Tawanan Hati Sang Musuh

Tawanan Hati Sang Musuh
Bab 40 Buku Nikah


__ADS_3

Samuel Richard nampak sudah sangat segar siang itu. Setelah mandi, ia segera memakai pakaian casual untuk menjemput Prilya. Ia ingin mengajak gadis yang telah selesai ujian itu ke sebuah tempat yang sangat istimewa.


Pria tampan itu keluar dari kamarnya bersamaan dengan Black yang juga sudah tampil beda hari ini. Untuk pertama kalinya pria itu tidak menggunakan pakaian hitam-hitam favoritnya.


"Bagaimana? Kamu sudah siap menghadapi Rendra keparat itu?" Samuel Richard bertanya dengan alis terangkat.


"Siap, tentu saja Tuan."


"Black, tidak bisakah kamu memanggilku Sam saja. Kamu kan Kakakku." Samuel Richard menatap pria kepercayaannya itu dengan tatapan intens.


"Saya sudah terbiasa memanggilmu Tuan. Tapi mungkin akan saya coba memanggilmu Samu, hehehe," kekeh pria itu seraya melaksanakan ke arah pintu kamar Devi Aldiva.


"Black. Jangan ingatkan saya dengan nama Samu. saya tidak suka." Samuel Richard mendengus kesal. Sedangkan Black hanya tertawa kecil. Dulu sewaktu kecil semua orang suka memanggilnya Samu karena ulah sang nenek.


"Saya akan menunggu kalian di Loby. Tapi ingat jangan macam-macam di dalam kamar istriku. Kalau kamu tidak tahan pakailah kamarmu sendiri."


"Ish, memangnya saya ini siapa yang harus tidak tahan segala!" Black mencibir.


Setelah kepergian Samuel ke Loby, ia pun mengetuk pintu kamar yang ditempati oleh Devi Aldiva.


Tok


Tok


Tok


Devi yang baru saja selesai mandi hanya mendengarkan ketukan pintu itu tanpa berniat membukanya. Ia belum berpakaian dan masih sibuk memilih pakaian apa yang cocok untuknya hari ini untuk bertemu lagi dengan Rendra. Ya, masalah mereka harus segera diselesaikan agar ia bisa hidup dengan tenang.


Tok


Tok


Tok


Pria yang bernama Black itu ternyata sangat tidak sabar menunggu penghuni kamar itu membuka pintunya.


Drrrt

__ADS_1


Drrrt


Drrrt


Devi memperhatikan handphonenya yang berkedip-kedip. Ia pun meraih benda pipih itu dan menerima panggilan dari pria tanpa ekspresi itu.


"Ya halo."


"Buka pintunya!"


"Ah ya sa-ya-,"


Tuuut.


"Heh, saya kan belum berpakaian, dasar!" Devi langsung meraih piyamanya untuk menutupi handuk yang sedang digunakannya saat ini lalu berjalan ke arah pintu kamar itu.


Ceklek


Pintu terbuka dan menampilkan sosok kaku tanpa ekspresi dihadapannya. Pria itu sempat terkejut dalam beberapa detik tapi kemudian bisa ia merubah kembali ekspresi wajahnya menjadi datar sedatar tembok.


"Saya baru mau berpakaian Tuan. Dan kamu sudah datang."


"Lama sekali,' gerutu pria itu seraya berusaha menahan sebuah gejolak aneh dari dalam dirinya. Ia pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar itu dan berhenti di depan lemari pakaian di dalam kamar itu. Ia melewati tubuh Devi yang sedang berdiri dengan wajah bingungnya.


"Pakai ini. Kamu tidak perlu berpakaian yang bagus kalau cuma ingin berjumpa dengan Rendra si bajingan itu," ujarnya seraya meraih satu blouse sederhana berlengan panjang dari dalam lemari.


Eh?


Devi Aldiva begitu heran dengan pria yang berani mengatur pakaian apa yang harus ia gunakan siang itu.


"Hey kenapa? Kamu tidak suka Hem?!"


"Bukan. Bukan tidak suka. Tapi biarkan saya saja yang pilih pakaiannya, Tuan." Devi sungguh merasa tidak nyaman dengan aksi Black yang terasa tiba-tiba itu.


