
"Pril, kamu makan dulu ya," bujuk Devi pada perempuan yang sedang tidur tengkurap di atas tempat tidurnya itu. Nampak sekali kalau Prilya masih sangat sedih dengan apa yang terjadi.
"Gak mau makan Kak. Gak ada selera sama sekali. Rasanya mules aja ngebayangin gambar-gambar itu."
"Kalau udah makan pasti perasaanmu lebih baik. Lihat sup daging brokoli ini, Rasanya humm... lezat banget." bujuk Devi dengan menunjukkan ekspresi yang sangat tergoda pada makanan yang baru saja diantarkan oleh salah satu pelayan di rumah itu. Khusus untuk Prilya, pelayan selalu membuatkan makanan untuknya agar tubuhnya terbentuk dengan baik. Dan adalah perintah dari Samuel Richard sendiri.
"Gak minat kak. Untuk apa? Tubuhku kayaknya sampai sekarang masih gini-gini aja. Kak Devi lihat kan di mbak Miss World itu. Tubuhnya kayak gimana. Langsing dan berisi ditempat yang tepat." Priya pun bangun dan menatap wajah Devi Aldiva. Ia benar-benar butuh teman untuk curhat sekarang.
"Apa tubuh saya masih belum menarik Kak Dev?" lanjut Prilya dengan perasaan rendah dirinya.
"Heh siapa bilang? Kamu udah jauh berbeda daripada beberapa saat yang lalu, saat kita pertama kali bertemu."
"Benarkah?" tanya Prilya dengan mata berbinar.
"Iya, coba deh berdiri. Biar saya tunjukkan kalau kamu berbeda dengan yang dulu." Devi tersenyum kemudian meminta Prilya untuk berdiri. Perempuan itu menyusut hidungnya karena terlalu banyak menangis.
Sedangkan Devi langsung menyentuh dua aset kenyal yang dimilki oleh perempuan itu.
"Aaaw Kak. Kamu kok suka bikin kaget sih?" Prilya begitu kaget karena Devi menyentuh miliknya sekilas.
"Hahaha maaf, maaf. Punyamu sama lebih besar dari milikku Pril. Dan pinggulmu ini juga sudah mulai berbentuk. Ini karena olahraga yang selama ini kita lakukan. Bagian belakangmu juga sangat montok. Kamu sedang tidak menggunakan pantat palsu 'kan Pril?"
__ADS_1
"Ish, apaan pakai alat palsu seperti itu. Kata Mas Sam, ia yang akan memperbesar bagian-bagian tertutup pada tubuhku, mungkin bagian itu juga semakin besar karena usahanya selama ini. Gitu kan kak?"
"Hahahaha. Mungkin saja Pril. Nanti akan saya coba bersama dengan suamiku sendiri. Siapa tahu berhasil hahaha."
"Tentu saja berhasil. Ini buktinya kak hahaha," ujar Prilya dengan tawa renyahnya. Seketika rasa bencinya pada suaminya dan perempuan Miss world itu langsung menguap entah kenapa.
"Nah, tuh kan? Kamu sebenarnya lebih cantik daripada Mbak Miss world itu Pril. Kamu hebat makanya Tuan Richard sangat menyayangimu."
"Sayang tapi menyakitkan Kak. Rasanya itu tak bisa diucapkan dengan kata-kata kak Dev," ujar Prilya seraya berjalan ke arah meja tempat sup daging brokoli untuknya berada. Ternyata setelah menangis ia jadi merasa sangat lapar.
"Kak, ayo makan sama-sama. Supaya tubuh kita sehat dan juga berisi." Akhirnya gantian dirinya yang mengajak Devi Aldiva untuk makan.
Mereka berdua pun makan bersama dengan sangat nikmat. Semangkuk sup panas dengan sambel pedas mereka habiskan dengan cepat. Setelah itu mereka berdua mandi dan berencana untuk pergi ke taman samping rumah untuk merapikan bunga-bunga. Mereka juga ingin merasakan kesibukan di rumah itu.
🌻
Samuel Richard turun dari mobil yang dikemudikan oleh Black dengan langkah cepat. Ia sudah sangat rindu pada Prilya, sang istri.
Godaan yang disuguhkan oleh Nargya Martha beberapa saat yang lalu membuatnya hampir saja terbakar tetapi untungnya ia ingat kalau ia mempunyai seorang istri yang sangat manis dan juga lezat. Yang tidak pernah disentuh oleh siapapun juga kecuali dirinya.
Ceklek
__ADS_1
Pria tampan itu membuka pintu kamarnya dan langsung mencari istrinya tapi sayangnya tidak ditemukannya. Seluruh ruangan kamar itu ia kelilingi tapi sosok Prilya sama sekali tidak ada disana. Nomor handphone istrinya pun tidak aktif sejak tadi. Karena sangat gerah setelah bertemu dengan mantan kekasihnya, ia pun melepaskan setelan jasnya dan menyisakan kemeja berwarna biru mudanya. Ia turun dari lantai 2 untuk mencari istrinya yang mungkin ada di lantai bawah.
Di dekat tangga, ia pun bertemu dengan Devi yang baru saja keluar dari arah kamarnya.
"Dev, Prilya dimana?" tanyanya pada perempuan itu.
"Nyonya sudah berada di dalam kamarnya Tuan. Apa perlu saya memanggilnya untuk anda?" Devi Aldiva menawarkan bantuannya pada sepupu suaminya itu.
"Tidak perlu Dev, saya yang akan menemuinya sendiri," ujar pria itu dengan langkah ringan menuju kamarnya di lantai 1 itu.
"Tapi Tuan itu?..." Kalimat Devi tak bisa lagi ia lanjutkan karena Samuel Richard tidak mendengarkannya.
"Aduh, bisa terjadi perang dingin lagi ini," gumamnya pelan dengan wajah meringis. Bekas gincu merah tercetak dengan sangat jelas pada bagian depan kemeja pria itu. Dan yang pasti akan menimbulkan perang akan berkepanjangan.
🌻🌻🌻
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading ya 😍
__ADS_1