Tawanan Hati Sang Musuh

Tawanan Hati Sang Musuh
Bab 37 Butuh Pelepasan


__ADS_3

"Siapa kamu?" tanya Samuel Richard dengan tatapan tanya pada pria yang baru saja tiba ditempat itu. Rendra tersenyum miring kemudian memandang Black dengan tatapan mencemooh.


"Saya adalah suami Devi Aldiva. Pria ini berkata ingin membebaskannya dariku tapi hanya memberikan ini saja," jawabnya seraya memperlihatkan satu ikat uang merah yang ia simpan di dalam jaketnya.


"Black?" Samuel Richard menatap pria kepercayaannya itu dengan tatapan tajam. Ia meminta penjelasan.


Black pun melangkah maju dan menghampiri pria mata duitan itu. Dengan cepat ia merebut kembali uang yang ia berikan sebelumnya.


"Tadinya ini hanya tanda jadi. Tapi karena kamu tidak mau, baiklah saya ambil kembali," ucap pria tanpa ekspresi itu seraya menyimpan uang itu kedalam saku bagian dalam setelan jasnya.


"Hey kamu?!" Rendra semakin tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh pria itu.


"Kenapa? Kamu mau meminta lebih? 1 M 'kan? Saya bisa memberikannya sekarang asalkan kamu bisa menunjukkan bukti kalau Devi Aldiva adalah benar istri sah kamu yang tercatat di Kantor Urusan Agama."


Seketika Rendra merasakan tubuhnya membeku. Ia tidak mungkin mengatakan kalau selama ini mereka berdua hanya nikah siri dan tidak bisa tercatat di negara.


"Ayo tunjukkan pada kami buku nikah kalian sekarang juga kalau memang benar Devi adalah istri sah kamu." Sekali lagi Black menantang dengan wajah ia angkat.


Sejak tadi ia curiga dengan hal tersebut karena ia pernah melihat status pernikahan Devi Aldiva di dalam kartu tanda penduduknya. Dan didalam sana tertulis kalau gadis itu belum menikah.


Samuel Richard tersenyum dalam hati. Ia tahu kalau Black itu bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.


"Saya tidak mungkin membawa buku nikah kemana-mana. Apalagi tengah malam begini. Kamu sengaja bikin masalah ya?!" Rendra tidak mau kalah. Ia juga tidak mau kelihatan kalah dalam hal ini.


"Kalau begitu. Kalian damai saja gimana?!" Samuel Richard ikut menengahi dua orang yang sedang dalam masalah itu. Semua orang langsung menatap kearahnya.


"Devi Aldiva adalah orang yang bekerja pada saya saat ini. Jadi saya yang bertanggung jawab padanya. Dan anda tahu saat ini sudah jam berapa? Saat ini sudah waktunya tidur."


"Besok pagi-pagi sekali kita bicarakan hal ini. Kita istirahat terlebih dahulu."


"Ah iya, betul sekali. Mari kita istirahat. Besok pagi kita lanjutkan lagi." Praja Wijaya pun ikut berbicara.


"Tapi bagaimana dengan Devi, dia harus ikut bersama dengan saya." Rendra kembali ingin menang sendiri.


"Tak ada yang ikut siapa. Devi memang sedang menginap di hotel ini. Jadi ia akan kembali ke kamarnya begitupun dengan kami semua. Dan mengenai kalian yang tinggal di kota ini. Silahkan kembali ke rumah masing-masing." tegas Samuel Richard tak ingin dibantah. Ia pun meminta Black membawa Devi keluar dari mobil.


"Saya tidak setuju!" Rendra kembali tidak terima keputusan itu. Ia benar-benar ingin mempertahankan Devi dan mengambilnya kembali jika orang-orang kaya ini tidak memberikan apa yang ia inginkan.


"Terserah padamu. Kamu setuju atau tidak. Yang jelasnya kami ingin tidur dan beristirahat." Samuel tidak ingin lagi mendengar kata-kata pria itu. Ia pun membawa guru privat dari istrinya itu ke kamarnya di lantai 5. Sedangkan Black bertahan di tempat itu untuk menyelesaikan masalah pribadinya dengan Rendra.


"Jadi kamu tidak bisa menunjukkan buku nikahmu itu pak Rendra?" tanya Black dengan tatapan serius kedalam mata pria itu. Rendra hanya mendengus kesal dan tidak ingin menjawab pertanyaan rivalnya itu.

__ADS_1


Ia pun pergi dari sana bersama dengan orang-orangnya. Malam ini ia harus mendapatkan buku nikah agar ia bisa mendapatkan Devi Aldiva kembali atau uang yang 1M itu.


Sementara itu, Samuel Richard dan Devi Aldiva sudah sampai di depan kamar Prilya.


Tok


Tok


Tok


Pintu kamar itu Devi ketuk berkali-kali karena sepertinya gadis yang ada didalam sana sudah tertidur.


"Bagaimana ini Tuan? Kasihan dengan Nyonya muda Ia pasti sudah tidur."


"Kalau begitu pakai kunci kamar ini. Kamu bisa istirahat malam ini dikamar itu."


