Maafkan Aku Sam. Tapi kumohon kembalilah padaku, hiks. Aku berjanji setelah ini aku akan menjadi kekasih yang setia padamu." Perempuan itu terus menerus berbicara sendiri seperti orang gila.


Setelah itu ia memasuki sebuah kamar yang ukurannya sangat kecil untuk melakukan ritualnya setiap malam setelah magrib.


Sebuah lilin ia nyalakan dengan dupa di hadapannya. Ia pun meraih sebuah boneka yang ia beri nama sebagai Samuel Richard.


Ia mengelusnya dengan sangat lembut kemudian menciuminya seperti sedang berhadapan dengan pria itu di dunia nyata.


Dan tak lama kemudian ia menekan dada boneka itu kemudian menusuknya dengan menggunakan sebuah jarum yang sedang dipegangnya.


"Hatimu akan selalu mengingatku Sam. Hanya aku yang akan kamu ingat. Dan istrimu yang jelek itu akan kamu buang ke tempat sampah. Hahaha!' Perempuan itu tertawa dengan sangat menyeramkan.


"Rasakan kamu Sam. Kamu pasti akan kembali padaku lagi, hahaha." Ia terus tertawa sampai lupa diri. Suaranya memantul dengan sangat keras di dalam ruangan sempit itu.


Cahaya lilin pun sampai bergoyang seakan tertiup angin yang sangat kencang. Sedangkan dupa yang ia bakar tiba-tiba langsung padam. Sebuah cahaya merah tiba-tiba saja masuk dari arah luar melalui fentilasi kecil dari atas dinding kamar itu.


"Aaaargh!'


Tiba-tiba saja perempuan itu berteriak keras. Karena cahaya merah itu dengan cepat menembus dadanya bagikan sebuah sinar laser. Rasa sakit ia rasakan tak tertahankan. Ia tak bisa bernafas. Seketika Ia sesak nafas dan akhirnya tak sadarkan diri.


🌻🌻🌻


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2