Tawanan Hati Sang Musuh

Tawanan Hati Sang Musuh
Bab 60 Cemburu Dan Dendam


__ADS_3

Hari pun berganti. Asna dan juga Ardina berpamitan untuk pulang ke kota kecil tempat mereka tinggal selama ini. Ada rasa sedih yang dirasakan oleh Prilya ketika dua orang keluarga terdekatnya itu akan pergi dari rumah suaminya.


Untuk beberapa hari ini mereka sudah mulai akrab layaknya sebuah keluarga yang bahagia. Prilya dan keluarga suaminya sudah sering meminta agar mereka berdua tinggal saja disana dan melanjutkan pendidikan bersama akan tetapi Asna dan Ardina tidak pernah mau.


Padahal fasilitas yang mereka dapatkan bagaikan seorang pemilik rumah itu. Akan tetapi keduanya merasakan ketidaknyamanan juga. Masih ada rasa malu dan segan pada keluarga Richard. Untuk itu mereka ingin kembali pulang setelah acara zikir dan doa bersama keluarga itu telah selesai.


"Tinggallah lagi barang satu atau dua pekan Bu. Kita akan pulang bersama saat pengumuman ujian sekolah nanti," ujar Prilya memohon agar mereka menunda kepulangannya.


"Ah tidak sayang, Ibu juga rindu pada rumah sederhana kita dikampung. Jadi biarkan kami pulang terlebih dahulu." Asna tetap menolak. Ia benar-benar merasa sudah sangat lama meninggalkan rumahnya.


"Baiklah ibu. Mohon maaf karena saya dan Mas Sam, tidak mengantar ibu sampai rumah tapi hanya sopir keluarga saja yang akan menggantikan kami."


"Tidak apa. Kami tidak diantar pun tidak masalah Pril. Kamu istirahat saja di rumah. Semoga kamu cepat mendapatkan momongan supaya ibu segera mendapatkan cucu."


"Uhukkk uhukkk." Gadis itu terbatuk-batuk karena mendengar kata cucu. Sungguh, ia belum pernah membayangkan akan mendapatkan seorang anak secepat ini.


"Ada apa sayang?" tanya Samuel Richard dengan wajah khawatir.


"Tidak, uhukkk uhukkk, saya hanya uhuuk," Prilya terus saja terbatuk karena tersedak dengan air liurnya sendiri.


Sang suami langsung berlari kedalam rumah untuk mengambil minuman untuk perempuan kesayangannya itu. Setelah sampai Ia pun segera memberikan air putih dalam bentuk botol kemasan pada istrinya.


Asna, Elizabeth, dan yang lainnya hanya bisa tersenyum melihat perhatian yang sangat besar dari seorang Samuel Richard untuk istrinya. Sebuah hal yang luar biasa dilakukan oleh pria itu untuk seorang perempuan selain ibunya.


"Waktu sudah siang, dan kami benar-benar harus berangkat agar tidak kemalaman sampainya," pamit Asna seraya menyalami Elizabeth sang besan.


"Jangan lupa untuk datang pada pesta pernikahan Sam dan Prilya ya Bu."


"Insyaallah, kami akan datang."


"Eh, iya kami baru akan merayakan pernikahan mereka saat Prilya berusia 19 tahun. Usia nikah perempuan sesuai peraturan negara kita Bu. Jadi kami memohon maaf kalau acaranya tidak kami rayakan sebelum ini."

__ADS_1


"Ah iya Bu. Itu tidak masalah buat kami. Prilya sudah sangat bahagia di rumah ini, itu saja sudah membuat kami sangat senang." Asna berucap seraya tersenyum.


"Iya bu." Elizabeth memeluk dan mencium besannya itu untuk yang terakhir kalinya. Ternyata selama beberapa hari bersama, mereka menjadi cukup akrab.


"Mari Bu, Tante kami permisi, Assalamualaikum." Ardina pun menarik tangan ibunya karena tidak jadi-jadi berangkat padahal sudah berulangkali berpamitan. Perempuan paruh baya itu pun akhirnya keluar dari rumah mewah itu setelah berbasa-basi sangat lama.


"Ibu, ambil ini sebagai pemberian dari Mas Sam dan keluarga." Prilya tiba-tiba memberikan satu buah amplop berwarna coklat kepada ibu tirinya itu. Perempuan paruh baya itu sudah duduk di dalam mobil yang akan mengantarnya pulang.