"Baiklah. Sekarang cepatlah. Kamu tidak perlu berdandan lama hanya karena ingin kelihatan cantik di depan Rendra."


"Iya." Devi semakin bingung dengan pria dihadapannya. Ia pun melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi dengan membawa sebuah blouse pilihan pria itu yang akan ia padukan dengan sebuah celana panjang.

__ADS_1


Black menarik nafas panjang seraya mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia tidak ingin terjebak dengan gadis cantik itu di dalam kamar ini dan berakhir lupa diri. Devi Aldiva benar-benar sangat menarik dimatanya saat ini.


"Sial! Benar kata Sam, saya hampir saja melakukan sesuatu pada gadis itu." Black meraup wajahnya kasar kemudian mendudukkan dirinya di atas sofa menunggu Devi Aldiva berpakaian.


"Saya sudah selesai Tuan." Black mendongak dan melihat gadis itu sudah selesai berpakaian. Ia pun berdiri dan langsung menuju ke pintu.


"Kita akan menyelesaikan urusanmu dengan Rendra terlebih dahulu kemudian kita akan menjemput Nyonya muda."


"Iya Tuan." Devi menurut saja perkataan pria itu asalkan ia bisa terlepas dari yang namanya Rendra. Ia bahkan berniat untuk menjadi budak atau pelayan dari seorang pria dingin seperti Black asalkan tidak bertemu lagi dengan seorang laki-laki bejat seperti Rendra.


Mereka berdua masuk ke dalam Lift yang akan membawa mereka ke Lobby hotel itu. Rendra dan beberapa orang sudah menunggu mereka disana termasuk Samuel Richard.


"Ini lah orang yang sudah lama kita tunggu-tunggu." ucap Rendra menyambut kedatangan Black dan juga Devi. Semua orang yang ada di dalam Loby hotel itu langsung mengarahkan pandangannya ke arah dua orang itu.


"Apa ada yang kalian lakukan dulu sebelum sampai di tempat ini dan membuat kita menunggu lama?" tanya Rendra berusaha memancing di air keruh.


"Tidak. Kami tidak melakukan Apapun karena kami hanya berada pada batas hubungan kerja saja." Devi menjawab dengan tegas pertanyaan dari suami Brengseknya itu.


"Nah sekarang mari kita cari tempat yang lebih baik dan juga lebih pribadi untuk membahas apa yang kalian dan saya inginkan." Rendra berucap dengan seringai diwajahnya. Ia yakin sekali kalau dalam beberapa menit ke depan uang 1M itu akan ia dapatkan dari pria kaya dihadapannya ini.


"Baiklah, kita pilih restoran di hotel ini saja agar kita bisa menghemat waktu karena saya sedang ada urusan yang sangat penting setelah ini." Putus Samuel Richard dengan tangan ia arahkan ke sebuah pintu menuju ke Restoran hotel itu.


"Baiklah. Kita kesana." Rendra setuju. Ia melangkahkan kakinya ke arah tempat yang dimaksud dengan membawa bukti-bukti yang ia punya. Sedangkan Samuel Richard mengikutinya dengan membawa bukti-bukti juga untuk mendapatkan Devi bagi Black sepupunya.


"Sekarang tunjukkan bukti Admistrasi yang kamu punya pak Rendra kalau Devi Aldiva adalah benar istrimu." Samuel Richard mempersilahkan pria itu mengeluarkan apa saja yang dimiliki oleh pria itu. Rendra tersenyum lebar. Ia sangat senang dengan kerjasama semacam ini. Ia pun menatap Devi Aldiva kemudian mengeluarkan dua buah buku nikah palsu yang baru ia cetak.


"Saya rasa, bukti inilah yang paling akurat kalau kami benar-benar telah menikah dan sah secara hukum. Jadi dengan ini saya berhak atas Devi Aldiva karena ia adalah istri saya."


Samuel Richard mengambil buku itu dan menatapnya intens. Setelah itu ia menyerahkannya pada seorang pria yang ia bawa sebagai seorang saksi dan bukti kuat dari pihaknya.


🌻🌻🌻


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍

__ADS_1


__ADS_2