Tawanan Hati Sang Musuh

Tawanan Hati Sang Musuh
Bab 51 Kembali Dari Nirwana


__ADS_3

Samuel Richard tersenyum puas setelah berhasil mengarungi perjalanan panjang menuju nirwana bersama dengan Prilya, perempuan yang sah ia sentuh dan berikan perlakuan istimewa.


Sebuah perjalanan indah yang begitu banyak hambatan karena sang istri tercinta menolak diajak terbang bersama.


Prilya yang awalnya merespon sangat baik tiba-tiba menolak di tengah perjalanan saat sang suami sudah sangat terbakar hasrat. Beruntungnya karena sang suami begitu sabar menghadapinya. Hingga ia menunda sebentar saja keinginannya dan mulai memohon agar gadis itu mau menerimanya.


"Ada apa sayang? Apa kamu tidak kasihan padaku Prilya?" tanyanya dengan tatapan berkabut gairah.


"Takut," cicit gadis itu dengan sangat pelan. Ia berusaha memandang ke arah lain karena sangat takut dan kaget saat melihat sesuatu yang besar, panjang, dan keras berada pada bagian bawahnya. Sebuah belalai yang sudah siap membawanya menikmati indahnya perjalanan yang penuh kesyahduan itu.


Meskipun ia pernah menyentuhnya saat itu tapi melihat penampakannya sekarang ia jadi merinding takut. Akhirnya segala bujuk rayu Samuel Richard keluarkan agar Prilya tidak lagi menolaknya.


Cukup sudah ia pusing dan hanya bisa menggigit jarinya sendiri saat ia sedang sangat menginginkan sang istri dan ada saja hal yang menghalanginya.


Pria itu akhirnya bisa juga mendapatkan sang istri meskipun dengan penuh drama.


Prilya akhirnya pasrah. Ia cukup kasihan pada suaminya yang sudah memberinya sebuah rasa yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Sebuah rasa nikmat tak terhingga hanya dengan sentuhan dan belaian ringan pada sekujur tubuhnya.


Meskipun pada akhirnya ia harus mengamuk dan berteriak sakit saat belalai sang suami berhasil merobek selaput tipis yang selama ini sudah dijaga dengan baik olehnya tapi akhirnya ia menikmatinya juga.


"Terimakasih sayang," bisik pria itu dengan senyum puas diwajahnya. Ia sampai menciumi seluruh permukaan wajah istrinya karena sangat bahagia. Prilya ikut tersenyum dengan wajah cantiknya.


Gadis itu nampak sangat kelelahan dan kesakitan. Ia sampai tidak bisa bergerak dari posisinya sekarang karena sang suami benar-benar menyerangnya tanpa ampun. Hampir dua jam mereka berada di nirwana dan baru kembali saat pria itu telah berhasil meredakan dirinya di dalam miliknya yang sangat sempit.


Samuel Richard memeluk istrinya dengan kata-kata indah penuh cinta. Ia pun membantu gadis itu membersihkan dirinya dengan menggendongnya ke kamar mandi. Mereka mandi bersama dengan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi di dalam kamar mandi itu.


"Istirahatlah. Aku akan membawakan kamu sarapan," ucap pria itu seraya mengecup kening sang istri. Prilya hanya mengangguk pelan. Tenaganya sudah terkuras habis oleh pria tampan berdarah Indonesia dan Inggris itu.


Samuel Richard tersenyum kemudian segera memakai pakaiannya. Ia ingin keluar dari kamar itu tetapi tangannya ditarik oleh Prilya.


"Ada apa sayangku? Kamu masih sakit?" tanyanya dengan tatapan penuh cinta. Prilya tersenyum dengan dada berdebar bahagia. Ia tak menyangka kalau pria tampan itu bisa sangat baik dan lembut seperti saat ini.

__ADS_1


"Kita belum mendoakan ayah dan ibu kak. Kita juga belum sholat subuh." Seketika Samuel Richard tersentak. Selama ini ia berstatus muslim tapi ia jarang melaksanakan kewajiban yang namanya sholat itu.


"Kamu mau sholat?" tanya pria itu seraya mendekat ke arah istrinya yang sedang berbaring di ranjang itu. Prilya tersenyum lalu berusaha untuk bangun.


"Ini sudah siang sayang, apa kita belum terlambat?"


