
Devi Aldiva merapatkan pakaian hangat yang ia pakai kedalam tubuhnya yang ramping. Saat ini udara begitu sangat dingin di luar hotel itu. Malam yang terasa akan sangat panjang saat ini ia lalui di luar kamar hotel di daerah pegunungan ini.
Selama hampir 2 pekan berada di kota tempat tinggal Prilya, ia belum pernah merasakan kopi luwak yang terkenal di daerah itu.
Dan sekaranglah saatnya ia berada diluar dan menikmati malam itu sendirian tanpa jadwal mengajar dan mengasuh Nyonya muda milik keluarga Richard.
Selain untuk dirinya sendiri, ini ia lakukan karena sedang memberi kesempatan pada Tuan Samuel Richard dan Prilya berdua saja di dalam kamar. Kembali ia merapatkan pakaian hangatnya seraya menggosok lengannya dengan telapak tangannya.
"Brrrr, dingin banget," gumamnya pelan dengan gigi bergemeletuk. Jalanan di depan yang akan dilaluinya juga nampak sangat basah. Itu artinya hujan begitu deras mengguyur kota itu sepanjang siang ini.
Gadis itu melirik penanda waktu yang terdapat pada pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB.
"Pantas saja, cuacanya sudah sangat dingin seperti ini. Siang saja, kadang cuaca sudah sangat dingin apalagi ini malam," ujarnya pelan seraya melangkahkan kakinya lebih cepat.
Ia pun melambaikan tangannya saat ingin menyeberangi jalanan yang begitu sangat ramai itu. Cafetaria yang ingin ia kunjungi, letaknya tidak begitu jauh dari Hotel tempat mereka menginap saat ini. Jadi ia hanya berjalan kaki saja. Ya, itung-itung bisa membuat tubuhnya bergerak dan bisa jadi berkeringat dengan pakaian hangat tebal yang ia gunakan saat ini.
Malam ini adalah malam terakhir ia di kota yang terkenal sebagai kota dingin ini. Besok adalah jadwal ujian terakhir bagi Prilya. Dan itu artinya, ia akan kembali beraktivitas seperti biasa lagi.
Sebuah papan nama sebuah Cafetaria sudah berada di hadapannya. Itu artinya, ia benar-benar sudah sampai di tempat tujuan.
Tring
"Selamat malam, silakan masuk." seorang pelayan laki-laki membukakan pintu Cafetaria untuknya ketika ia tiba di depan pintu bangunan minimalis bernuansa hitam dan putih itu.
"Terimakasih." Ia menjawab seraya melempar senyum pada laki-laki itu. Matanya memandang berkeliling ruangan minimalis itu. Ia cukup takjub dengan pengaturan dan desain tempat itu.
"Hem, tempatnya saja sangat nyaman begini, pasti semua pengunjung akan sangat betah berada di dalam sini." Gadis itu bermonolog sendiri dengan posisi masih berada di depan pintu.
"Silahkan duduk Nona." Seorang pelayan datang untuk memintanya duduk di meja yang masih kosong.
"Ah iya baiklah. Terimakasih banyak." Devi pun melangkahkan kakinya ke arah meja yang menghadap ke arah jendela.
__ADS_1
Seorang pelayan datang lagi menghampirinya saat ia sudah mulai meletakan tubuhnya di atas sebuah kursi.
"Mau pesan apa Mbak?" tanya pelayan perempuan dengan sebuah buku catatan kecil ditangannya. Buku itu akan ia gunakan untuk mencatat pesanan dari semua pelanggan termasuk adalah dirinya.
"Saya pesan kopi luwak yang sangat terkenal di Cafe ini." Devi menjawab dengan senyum lebar diwajahnya. Bayangan tentang aroma kopi yang khas disaat dingin seperti ini membuat sebuah perasaan bahagia menyeruak dari dalam dadanya. Ia sangat senang.
Pelayan itu pun ikut tersenyum. Rasa lelahnya melayani semua pengunjung sepanjang hari ini rasanya menguap entah kemana. Mendapatkan pengunjung yang tampak bahagia dan bersemangat adalah sebuah kepuasan tersendiri yang ia rasakan.
