Tawanan Hati Sang Musuh

Tawanan Hati Sang Musuh
Bab 27 Hasrat Tak Terbendung


__ADS_3

"Ada apa Pril?" Samuel Richard ikut bangun dan menatap gadis itu intens.


"Apa ukuran tubuh saya sudah cocok buat Tuan?" tanya gadis itu dengan ekspresi polosnya. Sang suami langsung tertohok, ia merasa seolah menjilat ludahnya sendiri.


Prilya pun segera meraih pakaian tidurnya yang ada di sekitarnya. Ia berniat menutupi dua kue bakpaonya yang sudah terbuka dengan bebas.


Akan tetapi Samuel Richard tampak tidak rela. Ia tidak ingin gadis itu menutupinya dari pandangannya. Pria itu langsung meraih pakaian sang istri dan melemparnya ke sembarang arah. Hasratnya sudah berada di ubun-ubun dan ia tidak ingin ada yang menghalanginya lagi.


Dengan cepat ia meraih Prilya dalam pelukannya kemudian berbisik dengan sangat pelan, "Kamu cantik Prilya, dan Aku sangat ingin memilikimu saat ini juga." Suara pria itu bergetar menahan hasrat yang semakin tak tertahankan.


"Tapi bagaimana dengan ukuran saya Tuan, pasti anda tidak akan nyaman," balas Prilya dengan takut-takut.


Dada gadis itu juga berdebar sangat kencang. Ia merasakan gelenyar aneh yang sangat nikmat dari dalam pembuluh darahnya saat pria itu mengelus punggungnya yang polos. Kulit mereka berdua pun tak berjarak sekarang.


"Aku akan membuatnya besar seperti yang aku inginkan sayang," bisik Samuel lagi seraya melepaskan pelukannya.


"Hah? Apa bisa Tuan?" tanya gadis itu dengan menundukkan wajahnya ke bawah melihat lagi miliknya yang menurutnya sudah sangat besar karena sesuai dengan ukuran tangannya sendiri. Samuel Richard tersenyum kemudian mengangkat dagu istrinya agar menatapnya.


"Bisa Prilya, bisa, semuanya akan membesar dengan tanganku ini sayang," jawabnya dengan tangan ia arahkan kembali kepada dua bakpao kenyal dan sangat lembut itu. Ia meremasnya bagaikan meremas squisi yang sangat lembut.


Tubuh Prilya bergetar hebat. Ia merasakan perasaan yang luar biasa indah kembali menjalar ke seluruh tubuhnya. Apalagi ketika pria itu malah membaringkannya dan meraih pucuk merah muda miliknya dengan bibirnya.


"Aaaaakh, Tuan," dessah gadis itu dengan suara yang sangat merdu. Prilya menggelinjang nikmat atas perlakuan suaminya padanya. Tangannya mencengkram kuat ujung bantalnya.


Samuel Richard pun merasakan dirinya semakin terbakar. Ia tidak tahan lagi. Segeralah ia membuka kain yang menutupi bagian bawah istrinya. Akan tetapi tangannya ditahan oleh Prilya dengan cepat.


"Kenapa sayang?" tanyanya dengan senyum diwajahnya. Prilya menggelengkan kepalanya pelan. Akan tetapi Samuel Richard tetap saja melanjutkan keinginannya. Ia ingin melihat dan berkunjung ke sebuah tempat yang sangat indah yang pernah ia lihat. Sekali lagi gadis itu menahan tangan suaminya.


"Ada apa sayangku. Kamu milikku Prilya. Tidak perlu malu." Pria itu menatap istrinya dengan tatapan memuja.

__ADS_1


"Saya, a-anu Tuan," jawab Prilya dengan pipi memanas. Ia malu sekaligus takut. Samuel Richard tersenyum samar kemudian meraih bibir istrinya itu dan mengulumnya dengan sangat lembut. ia ingin membuat istrinya itu rileks dan juga santai.


Setelah merasa istirnya merespon dengan sangat baik. Ia pun melanjutkan lagi keinginannya. Tangannya kembali bergerak ke bawah.


"Saya lagi menstruasi Tuan."


Duarr!!!


Tangan Samuel Richard yang sudah berhasil membuka celana tidur Prilya yang berbahan sutra itu langsung berhenti di udara.


