
Malam itu, Praja Wijaya harus pulang ke kotanya. Pagi-pagi sekali ia harus berada pada sebuah rapat penting di Perusahaannya. Lama ia menunggu kedatangan Prilya, karena perempuan itu mengatakan akan menjumpainya sebelum ia pulang. Akan tetapi kenyataannya hanya Ardina dan juga ibunya yang menemaninya di ruang tamu itu.
"Baiklah Bibi, sepertinya Prilya mungkin sedang kelelahan dan sedang beristirahat saat ini. Sampaikan saja salam ku padanya. Dan mohon maaf karena saya tidak bisa berada di rumah ini lebih lama." Praja Wijaya akhirnya berdiri dari duduknya dengan mata tak lepas ke arah pintu penghubung di dalam ruangan itu. Ia sangat berharap Prilya datang disaat-saat terakhir ia akan meninggalkan rumah itu.
"Ah iya nak Praja. Kami akan menyampaikan hal ini pada Prilya. Dan terus terang kami sebenarnya sangat berterimakasih padamu karena telah meluangkan banyak waktu untuk keluarga kami. Dan jangan lupa sampaikan salam kami pada Mamamu ya," Asna berucap dengan perasaan bahagia. Dalam hati ia berharap Praja bisa menjadi menantunya.
"Ah tidak usah berterima kasih seperti itu Bibi. Hanya ini yang bisa saya lakukan sebagai penghormatan terakhir saya pada paman Sofyan." Pria itu tersenyum. Ia jadi merasa tak enak hati terlalu disanjung seperti itu padahal ia tidak melakukan apapun.
"Makasih Kak," ucap Ardina setelah sekian menit hanya menjadi pendengar saja.
"Iya Din. Kamu kalau sudah merasa sudah siap untuk bekerja, hubungi saja saya. Saya akan datang menjemputmu dan juga bibi." Praja memandang gadis itu dengan senyum diwajahnya.
"Iya kak, makasih banyak."
"Sama-sama. Kalau begitu saya permisi ya Bibi, Dina. Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam, hati-hati ya Kak."
__ADS_1
"Hum, iya," jawab pria itu singkat. Setelah itu ia keluar dari rumah itu dan pergi dengan menggunakan mobilnya.
"Bu, sampai kapan kita di rumah ini?" tanya Ardina setelah mereka berdua kembali ke kamar tamu, tempat mereka berdua menginap selama berada disana.
"Sampai kamu sudah siap untuk pulang sayang. Memangnya kenapa? Apa kamu tidak betah tinggal disini Din?"
"Tidak ibu. Akan tetapi kita bisa pulang setelah 7 hari kepergian ayah. Saya ingin segera bekerja dengan kak Praja supaya saya bisa kuliah sambil bekerja."
"Apa kamu yakin akan melakukan itu semua Din? Maksud Ibu apakah kamu sanggup membagi waktumu nanti?"
"Insyaallah Bu. Kita lihat saja dulu pekerjaan seperti apa yang akan diberikan kak Praja dengan ijazah SMA seperti saya."
"Iya Bu. Semoga kita semua sehat-sehat saja dan panjang umur." Ardina tersenyum kemudian mengelus lembut punggung tangan ibunya.
"Ibu seharusnya istirahat saja dan tidak perlu bekerja. Biarkan saya yang bekerja. Toh, kita cuma berdua saja."
"Iya Din. Sekarang kita tidur dan berdoa semoga besok kita masih diberikan kesempatan untuk hidup oleh yang maha kuasa."
__ADS_1
"Aamiin. Tapi kok saya merasa cemburu lagi pada nasib baik Prilya ya Bu. Kadang-kadang saya selalu bertanya pada diri sendiri kenapa Prilya bisa seberuntung ini ya?"
"Hush! Jangan lagi berpikir seperti itu. Cukup sudah kesalahan kita yang lalu padanya. Mungkin karena ia sabar makanya ia mendapatkan balasan yang sangat luar biasa seperti ini dari Allah." Ardina terdiam. Dalam hati ia membenarkan kata-kata Ibunya tapi rasa iri tetap saja ada di dalam hatinya. Apalagi Praja Wijaya sepertinya masih saja mengharapkan saudara tirinya itu. Ia sama sekali tidak pernah dilihat pria itu.
"Kamu yang sabar juga Din, nanti akan ada balasan yang baik dari kesabaranmu itu."
"Tumben ibu baik sekali. Sudah makan apa Bu?" Ardina menatap perempuan yang telah melahirkannya itu dengan tatapan serius.
"Ibu mulai sadar nak kalau menyimpan rasa iri dan dengki itu hanya akan menghadirkan penyakit hati yang bisa menimbulkan penyakit yang sangat berbahaya." ujar Asna dengan perasaan menghangat.
Ada sebuah rasa yang ia tidak tau apa tapi yang jelasnya ia ingin menjadi pribadi yang lebih baik daripada kemarin. Ia menatap putrinya lantas melanjutkan, "Sekarang kamu tidurlah. Besok masih ada acara doa dan zikir untuk Ayahmu." Perempuan paruh baya itu segera menutup pembicaraan itu karena ia juga sudah sangat lelah dan mengantuk.
"Iya Bu." Ardina patuh, ia pun mengikuti ibunya ke atas ranjang untuk mengistirahatkan tubuhnya. Hari esok masih panjang dengan cita-cita yang sangat banyak dari dalam kepalanya.
🌻🌻🌻
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