Tawanan Hati Sang Musuh

Tawanan Hati Sang Musuh
Bab 35 Tawaran Rendra


__ADS_3

Devi Aldiva tersentak kaget. Untuk beberapa saat ia berusaha menahan untuk tidak terpengaruh dengan kedatangan pria yang pernah merusak kehidupannya itu. Cairan hitam beraroma khas dihadapannya ia seruput dan berhasil membuatnya rileks.


"Kamu sombong ya sekarang." Pria berperawakan tinggi besar itu pun menarik kursi di hadapan gadis itu dengan santai. Ia tidak perlu meminta izin karena semua yang ada di dalam tempat itu adalah miliknya.


Devi tidak peduli. Ia berpura-pura menganggap bahwa pria itu tidak ada. Martabak makaroninya ia masukkan ke dalam mulutnya. Setelah itu ia menggigit makanan yang terbuat dari bahan tepung dan juga telur itu dengan wajah dibuat sangat santai.


Meskipun sebenarnya ia sangat takut dan juga khawatir, ia tetap bertahan untuk tidak membalas teguran dan basa-basi pria itu.


"Devi Aldiva! Kamu sengaja menantang saya hah?" Pria itu merasa kesal sendiri karena telah diabaikan oleh gadis yang selama ini sudah lama ia tunggu-tunggu.


Black yang sudah lama membuntuti gadis itu sejak dari hotel tempatnya menginap kini menggenggam erat cangkir kopinya. Ia marah dan cemburu melihat kedekatan Devi dengan pria asing itu.


Dengan cepat ia pun berdiri dari duduknya karena sudah tidak sabar dengan apa yang ia lihat di depan matanya.


Sedangkan pria itu meraih cangkir kopi yang sedang ingin diminum kembali oleh Devi. Mereka berdua saling menarik dan akhirnya cairan hitam beraroma khas itu tumpah dan mengenai pakaian Devi.


"Awwww,!" Gadis itu tanpa sadar berteriak. Cairan hitam itu bukan cuma mengotori pakaiannya tetapi juga membuat kulitnya kepanasan.


"Hey, anda sungguh tidak sopan ya!" Devi menatap pria yang bernama Rendra itu dengan tatapan tajam.


"Heh! Sejak kapan kamu mengenal yang namanya kesopanan?! Kamu tak lebih daripada perempuan rendahan yang hanya bisa mengadaikan tubuh saja."


Bugh


Tubuh Rendra terjatuh kebelakang berikut dengan kursinya. Ia sedang tidak siap saat pukulan dari seorang pria yang tidak dikenalnya menghantam rahangnya.


Pria itu berusaha bangun akan tetapi tubuhnya langsung diinjak dengan satu kaki oleh pria berpakaian hitam-hitam diatasnya.


"Minggir!" teriak pria itu dengan sangat keras. Ia ingin bangun tapi tak bisa karena tubuhnya sedang ditindih.

__ADS_1


"Siapa dia Dev?" Black memandang Devi yang nampak sangat shock dengan kejadian yang tiba-tiba ini.


"Di-dia-," gugup gadis itu. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Statusnya dengan pria itu saat rasanya tidak bisa ia ucapkan.


"Hey! keparat! Devi Aldiva itu istriku. Jadi kamu tidak berhak mencampuri urusan kami!" Rendra yang masih berada di lantai itu berteriak keras dan juga marah. Black menatap Devi meminta jawaban. Ia berharap sekali kalau perkataan pria itu tidak benar adanya. Akan tetapi gadis itu menganggukkan kepalanya pelan.


Black dengan perasaan yang sangat hancur segera menarik kakinya yang menindih pria itu. Ia sekarang tak punya hak untuk mencampuri urusan keluarga orang lain. Apalagi Devi bukanlah saudara maupun kekasihnya.


Dengan bahu menurun, ia pun segera menuju ke kasir untuk membayar kopi yang ingin ia minum. Ia keluar dari tempat itu meniggalkan Devi Aldiva yang sedang menahan dirinya untuk tidak menangis.


