
Praja ikut masuk ke bioskop dan menonton film bersama dengan dua gadis yang sedang menghindarinya. Sampai film selesai mereka bertiga tidak ada yang bicara. Semuanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Prilya, dengarkan saya." Praja terus memburu langkah gadis itu untuk menyampaikan maksudnya lagi. Akan tetapi Devi Aldiva tidak pernah memberikan kesempatan padanya. Ia benar-benar berlaku sebagai pengganti Black untuk memastikan Nyonya muda itu nyaman.
"Kak, sudahlah. Kita tidak akan bisa bersama apapun caramu. Maafkan saya." Prilya akhirnya mengucapakan lagi kalimat itu meskipun hatinya sebenarnya sakit.
"Prilya, saya tahu kalau kamu tidak menginginkan ini jadi kumohon, berikan saya kesempatan,. okey?"
"Maaf Tuan. Kesempatan apa yang anda maksud? Merebut istri orang lain itu anda bilang kesempatan?!" Tiga orang itu tersentak kaget karena tiba-tiba saja pria kepercayaan Samuel Richard ada diantara mereka bertiga.
"Lupakan keinginan anda Tuan Praja Wijaya. Carilah perempuan lain yang sedang tidak sangkutan dengan pasangannya," lanjut Black dengan tatapan tajam pada Praja.
"Siapa lagi anda?" Praja menatap pria berpakaian hitam-hitam itu dengan tatapan kesal. Sudah dua orang pria dengan penampilan yang sama menghalang-halanginya membawa Prilya.
"Saya yang bertanggung jawab untuk Nyonya muda. Jadi sekarang kembalilah ke rumahmu dan jangan lagi menunjukkan wajah di depan kami." Black berucap dengan tangan mempersilahkan dua gadis cantik itu untuk mengikuti sopir pribadi keluarga Richard. Ia tidak ingin dua gadis itu melihat apa yang akan dilakukannya pada seorang pria yang berani menggangu pekerjaannya.
"Heh, berikan Prilya padaku sekarang juga. Saya tahu kalau kalian menahanya karena utang paman Sofyan 'kan?"
"Nyonya muda sudah menjadi milik Tuan Samuel Richard. Mereka sudah menikah dan sah secara hukum maupun agama. Jadi anda hanya membuang-buang waktu saja." jelas Black dengan wajah datarnya.
"Saya akan menebusnya. Saat ini juga akan saya berikan uangnya." Praja meraih handphonenya dan memperlihatkan jumlah uang yang akan ia transfer pada pria itu.
"Anda ini tidak mengerti bahasa ya? Memangnya pernikahan bisa langsung dibatalkan dengan uang ini?" Back tampak mulai sangat kesal.
"Tentu saja. Prilya kalian ambil dari saya karena uang 'kan? Jadi saya ingin mengambilnya kembali dengan membayar utang-utang paman Sofyan." Praja kekeh mempertahankan keinginannya.
"Anda ingin berurusan dengan hukum? Baiklah. Kita akan ke kantor polisi sekarang juga." Black berusaha menahan untuk tidak memukul pria tampan tapi berotak kecil dihadapannya.
Praja Wijaya langsung terdiam. Ia tidak ingin berurusan dengan hukum untuk saat ini. Ia pun berucap dengan wajah marah.
__ADS_1
"Baiklah, saya mengalah. Akan tetapi jika Prilya tidak bahagia maka saya pastikan ia akan saya rebut kembali." Pria itu pun pergi dari sana dengan rahang mengeras sempurna.
"Mimpi saja kamu brengsek!" Black mengepalkan tangannya dikedua sisi tubuhnya. Ia sangat kesal karena pekerjaannya jadi terganggu karena ulah pria tidak tahu malu itu.
🌻
"Kak, Dev. Terimakasih banyak ya, sudah menemani saya seharian ini," ucap Prilya saat mereka berdua sudah sampai di rumah kediaman Richard.
