
Esok harinya, semua penghuni di rumah itu bangun dalam keadaan segar dan bahagia. Semuanya bersyukur karena karena sudah dibangunkan setelah dimatikan selama beberapa jam oleh yang maha kuasa.
Devi Aldiva membuka matanya pelan seraya berusaha mengumpulkan nyawanya yang berserakan. Ia menguap berkali-kali menandakan kalau ia masih sangat mengantuk. Ya, ia baru ingat kalau semalaman ia terjaga karena sebuah insiden yang begitu sangat menyenangkan plus membuatnya sakit dan kelelahan secara bersamaan. Black ternyata mampu membuatnya berteriak berkali-kali dengan rasa yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Semuanya sangat indah.
Perempuan itu pun bangun dengan ujung selimut menutupi bagian atasnya yang terbuka.
"Awwww, ish," ringisnya dengan suara rendah. Ternyata ia masih merasakan sakit yang teramat sangat pada inti dirinya. Ia pun hanya duduk dan tidak lagi bergerak dari ranjang. Mencari suaminya yang ternyata sudah tidak berada di tempat tidurnya pagi itu.
"Kemana dia? Apa ada hal penting yang harus ia kerjakan sepagi ini?" gumamnya pelan kemudian berusaha untuk keluar dari tempat tidur itu.
"Oh ya ampun. Ini sakit sekali," keluhnya dengan wajah yang masih meringis sakit saat membersihkan dirinya di kamar mandi. Tak heran sih karena ia merasa dirobek dan dikoyak-koyak oleh seorang Black semalaman. Tanpa sadar ia pun tersenyum malu saat ia dengan agresif memancing suaminya terlebih dahulu.
Setelah selesai mandi junub, ia pun keluar dari kamar mandi dan bersiap untuk sholat subuh sendiri. Ia tidak tahu kemana suaminya pergi pagi-pagi seperti itu.
Rambutnya ia keringkan dengan menggunakan hairdryer. Setelah itu keluar dari kamar yang menjadi kamar suaminya di rumah mewah itu. Di depan kamar, seorang pelayan muda sedang berdiri di hadapannya dengan wajah ramahnya.
"Apa ada pakaian kotor Nyo-nya?" tanya gadis pelayan yang Devi kenal sebagai Yani. Istri dari Black itu langsung tersenyum kemudian menjawab,
"Maaf mbak, tidak ada. Terimakasih banyak ya," jawab perempuan itu dengan wajah yang tak kalah ramahnya.
Ia sebenarnya mempunyai seprei yang kotor karena terkena bukti percintaannya dengan suaminya semalam. Akan tetapi ia merasa malu kalau harus dicucikan oleh orang lain. Jadi ia menolak saja karena ia ingin mencucinya sendiri.
"Ah iya, kalau begitu saya permisi Nyonya." Yani baias tersenyum kemudian segera pamit dari hadapan perempuan cantik dan anggun itu.
__ADS_1
Devi yang rencananya ingin mencari suaminya kini kembali masuk ke dalam kamar untuk membuka seprei yang terkena noda dirinya dan suaminya.
"Hey, sedang apa sayang?" tanya Black yang tiba-tiba muncul dari arah belakangnya. Ia yang sedang membuka seprei itu langsung dipeluk dari belakang oleh sang suami.
"Mau ganti seprei, kotor nih sayang," jawab Devi dengan tangan masih berada pada ujung seprei yang hampir terbuka itu.
"Kok bisa kotor sih, ini kan baru dipasang kemarin lho sama Agung." Black melepaskan pelukannya dan melihat kain yang sedang dipegang oleh istrinya itu. Ia lupa kalau semalam mereka berdua telah meledak berkali-kali dan berhasil mengeluarkan lava panas yang tumpah ruah.
"Ini yang ingin aku tanyakan padamu Dev," ujar pria itu seraya menarik tangan istrinya agar melupakan untuk mencuci seprei itu. Matanya tertumbuk pada noda darah yang sudah mengering di atas permukaan kain berwarna putih itu.
"Tanya apa sih? Kayaknya serius banget."'
"Kamu masih perawan, kok bisa? Bukankah Rendra adalah suamimu? Apa ia belum pernah menyentuhmu?" tatap pria itu intens pada wajahnya.
"Rendra menikahiku sebagai penebus utang orangtuaku untuk dijual lagi di rumah bordil. Ia sama sekali tidak pernah menyentuhku karena sebenarnya ia sudah mempunyai seorang istri. Ia lebih tertarik pada uang daripada diriku," jelas Devi dengan wajah menunduk. Black tersenyum, antara marah dan juga bahagia menghampiri hatinya.
"Dan saya berhasil kabur dari tempat pelacuran itu dan bertemu dengan anda waktu itu." lanjut Devi seraya mengangkat wajahnya. Ia menatap suaminya yang juga sedang menatapnya.
"Alhamdulillah, ternyata kamu memang diciptakan untuk ku Dev. Aku sangat bersyukur."
"Ah iya Tuan." Devi kembali tersenyum.
"Berikan panggilan yang bagus untukku Dev. Jangan panggil aku seperti itu seolah-olah kamu adalah budakku."
__ADS_1
"Saya panggil akang aja gimana?" Black menggeleng. Ia tidak mau dipanggil seperti itu oleh istrinya.
"Jadi? Saya panggil apa dong?"'
"Panggil aku sayang saja Dev, aku suka itu."
"Hum, baiklah sayang ku akan saya panggil kamu sa-yang Atau a-yang, hehehe," kekeh perempuan itu dengan sengaja menekan kata SAYANG dengan ekspresi wajah menggoda.
"Ulangi lagi Dev."'
"S a y a n g, Hemm," balas Devi dengan mata berkedip-kedip lucu. Black sungguh tidak tahan dengan godaan istrinya itu. Iangsung menubruk tubuh istrinya dan menindihnya.
"Bersiaplah Devi sayang, akan kubuat seprei ini kotor kembali," bisik pria itu dengan senyum diwajahnya. Devi Aldiva balas tersenyum dengan tantangan suaminya. Ia setuju membuat seprei itu kotor agar tidak rugi mencucinya.
🌻🌻🌻
Gak usah dijelaskan ya, bagaimana cara mereka bermain kotor-kotornya😅🤭.
Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading ya gaess 😍
__ADS_1