
Samuel Richard pun ikut bergabung dengan Devi dan juga Black. Mereka bertiga hanya meminum minuman dingin yang tidak mengandung alkohol. Mengobrol banyak hal sampai mereka merasakan bahwa tubuh mereka sudah tak sanggup lagi bertahan.
Devi Aldiva akhirnya kembali ke kamarnya yang sebelumnya ia tempati bersama dengan Prilya. sedangkan Black dan Samuel juga memasuki kamarnya masing-masing. Rasa kantuk baru mereka rasakan menjelang subuh.
Tring
Tring
Tring
Alarm yang sengaja disetel oleh Prilya agar tidak bangun kesiangan kini berteriak-teriak pada jam 5 pagi. Gadis itu melenguh pelan kemudian mengumpulkan nyawanya. Tangannya bergerak mencari sebuah handphone yang sudah disetel alarm itu untuk dimatikannya.
"Kak Devi?" Gadis itu begitu kaget saat melihat orang yang tidur disampingnya adalah Devi. Padahal semalam ia yakin betul kalau bukan Devi yang menemaninya tidur akan tetapi suaminya sendiri.
"Kok bisa?" tanyanya dengan tangan mengucek matanya. Ia berusaha melihat sosok itu dengan wajah serius. Setelah itu ia memeriksa pakaian yang sedang dipakainya.
Ia yakin sekali kalau tangan suaminya sempat melakukan sesuatu pada dua asetnya semalam. Hanya saja karena ia sangat mengantuk hingga ia tidak merespon dengan baik apa yang dilakukan tangan besar suaminya.
"Apa mungkin saya mengigau semalam?" tanyanya pada dirinya sendiri.
"Atau memang Kak Devi yang melakukannya? Ih serem banget kayak lisbong gitu." Prilya merinding geli sekaligus jijik.
Dengan wajah yang masih sangat bingung, ia pun bangun dan menuju kamar mandi. Membersihkan dirinya dan mengambil air wudhu untuk shalat subuh.
"Kak Dev bangun woy sholat!" Ia pun menggoyang-goyangkan tangannya pada sosok yang sedang tertidur itu. Devi Aldiva tidak merespon. Ia benar-benar seperti sedang mati. Hingga Prilya segera mengambil air dan membasahi kelopak mata gadis itu.
"Hmmmpt, ada apa?" tanyanya seraya meregangkan otot-ototnya.
"Bangun kak. Sholat subuh dulu. Trus tidur lagi."
"Hum, jam berapa sekarang?"
"Jam Lima tiga puluh."
"Ah iya," jawab gadis itu kemudian melanjutkan tidurnya lagi.
"Astaghfirullah kak. Bangun!" Prilya menarik tangan gadis itu untuk bangun atau sholat subuh bisa terlewat. Bumi di luar sana pun sudah tampak terang dari lantai 5 hotel ini. Devi akhirnya membuka matanya yang terasa seperti terkena lem. Merekat sangat kuat. Tak ada pilihan lain selain bangun. Ia harus bangun agar Nyonya muda itu tidak menggangunya lagi.
"Jam berapa sih kakak pulang sampai sudah tidak bisa bangun sholat subuh?" tanyanya pada guru privatnya itu yang sudah melakukan sholat bagai kilat karena begitu sangat cepatnya. Setelah itu ia pun naik lagi ke atas ranjang dan melanjutkan tidurnya.
__ADS_1
Tak ada jawaban dari pertanyaannya itu melainkan hanya dengkuran halus yang kedengaran.
Gadis itu pun memakai seragam sekolahnya setelah mandi. Setelah itu ia bersiap untuk pergi ke sekolah. Tak lupa ia sarapan di Hotel itu juga. Ia hanya sendirian karena tidak ingin membangunkan Devi Aldiva lagi yang nampak sangat lelap dan juga lelah.
Dan tentang Samuel Richard sang suami, Ia juga tidak tahu dimana sosok itu sekarang berada. Apa mungkin ia sudah pulang bersama dengan Tuan Black, batinnya.
"Ah sudahlah. Lebih baik saya berangkat ke sekolah sekarang. Jangan sampai terlambat," ujarnya kemudian segera pergi dari hotel itu. Sopir keluarga Richard sedang menunggu di depan bangunan itu.
"Kita berangkat Pak."
"Baik Nyonya."
Kang Harun pun melajukan mobil mewah itu menuju ke sekolah yang sudah beberapa hari ini ia kunjungi.