"Kamar 510?" Devi bertanya dengan mata melihat kamar disebelah kamarnya dengan Prilya.


"Masuklah dan istirahat. Semua akan baik-baik saja."


"Terima kasih banyak Tuan." Devi pun membuka pintu kamar disebelahnya dan segera masuk ke sana.


Tok


Tok


Tok


Prilya yang sudah tertidur akhirnya bangun dengan mata yang masih sangat mengantuk. Ia pun meregangkan otot-ototnya kemudian bangkit dari ranjangnya setelah berhasil mengumpulkan nyawanya.


"Siapa sih yang mengetuk pintu kamar seperti orang kesetanan? Apa dia tidak tahu kalau saya sudah tertidur?" gerutunya pelan kemudian memakai sweater nya. Ia pun berjalan menuju pintu kamar itu.


Ceklek.


Samuel Richard tidak mengucapkan apapun. Ia hanya langsung masuk ke kamar itu dengan tatapan bingung sang istri. Pria itu langsung membuka stelan jasnya dan masuk ke kamar mandi setelah menghubungi Black untuk menyiapkan pakaian tidurnya.


Sedangkan Prilya hanya mengangkat kedua bahunya bingung. Beberapa saat yang lalu suaminya marah-marah tidak jelas sewaktu ia tidak mengikuti keinginannya untuk duduk dipangkuan pria itu.


Gadis itu mengangkat kedua bahunya kemudian segara naik kembali ke atas tempat tidur. Tidurnya yang baru saja sangat nyenyak kini jadi terganggu karena kedatangan pria ini.


Ia pun menutup matanya setelah membaca doa sebelum tidur. Tak lama kemudian ia pun tertidur. Sedangkan Samuel Richard yang baru keluar dari kamar mandi hanya bisa menarik nafas kecewa melihat istrinya kembali tidur. Ia melangkahkan kakinya ke arah pintu setelah mendengar ketukan dari sana.

__ADS_1


"Itu pasti Black." ujarnya seraya membuka pintu kamar itu. Pria itu yakin kalau Black pasti membawakan pakaian tidurnya.


Ceklek.


"Ini pakaiannya Tuan."


"Terimakasih banyak ya Black." Pria itu berucap dengan senyum diwajahnya.


"Nikmati malam ini dengan Devi Black. Sekarang ia adalah milikmu," lanjutnya yang langsung membuat wajah Black berubah warna.


"Anda mau cari masalah ya Tuan?" Black menatap wajah Samuel Richard dengan wajah sedikit kesal. Samuel Richard langsung tertawa terbahak-bahak.


"Jangan terlalu serius Black. Kita keluarga Richard sering melakukan ini dengan perempuan yang kita sukai."


"Heh, jangan membuatku tertawa. Kamu saja belum berhasil juga mendapatkan istrimu yang masih belia itu." Ekspresi Black berubah mencemooh. Ia kembali menjadi seorang anggota keluarga Richard.


"Jangan ragukan aku Black. Itu semua kulakukan karena ia akan menghadapi ujian akhir. Kalau tidak? Maka aku pastikan ia tidak akan bisa pergi kemanapun. Mengerti kamu?" Pria itu merasa tersinggung dengan perkataan sepupunya itu. Black kembali tersenyum mencemooh.


"Ya ya ya, kamu tak pernah mau mengatakan kalau kalah. Baiklah nikmati saja malam ini dengan sangat tersiksa."


Black kembali ke mode serius. Ia pun meninggalkan Tuannya itu kemudian menuju ke kamarnya sendiri untuk beristirahat. Malam sudah semakin larut saja. Tubuh dan pikirannya rasanya butuh relax ataupun santai setelah apa yang terjadi.


Samuel Richard tersenyum samar kemudian menutup pintu kamar itu. Ia pun masuk kembali untuk mengganti pakaiannya yang ia gunakan sekarang menjadi pakaian tidur.


Pria itu menatap istrinya yang sudah terlelap dengan pulas. Rasanya ia tidak tega membangunkannya malam ini untuk mendapatkan sesuatu yang sudah lama ia inginkan. Akhirnya ia pun naik ke tempat tidur itu dengan hati-hati.


Tangannya ia gunakan untuk memeluk gadis manis yang entah kenapa sudah sangat menyita perhatiannya akhir-akhir ini. Jauh darinya untuk beberapa saat sudah membuatnya sangat rindu.


"Apakah ini kekuatan dari yang namanya hubungan pernikahan? Kenapa aku begitu sangat merindukanmu Hem?" bisik Samuel Richard dengan tangan membawa tubuh Prilya kedalam pelukannya.


"Aku tidak tahu sejak kapan rasa ini ada untukmu, tapi sungguh aku sangat menikmati ini semua." Pria itu terus bermonolog untuk menghindarkan dirinya dari pikiran yang sudah mengarah pada sebuah acara pelepasan.


Akan tetapi ia jadi tersiksa sendiri dengan caranya sekarang ini. Sesuatu dari dalam dirinya kini mulai berkedut dan mengantarkan sebuah rasa yang sangat luar biasa.


Oh tidak!


🌻🌻🌻


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2