"Siapa dia Dev? Apa dia pelanggan barumu hah?!" Rendra yang sudah berhasil bangkit langsung meraih tangan gadis dihadapannya dan mencekal tangannya.


"Tidak. Jangan pernah mengatakan hal itu lagi brengsek!" Devi menatap pria itu dengan tatapan tajam. Kali ini ia akan melawan. Ia tidak ingin lagi ditindas dan dimanfaatkan oleh pria yang pernah menikahinya itu.


"Lalu siapa dia ha?"


"Tidak perlu kamu tahu!" Devi langsung menghentakkan tangannya agar terlepas. Ia ingin segera pergi dari sana dan tidak bertemu dengan pria itu lagi.


"Hey! berhenti kamu!" Rendra berteriak keras dan memburu gadis itu.


"Lepaskan! Biarkan saya pergi!" Devi yang sudah sampai di depan Cafetaria berhasil ditangkap oleh pria itu. Tubuhnya yang ramping langsung diangkat dengan paksa masuk kembali ke dalam Cafetaria.


"Aaaaa tolong! Lepaskan saya!" Devi berteriak sekeras-kerasnya memohon pertolongan pada beberapa warga yang sedang lewat. Akan tetapi mereka hanya melihat sekilas dan tak mau menolong.


Semua warga tahu siapa itu Rendra. Seorang pengusaha muda yang suka berperilaku buruk pada semua orang.


"Lepaskan saya! Tolong!" Devi Aldiva terus berteriak meminta kepada siapa saja yang mau menolongnya. Ia terus memberontak karena tidak ingin lagi dijadikan sebagai perempuan pemuas hasrat laki-laki hidung belang.


Black mengepalkan tangannya dengan keras disisi tubuhnya. Ia begitu marah saat ini. Tadinya ia ingin kembali ke Hotel saja setelah melihat pengakuan dari gadis yang selama ini ia cintai akan tetapi ia memutuskan untuk duduk di depan Cafetaria itu untuk menenangkan dirinya.

__ADS_1


"Lepaskan Devi Brengsek!" Pria berpakaian hitam-hitam itu susah tidak tahan lagi. Ia tidak peduli kalau pria itu adalah suaminya Devi atau bukan. Yang jelasnya ia tidak tega mendengar jeritan minta tolong dasi gadis itu.


"Heh, siapa kamu yang berani mencampuri urusan saya hah?!" Rendra melepaskan cekalan tangannya pada tangan Devi kemudian menatap pria tinggi blasteran itu dengan tajam.


Bugh


Satu pukulan balasan ia berikan pada Black atas serangan pria itu padanya beberapa saat yang lalu itu. Akan tetapi pria itu bukan orang bodoh. Ia tidak pernah mau tubuhnya disentuh oleh siapapun selain dengan yang ia inginkan sendiri.


Bugh


Desss


Dua kali Black mendaratkan tendangan pada pria yang mengaku sebagai suami dari Devi Aldiva. Hingga pria itu tersudut dan tak mampu lagi bergerak. Rendra berusaha untuk berdiri dengan tubuh sempoyongan.


"Ambil sana perempuan tak berguna itu?! Tapi kamu harus menebus kerugianku selama ini!" Meskipun ia dalam keadaan kalah, ia tetap tidak mau rugi. Ia meminta sejumlah uang yang sangat banyak untuk menjual Devi pada Black.


"Berapa yang kamu mau?!" Black menatap pria brengsek itu dengan tatapan tajam. Untuk pertama kalinya ia menemukan seorang suami menjual istrinya pada orang lain.


"1 M!"


"Brengsek kamu Rendra. Jangan dengarkan Tuan!" Devi Aldiva tidak setuju dengan permintaan pria itu. Pasalnya itu adalah uang yang sangat banyak. Gadis itu memandang Black dengan perasaan yang sangat malu.


"Tak apa. Berikan rekeningmu sekarang juga!" Black berucap dengan tatapan ke arah pria yang bernama Rendra itu. Pria itu tersenyum senang. Ia sangat beruntung karena akan mendapatkan uang sangat banyak.


🌻🌻🌻


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2