
Pria itu membuka laptopnya dan mulai mengecek atau memeriksa tentang keaslian buku nikah itu. Rendra sendiri langsung merasa wajahnya jadi pucat.
Pria itu tidak menyangka kalau dua pria yang selama ini mempekerjakan Devi membawa seorang operator SIMKA dari sebuah Kantor Urusan Agama.
"Maaf Pak buku ini palsu. Nomor yang tertera disini sudah terpakai oleh pasangan suami dan istri atas nama Deny Adi Prabowo dan Cinta Dealova." Operator itu menunjukkan data yang sebenarnya pada semua orang.
"Hey apa maksudnya ini. Ini adalah buku nikah saya dan Devi. Enak saja ngomong kalau buku ini palsu." Rendra berkelit. Ia tidak mau langsung kalah pada awal acara ini.
"Jadi yang mana yang harus saya percaya? Kamu atau operator dari Kantor Urusan Agama yang lebih diakui oleh negara?" Samuel Richard memandang tajam pria bernama Rendra itu.
"Dan satu lagi, apa yang kamu lakukan ini bisa kami tuntut sebagai pemalsuan dokumen dan pembohongan publik," lanjut pria itu dengan berusaha menahan untuk tidak tersenyum. Ia tahu kalau pria dihadapannya sudah kalah. Tak ada lagi bukti kuat yang bisa menahan Devi lebih lama dengannya.
"Hey, kalian sebenarnya mau apa? Devi adalah istriku dan saya berhak melakukan apa saja padanya. Bahkan menjualnya pun saya berhak. Ia adalah milikku sampai ia mati!" Rendra tersudut. Hanya itu alasannya yang paling kuat untuk mempertahankan apa yang ia miliki.
Black merasakan darahnya mendidih. Tangannya mengepal kuat dan ingin segera menghantam pria brengsek yang tidak tahu malu dihadapannya itu.
"Dan sekarang tanyakan padanya kalau saya benar-benar telah menikahinya secara agama!" lanjut pria itu seraya menunjuk wajah Devi. Perempuan yang ditunjuk itu langsung berdiri dari duduknya. Ia menatap pria itu dengan tajam.
"Memang benar kalau kamu telah menikahi saya. Tapi apa yang saya dapatkan? Hanya penderitaan yang kamu berikan. Jadi sekarang saya menuntut cerai padamu!" Devi menjawab dengan berani. Ia tidak ingin ditindas lagi. Gadis itu dengan berani mengangkat wajahnya dan menatap pria jahat itu.
"Sampai kapanpun saya tidak akan mau menceraikan kamu. Atau kalian harus mau mengikuti apa yang saya perintahkan!" Rendra membalas dengan tak kalah tajam.
__ADS_1
"Terserah! Saya sudah tidak ada niat sedikit pun kembali padamu! Jadi sekali lagi kamu ingin melakukan hal buruk padaku, saya pastikan penjara lah tempatmu! Kamu telah melakukan kejahatan dan kekerasan dalam rumah tangga!"
"Heh, berani kamu ya?" Rendra berdiri dari duduknya dan meraih tangan Devi kemudian memeluknya. Sebuah pisau kecil ia keluarkan dari saku celananya dan ia tempelkan pada leher gadis itu.
"Berikan uangnya sekarang juga atau nyawa perempuan ini melayang di depan kalian semua." Rendra mengancam semua orang yang ada disana. Ia tak punya pilihan lain untuk menyelamatkan dirinya. Samuel dan Black saling berpandangan. Mereka saling memberi kode untuk menyerang pria itu.
"Aaaargh! Lepaskan saya bajingan!" Devi berteriak keras karena pisau kecil itu mulai mengiris kulitnya. Ia meringis menahan rasa sakit dan perih yang sangat terasa.
Bugh
"Aaaargh!" Tiba-tiba saja satu buah gelas melayang dan jatuh tepat di atas kepala Rendra. Kepala pria itu berdarah. Ia segera melepaskan rengkuhannya pada Devi untuk mengelus kepalanya yang sudah mengeluarkan banyak darah.
Bugh
Dess
Prang
Mereka bertiga saling menyerang dan mengakibatkan Restoran itu tampak kacau. Meja dan kursi sudah berpindah tempat dalan keadaan yang sangat kacau.
Beberapa aparat keamanan pun datang setelah pihak hotel menghubungi mereka. Rendra dan beberapa orang itu diamankan dengan cepat ke kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka yang sudah cukup menggangu kenyamanan tamu hotel itu.
__ADS_1
"Kalian semua silahkan jelaskan masalah ini di kantor Polisi." Mereka pun taat. Akan tetapi tidak bagi Rendra. Ia tidak mau pergi dengan mempertahankan bahwa ia tidak salah. Yang salah itu adalah dua orang ini yang ingin mengambil istrinya sendiri.
"Apapun itu Pak. Anda harus menjelaskannya di kantor polisi. Mari ikut saya," ujar salah seorang dari polisi itu seraya meminta dengan sopan pada semua pria yang dikenal sebagai orang-orang yang terhormat itu.
Mereka semua pun pergi dari tempat itu untuk memberikan kesaksian. Tak berapa lama kemudian mereka pun tiba di kantor polisi itu. Beberapa barang bukti sudah ada ditempat itu Keterangan saksi pun sudah terkumpul.
Dan begitu malang nasib dari seorang Rendra. Setelah semua bukti dipaparkan, pria itu langsung ditahan sebagai tersangka pemerasan, perdagangan manusia, dan juga pemalsuan dokumen.
"Saya tidak akan memaafkan kalian." Rendra berteriak dengan wajah penuh amarah dan dendam.
"Kamu pikir kami juga mau memaafkan kamu? Jangan bermimpi Mas Bro." balas Devi dengan wajah ia buat mengeras. Ia berharap sekali pria itu dihukum dengan seberat-beratnya.
Mereka semua pun diizinkan untuk pulang kecuali Rendra tentunya. Pria itu langsung ditahan karena telah ditetapkan sebagai tersangka.
🌻🌻🌻
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍
__ADS_1