"Gak apa-apa kak. Kan tadi kita lupa karena sibuk itu, jadi kita tetap harus melaksanakannya. Ayo. Kita juga udah mandi 'kan?"


Samuel Richard menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tiba-tiba merasa takut menjadi imam untuk istrinya. Ia tidak banyak tahu tentang bacaan sholat.


"Ayo kak." Prilya dengan langkah pelan karena rasa perih pada inti dirinya, segera ke kamar mandi untuk berwudhu' sedangkan sang suami hanya bisa mengikutinya untuk melakukan hal yang sama.


"Saya belum bisa jadi imam sayang, kita sholat sendiri-sendiri saja ya," ujar Pria itu dengan wajah tak nyaman.


"Iya Kak. Gak apa-apa. Yang penting kita tidak melewatkan waktu sholat." Prilya memakai mukenanya dan segera memberikan satu sajadah untuk suaminya dan satu sajadah untuk dirinya sendiri.


"Pril, sholat subuh berapa?"


Samuel Richard tersenyum meringis. Ia masih banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan tapi ia sungguh malu. Sedangkan Prilya sendiri sudah sholat terlebih dahulu.


Dalam hati pria itu berjanji untuk belajar kepada seorang guru. Ia pun sholat sesuai dengan apa yang ia bisa. Dua rakaat dengan empat kali sujud. Mengenai bacaannya, ia akan membaca sesuai dengan yang ia bisa.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh," ucapnya untuk menutup rentetan rukun sholat dua rakaat di pagi hari itu.


"Kita doakan ayah dan ibu Kak."


"Eh iya." Pria itu pun mengangkat tangannya dan berdoa semoga ayah dan ibu istrinya dilapangkan kuburnya dan diampuni segala dosanya.


"Siang ini saya akan mengundang anak-anak dari pesantren untuk datang ke rumah ini mendoakan ayah dan ibu, sayang," ujar Samuel seraya meraih istrinya keatas pangkuannya yang sedang dudu bersila.


"Terimakasih banyak Kak. Saya tidak tahu harus membalas apa padamu," balas Prilya dengan senyum diwajahnya.

__ADS_1


"Hey, itu kan kewajiban saya sebagai suamimu Prilya sayang." Samuel Richard mencubit ujung hidung istrinya kemudian meraih bibir yang nampak masih sangat membengkak karena perbuatannya itu dan melumattnya pelan dan sangat lama.


"Kamu cukup membalas ciumanku sayang," bisik pria itu dengan suara rendah. Priya tersenyum kemudian melakukan apa yang diinginkan suaminya meskipun ia belum mahir.


"Lapar," ujar Prilya setelah bibirnya dilepaskan oleh suaminya dengan tidak rela. Samuel Richard cukup peka juga setelah mendengar bunyi perut istrinya itu.


"Hem, baiklah. Kita sarapan dulu, setelah itu kita melanjutkan ini lagi. Ada yang masih mau Prilya sayang." Samuel Richard segera menurunkan tubuh istrinya dari atas pangkuannya karena belalainya sedang menggeliat dan tak lama kemudian bangun dengan rasa yang tak terbendung.


"Kak, saya mau makan di kamar saja , boleh ya? Saya masih malu keluar kamar ini."


"Ah iya baiklah. Aku juga malu keluar dari kamar dalam keadaan seperti ini sayang," ujar Samuel seraya memperlihatkan miliknya dari balik sarungnya. Belalai itu kembali berdiri dengan sangat kokoh.


Prilya meringis melihatnya. Ia merinding akan tetapi ia lebih memilih sarapan terlebih dahulu daripada meladeni lagi belalai suaminya yang cukup menggoda imannya itu.


Samuel Richard pun berdiri dari duduknya dan menghubungi Ibu Anita agar meminta pelayan membawa makanan untuk mereka pagi itu.


"Kita tunggu makanan sambil bermain yuk," ujar pria itu dengan senyum licik diwajahnya. Prilya tersenyum kemudian mengangkat alisnya sebelah.


"Permainan apa kak?"


"Ada aja."


"Ish."


"Nanti kamu akan lihat dan rasakan sendiri."


🌻🌻🌻


*Bersambung.


Semoga bab ini gak vulgar ya para readers. Kalau seandainya menggangu puasanya, berikan komentar ya, supaya direvisi kembali.🙏😬🤭

__ADS_1


Like dan komentarnya dong. Rating bintang lima dan juga hadiah yang banyak aku nantikan ya.


__ADS_2