"Ini apa Pril?" tanya Asna dengan wajah bingungnya. Ia mengangkat amplop tebal itu yang sepertinya berisi uang.


"Itu hanya sekadar saja Bu. Untuk modal usaha ibu kalau sampai di kampung."


"Terima kasih banyak Prilya. Kamu sangat baik pada ibu dan Dina, nak." Asna terharu dan tak sadar menitikkan airmatanya. Untuk kesekian kalinya perempuan itu merasa sangat malu pada anak tirinya yang selama ini ia siksa dan buat menderita.


"Berangkat Mang!" Samuel segera memerintahkan sopir pribadinya untuk segera melajukan mobil itu. Ia tidak mau melihat istrinya itu kembali menangis dan mengulang kembali kenangan lama yang pernah sangat menyakitinya. Kendaraan itu pun pergi dari hadapan mereka semua.


Setelah itu sebuah mobil lainnya berhenti di depan dua orang suami istri itu.


"Ayo masuk sayang," ujar sang suami seraya menarik tangan istrinya ke dalam mobil itu. Black dan Devi sudah duduk di jok depan kendaraan roda empat itu.


"Kami ada meeting di sebuah Mall. Jadi kamu dan Prilya bisa jalan-jalan disana sampai kami selesai." Samuel menjawab seraya menatap istrinya yang sedang duduk di sampingnya itu.


"Wah, itu ide yang bagus sayang. Saya dan Kak Devi pasti akan sangat menikmatinya, hem," balas Prilya dengan wajah yang tampak berubah sangat cerah. Terakhir ia dan Devi berbelanja di Mall waktu itu dan pengalaman itu sangat menyenangkan.


"Nikmati hari ini sayang, karena setelah itu kamu harus berterima kasih dengan benar , Hem." Samuel Richard mencubit hidung mancung istrinya kemudian mengecupnya singkat.


Black dan Devi yang duduk di jok depan hanya bisa saling lirik mendengarkan percakapan pasangan dibelakangnya itu.


Mereka juga ingin melakukan hal yang sama tapi tak punya kesempatan karena tiba-tiba saja pria bucin itu langsung berteriak.


"Jalan Black dan jangan berpikir yang tidak-tidak!"

__ADS_1


"Iya Tuan!"


Devi Aldiva hanya bisa menahan senyumnya karena melihat ekspresi datar suaminya yang sangat lucu buatnya.


Perjalanan itu panjang menuju ke tempat meeting itu sungguh sangat menyiksa kedua pasangan pengantin baru itu. Pasalnya Samuel dan juga Prilya tak segan-segan memperdengarkan keromantisan mereka di belakang sana.


Black sampai mencengkram kemudinya dengan sangat kuat karena kesal. Sepupu sekaligus pimpinannya benar-benar sengaja memancing mereka berdua.


"Sabar," ucap Devi dengan senyum diwajahnya. Ia tahu kalau suaminya sudah terpancing dengan mengendarai mobil begitu sangat kencang.


"Iya Dev, saya sedang sangat sabar sekarang. Dan buktinya kita bisa cepat sampai ditujuan tanpa mendengar suara-suara yang sangat menggangu kupingku," dengus Black seraya menghentikan mobil itu dengan cepat.


Ciiit


"Black! Kamu, seperti orang yang tidak lulus tes mengemudi! Akan aku pastikan SIM mu akan dicabut, kalau ada lecet sedikit saja pada dua perempuan istimewa ini." Samuel Richard mengomel dengan kesal.


"Terserah!" Black menjawab kemudian turun dari mobil itu dan membukakannya pintu.


"Dev, pastikan kalian berdua menikmati waktu ini."


"Baik Tuan, terimakasih banyak." Devi membukukan badannya hormat pada pimpinannya itu.


"Aku meeting dulu sayang," pamit Samuel Richard pada Prilya seraya mengecup kening istrinya itu dengan penuh perasaan. Black sekali lagi cemburu. Ia juga ingin melakukan hal yang sama tapi ia masih sangat tak berani melakukan hal tersebut di depan umum.


Dan ternyata, bukan saja Black dan juga Devi yang merasa cemburu dengan kemesraan mereka berdua. Seorang perempuan cantik yang sedang tak jauh dari mereka mengepalkan tangannya dengan dada naik turun menahan marah.


"Oh, jadi dia penyebab Sam tak mau lagi melihatku? Awas kamu!"


🌻🌻🌻


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2