"Hey kok bengong?" Gadis itu menjentikkan jarinya di depan wajah pelayan yang tampak melamun itu.
"Ah tidak Mbak. Saya sangat senang dengan kunjungan mbak di Cafe ini. Setiap pengunjung yang datang pasti akan memesan kopi luwak yang sangat viral di sini. Selamat ya Mbak."
"Selamat? Maksudnya apa? Apa saya mendapatkan door prize karena memesan kopi luwak khas Cafetaria ini?" Gadis itu nampak sedikit bingung.
"Selamat datang maksudnya mbak. Promo giveaway nya nanti setelah pukul 12 malam."
"Wah curang nih. Harusnya 'kan ada pamflet yang memberi tahu tentang give away itu. Jadi saya bisa menunggu di depan Cafe sampai waktu yang dimaksud, hehehe." Devi terkekeh sedangkan pelayan itu hanya bisa tersenyum meringis.
"Kue Muffin dan martabak makaroni masing-masing satu ya."
"Itu saja Mbak?"
"Yap itu saja."
"Okey, ditunggu ya Mbak."
"Ah ya terimakasih banyak." Pelayan itu pun pergi dari meja itu dengan langkah cepat. Ekor matanya mendapati tatapan tajam dari pemilik Cafetaria tempatnya bekerja.
Sang pemilik tidak begitu suka kalau ada pelayan yang terlalu lama dalam bekerja. Dan juga ia tidak suka memberikan kesempatan pada pelayannya bercanda gurau dengan pelanggan.
Sementara itu Devi Aldiva mengisi waktu menunggu pesanannya dengan berselancar di dunia Maya. Membuka Instragramnya dan membuat sebuah insta story tentang keberadaannya di tempat itu.
__ADS_1
Ia pun mengangkat handphonenya ke depan wajahnya dan bersiap untuk berswafoto. Desain Cafetaria itu ingin ia masukkan kedalam sebuah story nya karena cukup menarik dimatanya.
"Apa saya tunggu pesanan kopiku saja ya," ucapnya dengan pelan. Kopi luwak ingin ia masukkan juga sebagai bukti kalau ia benar-benar sedang berada di tempat yang sedang viral itu. Akhirnya ia menyimpan kembali handphonenya. Ia ingin menunggu sampai kopi dan kue muffin favoritnya datang. Dan akan ia unggah ke dalam sebuah hot story malam ini.
"Silahkan mbak. Pesanan kopi, Muffin dan juga martabak makaroninya." Pelayan yang tadi mengatur pesanan Devi dengan sangat cantik dihadapannya.
"Makasih banyak. Ini fotogenik banget." Devi tersenyum kemudian melanjutkan mengambil handphonenya. Ia bersiap mengambil foto lagi seraya menghirup aroma kopi yang sangat menggugah selera itu. Sang pelayan tersenyum. Ia pun segera menyingkir dari meja itu untuk memberikan waktu pada nona baik hati dan ceria itu.
Cekrek.
Cekrek.
Berkali-kali ia mengambil foto dirinya bersama makanan dan minuman itu sampai ia merasa tangannya tiba-tiba beku.
Ia tak bisa bergerak karena didalam tangkapan layar kameranya, seseorang yang pernah hadir dalam masa lalunya kini berada dalam satu frame dengannya.
Oh tidak. Apa saya sedang bermimpi? Kenapa ia hadir lagi disini saat saya sudah berhasil melupakan nya
Devi Aldiva membatin dengan tangan menyimpan dengan cepat handphone yang ia gunakan tadi. Tiba-tiba ia merasa cuaca Cafetaria itu berubah drastis. Rasa senangnya kini berganti menjadi perasaan yang sangat takut.
Tenang Dev. Yakinlah bahwa semua akan baik-baik saja.
Gadis cantik itu menarik nafas panjang untuk terus mensugesti dirinya kalau semua hal yang akan terjadi ini akan mudah dihadapinya.
"Lama tak berjumpa Dev."
🌻🌻🌻
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😍