"Iya Nyonya. Sama-sama." Devi menjawab seraya tersenyum. Ia pun memanggil pelayan untuk membawakan tas-tas belanjaan mereka ke kamar Pribadi Nyonya muda itu itu di lantai 1.
"Saya bisa membawanya sendiri Kak. Makasih banyak." Prilya langsung mengambil tas-tas itu dan segera berlari ke kamarnya. Ia tak ingin merepotkan orang lain kalau hanya sekedar mengangkat tas saja.
"Nyonya," ujar Devi dengan wajah melongo melihat kesederhanaan gadis itu. Seorang istri dan Nyonya muda yang seharusnya menikmati fasilitas yang melimpah tapi ternyata tidak mau digunakannya.
Prilya membuka pintu kamarnya dan segera masuk. Ia ingin mandi untuk menyegarkan diri setelah jalan seharian di luar rumah.
"Tuan," sapa Devi seraya membungkukkan badannya di depan pria pemilik rumah itu.
"Apa masih ada jadwal pelajaran untuk Prilya hari ini?"
"Tidak Tuan. Saya rasa Nyonya muda juga sudah sangat lelah. Belajarnya besok pagi saja."
"Oh begitu ya? Dimana dia sekarang?"
"Nyonya sudah berada di kamarnya Tuan."
"Baiklah, Terimakasih banyak dan lanjutkan pekerjaanmu lagi." Samuel Richard langsung meninggal Devi Aldiva dengan senyum diwajahnya. Ia pun melangkahkan kakinya ke arah tangga untuk menuju kamarnya sendiri. Tapi entah kenapa, ia begitu penasaran dengan apa yang sedang dilakukan oleh gadis kurus itu sekarang ini.
Kakinya pun ia arahkan memutar haluan. Ia membawa dirinya kearah kamarnya yang sudah ditempati oleh Prilya.
__ADS_1
Sesampainya ia didepan pintu kamar itu, ia pun membukanya dan langsung masuk tanpa mengetuk. Kamar itu tampak kosong dengan banyak tas belanjaan yang sedang tersimpan di atas meja di dalam kamar itu.
"Kemana dia?" tanyanya dengan pandangan ia arahkan ke segala arah tapi tak ia temukan dimanapun gadis itu.
"Apa mungkin ia kembali lagi ke kamar belakang?" gumamnya pelan. Ia pun berniat untuk keluar dari sana tapi tiba-tiba ia mendengar pintu kamar mandi terbuka. Ia pun mengarahkan pandangannya ke arah sana.
Prilya sedang keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang sangat pendek pada tubuhnya yang lumayan langsing.
Samuel Richard terpaku. Entah apa yang ada di dalam pikirannya hingga matanya sangat betah memandang gadis itu yang sedang menggosok rambutnya yang sedang basah.
"Tuan?" Prilya tersentak kaget karena baru menyadari kalau suaminya sedang menatapnya tak berkedip. Ia pun membalikkan badannya dan segera lagi ke kamar mandi lagi.
"Berhenti kamu disitu!" titah Samuel Richard karena sangat kesal ditinggalkan begitu saja. Langkah Prilya berhenti di depan kamar mandi tapi masih membelakangi suaminya yang belum terlalu akrab dengannya.
"Kenapa kamu lari dariku hah?" Prilya merasakan bahwa pria itu sudah sangat dekat dengannya. Ia bisa merasakan suara itu berasal dari arah belakangnya. Menyentuh bahunya yang terbuka pria itu lantas berucap dengan pelan.
"Tubuh kurus begini, kenapa kamu seolah ingin menutupinya dariku Pril?" tanya pria itu seraya mengelus lembut tulang selangka gadis itu yang sangat mencolok karena kekurangan daging.
"Tuan, saya akan banyak makan makanan yang bergizi kedepannya. Saya janji." Prilya berucap kemudian menggigit bibir bawahnya.
Entah kenapa ia merasakan sebuah getaran aneh dari dalam dirinya ketika pria itu menyentuhnya dengan lembut seperti itu.
🌻🌻🌻
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading ya gaess 😍
__ADS_1