"Kang, jemput nya agak sore ya, teman-teman mau adakan acara dulu karena hari ini adalah hari terakhir ujian."
"Ah iya Baik Nyonya."
"Terimakasih banyak ya Kang."
"Sama-sama Nyonya. Tapi kalau boleh tahu nanti jemputnya di sekolah atau ditempat lain mungkin?" Kang Harun menahan langkah majikannya itu dengan sebuah pertanyaan lagi.
"Oh iya Nya. Saya akan jemput disana sekitar sholat ashar ya?"
"Iyap Kang. Setelah sholat ashar." Gadis itu pun pergi dari mobil mewah yang mengantarnya menuju ruangan 2 tempatnya ujian.
Waktu yang dibutuhkan menjawab pertanyaan itu sebanyak 90 menit. Tapi bagi Prilya yang benar-benar telah belajar dengan baik, waktu itu ia pangkas dan tersisa 45 menit lagi.
"Mohon di cek dengan baik kertas LJK nya ya, jangan sampai ada biodata yang masih salah pengisian." Seorang pengawas perempuan mengingatkan kembali kepada semua peserta ujian agar lebih teliti dan tidak terburu-buru.
Prilya mengecek kembali lembar jawabannya dan setelah merasa sudah cocok dan benar, ia pun mengumpulkan Lembar Jawaban Komputer itu pada pengawas ruangan.
"Apa saya sudah bisa keluar Bu?" tanya Prilya setelah kertas itu ia kumpulkan.
"Ah iya. Kamu bisa menunggu di luar tapi jangan langsung pulang karena masih ada pengumuman dari kepala sekolah yang harus kalian dengarkan."
"Baik Bu." Prilya pun keluar dari ruangan itu dibawa tatapan serius dua orang pengawas ruangan itu.
"Prilya sekarang tampak berbeda ya Bu." ujar Irmayani pada Ningsih partnernya mengawas.
__ADS_1
"Ibu Irma juga memperhatikannya ya?" Balas Ningsih ikut kepo.
"Iya, Bu. Semua guru juga membicarakannya kok."
"Apa yang mereka bicarakan? Saya kok tidak pernah ikutan ya?"
"Ya cuma heran aja sih lihat penampilannya Prilya sekarang ini. Ibu lihat kan selama hampir 3 tahun di sekolah ini, anak itu tak pernah memakai seragam baru sekalipun kecuali saat pertama ia masuk aja. Dan sekarang kita lihat kan justru di akhir waktu belajar, ia malah menggunakan pakaian yang sangat bagus dan bermerek."
"Alhamdulillah. Saya sih bersyukur Bu. Artinya keluarganya sudah tidak membeda-bedakannya lagi dengan Ardina."
"Oh iya Bu. Kasihan juga anak itu tinggal bersama dengan ibu tirinya yang tidak memperhatikannya."
"Tapi sekarang kan kayaknya keluarganya sudah berubah padanya. Tubuhnya juga sudah nampak berisi dan sekarang lebih segar dan cantik."
"Iya Bu. Tapi eh, kita kok ngomongin Prilya ya, hehehe," kekeh Ningsih setelah tersadar kalau mereka berdua telah membicarakan siswi yang bernama Prilya itu.
"Ah iya. Hehehehe," Irmayani ikutan terkekeh. Ia pun mengalihkan pandangannya ke arah peserta ujian yang masih berada di dalam ruangan.
"Waktu kalian masih ada sekitar 15 menit. Jadi periksa lembar kertas jawaban kalian jangan sampai masih ada biodata yang salah."
Tak lama kemudian, semua peserta ujian keluar dari ruangan itu dan menuju ke lapangan upacara untuk mendengarkan pengumuman dari kepala sekolah.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh!" Pengumuman itu dimulai dengan salam dari sang Kepala Sekolah.
"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh!" Semua siswa menjawab salam itu dengan kompak.
"Kami dari pihak sekolah mengucapkan banyak terimakasih pada kalian peserta ujian yang telah melaksanakan ujian akhir sekolah ini dengan lancar, aman, dan tertib."
"Pesan saya dalam hal ini adalah. Jangan membuat konvoi di jalan raya yang akan menggangu kenyamanan lalu lintas. Dan juga jangan mencoret-coret seragam sekolah kalian karena masih bisa disumbangkan kepada adik kelas kalian yang juga membutuhkan."
"Sekian penyampaian ini. Sekali lagi sekolah mengucapkan banyak terima kasih pada kalian semua. semoga hasil ujiannya memuaskan. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh!"
🌻🌻🌻
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍
__ADS_1