"A-Apa?" tanya pria itu dengan wajah pias. Ia tidak pernah menyangka kalau keinginannya yang sudah sampai di ubun-ubun kini harus ia kubur dalam-dalam.


"Iya Tuan."


"Tapi Aku tadi melihatmu sholat Pril? Jangan mempermainkan Aku ya," ujarnya lagi dengan perasaan yang mulai tidak nyaman. Ada nada marah dalam suara pria itu, tapi ia berusaha menahannya.


"Saya baru saja dapat sebelum tidur Tuan." Prilya menjawab dengan perasaan bersalah. Ia pun bangun dari posisinya dan memeluk pria itu. Samuel Richard hanya bisa menarik nafas panjang karena merasa sangat kecewa.


"Tak apa. Tidurlah lagi." Pria itu pun melepaskan pelukan Prilya padanya. Ia berdiri dari sana dan segera meraih kembali piyamanya. Ia memakainya dengan cepat. Dan sekarang ia sangat ingin meminum minuman dingin agar tubuhnya yang sudah panas bisa kembali dingin.


Kepalanya sudah sangat pusing atas dan bawah. Dan ia berniat kembali ke kamarnya saja malam itu. Akan tetapi tangannya diraih oleh Prilya.


"Katakan apa yang harus saya lakukan Tuan untuk membalas anda."


"Tidak ada. Kamu tidak akan tahu caranya. Sekarang tidurlah." Pria itu akhirnya keluar dari sana dengan perasaan yang sangat kecewa.


Sedangkan Prilya tak tahu harus berkata apa. Ia pun meraih semua pakaiannya dan memakainya. Setelah itu ia pun berusaha melanjutkan tidurnya lagi.


Cukup lama ia baru bisa tidur karena masih terbayang dengan apa yang dilakukan pria itu padanya. Dengan perasaan yang sangat bahagia, ia menyentuh semua anggota tubuhnya yang sudah disentuh oleh suaminya itu.

__ADS_1


"Oh ya ampun, pria itu ternyata sangat manis," ujarnya seraya berguling-guling diatas ranjangnya. Kebahagiaan yang ia rasakan ternyata tidak dirasakan oleh suaminya.


Samuel Richard keluar dari kamar itu dengan perasaan yang sangat kacau. Ia meraup wajahnya kasar kemudian melangkahkan kakinya ke arah mini bar miliknya. Ia sungguh butuh minuman dingin untuk meredakan gejolak hasrat yang hampir membunuhnya.


"Apa ada masalah Tuan?" tanya Black yang tiba-tiba saja muncul dibelakangnya bagai seorang hantu. Samuel Richard tidak menjawab. Ia hanya meneguk minuman bersoda yang ada ditangannya dengan rakus.


"Apa tentang Nyonya muda?" Samuel masih belum menjawab. Perasaannya belum juga normal saat ini apalagi belalainya masih saja tegak di tempat. Sungguh ia tidak pernah mengalami ini sebelumnya dengan gadis manapun yang pernah menjadi partner ranjangnya.


Black tersenyum. Ia tahu kalau Tuannya ini pasti sedang tersiksa menahan sesuatu yang sudah beberapa lama ini tidak dilakukannya dengan para gadis-gadis pemuas hasratnya. Ya, sejak menjadi seorang suami, ia tidak pernah meminta untuk dicarikan seorang pemuas padahal Black yakin pria itu belum berhasil mendapatkan istrinya sendiri.


"Praja Wijaya ingin menebus Nyonya muda sebanyak kerugian anda oleh Sofyan." Black berusaha memancing pria itu agar bisa move on dari masalahnya sekarang.


"Apa? Coba katakan sekali lagi?!" Samuel Richard menggenggam botol minumannya dengan sangat keras sampai tak berbentuk. Ia menatap Black dengan tatapan marah.


"Pria itu menemui Nyonya muda siang tadi di Pusat Perbelanjaan. Dan ia ingin menebusnya."


"Brengsek! Dia pikir dia siapa hah?!" Pria itu nampak semakin marah. Ia sekarang berpikir kalau penolakan dari istrinya itu karena seorang Praja Wijaya.


Brakk


Samuel Richard melempar botol minumannya tepat pada tempat sampah yang tidak jauh darinya.


"Sialan!" Pria itu mengumpat kemudian pergi dari sana meninggalkan Black yang sedang menahan senyumnya.


🌻🌻🌻


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2