
Garis Polisi sudah terpasang pada unit apartemen itu hingga tidak seorang pun lagi bisa masuk ke sana. Samuel dan Prilya yang baru datang pun hanya bisa berdiri jauh dari tempat itu.
"Mas, ini beneran tempat tinggal mbak Miss World itu?"
"Iya sayang. Jenazahnya sudah dibawa ke Rumah Sakit." Samuel Richard menjawab pertanyaan istrinya dengan mata masih menatap ke arah pintu apartemen.
Ingin rasanya ia masuk dan mencari bukti video dan gambar koleksi mereka berdua dulu. Ia sangat tak ingin ada yang melihatnya lagi. Itu adalah kesalahan masa lalu yang seharusnya sudah dimusnahkan.
Akan tetapi kalau ia memaksa untuk masuk sekarang. Ia bisa-bisa dicurigai terlibat dalam peristiwa kematian model itu.
"Mas, kita pulang saja yuk, kita udah lihat tempatnya kan." Prilya menarik tangan suaminya itu agar segera pergi dari sana.
"Ah iya, kita pulang saja." Samuel setuju. Berada di TKP yang saat ini sedang dijaga oleh polisi bisa-bisa membuatnya jadi sorotan media. Ia pun mengikuti langkah Istrinya yang berjalan ke arah lift.
"Tuan Richard." Langkah pria itu berdua terhenti saat mendengar namanya dipanggil oleh seseorang.
Ia pun menoleh dan melihat seorang pelayan di apartemen Nargya Martha memandangnya dengan wajah takut-takut.
"Mbak Yuni?" ujar Samuel dengan alis terangkat. Ia yakin kalau pelayan itu pasti ingin menyampaikan sesuatu padanya.
__ADS_1
"Iya Tuan, saya Yuni. Ada hal yang Ingin saya sampai kan pada Tuan Richard."
"Oh baiklah. Kita bisa cari tempat yang lebih nyaman Mbak." Samuel pun membawa pelayan Nargya Martha itu masuk kedalam lift yang akan membawa mereka ke lantai 1 tempat sebuah Cafetaria berada.
"Mau minum apa mbak?" tanya pria itu setelah mereka sudah duduk di salah satu meja di dalam Cafetaria itu.
"Gak perlu Tuan. Saya cuma ingin- eh," jawab perempuan itu dengan wajah canggung. Ia merasa tidak nyaman dengan kehadiran seorang perempuan muda bersama dengan pria itu. Apalagi perempuan itu sejak tadi memandangnya.
"Oh, kayaknya mbak Yuni gak mau bicara kalau belum kenalan dengan istriku yang sangat cantik ini," ujar Samuel yang sangat mengerti perasaan perempuan itu. Ia yakin mbak Yuni tak mau mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan Martha jika ada orang lain.
"Oh ini istrinya Tuan ya?" Yuni semakin khawatir. Ia hanya bisa tersenyum meringis.
Pelayan itu menatap tangan perempuan cantik dihadapannya itu dengan tatapan takjub. Ia segera membalasnya dengan senyum diwajahnya. Ia sungguh sangat senang karena ada yang menganggapnya ada di dunia ini.
"Salam kenal juga Nyonya." Selama ini mana pernah majikannya yang model Miss world itu mau bersentuhan dengannya yang hanya seorang pelayan. Ia hanya dianggap sebagai budak saja tanpa pernah dianggap sebagai manusia. Sedangkan perempuan dihadapannya ini yang merupakan istri sah dari orang kaya dan terhormat itu mau menyalaminya. Ia terharu.
"Mbak Yuni bicara saja. Ada apa?" Prilya mengerti keresahan perempuan itu.
"Mohon maafkan kelancangan saya. Tapi sebelumnya Tuan dan Nyonya jangan marah ya, terutama Nyonya."
__ADS_1
"Iya Mbak Yun. Bicara saja. Saya tidak akan marah." Prilya berusaha tersenyum meskipun dadanya berdebar-debar juga. Ia sangat penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh perempuan itu.
"Saat saya mendengar Nona Martha berteriak kesakitan. Saya langsung melihatnya tapi tidak berani mendekat. Dan tak lama kemudian ia pun tak sadarkan diri. Saya segera mengambil handphonenya dan mengamankannya. Setelah itu saya menelpon ambulans dan juga polisi." Perempuan itu menjelaskan secara singkat kronologi kejadian naas yang menimpa majikannya.
Samuel dan Prilya saling berpandangan tetapi tidak berniat menyela penjelasan perempuan itu.
"Saya tahu kalau Tuan Richard dan juga polisi pasti sangat membutuhkan handphone ini. Akan tetapi hati kecil saya mengatakan kalau Tuanlah yang lebih membutuhkannya."
"Terus terang saya mendengar ancaman Nona Martha saat itu untuk menyebarkan rahasia Tuan bersamanya. Maka sejak itu saya berpikir untuk memusnahkan bukti kalau saya punya kesempatan."
"Alhamdulillah, terima kasih banyak Mbak Yuni." Pria itu pun meraih handphone itu dan tersenyum. Ia menatap istrinya yang ternyata juga menatapnya dengan tatapan tajam.
Rupanya iru adalah handphone yang pernah ia pegang dan lihat isinya siang tadi. Seketika dadanya kembali bergemuruh marah.
🌻🌻🌻
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😍