Tawanan Hati Sang Musuh

Tawanan Hati Sang Musuh
Bab 43 Paham Tugas Istri


__ADS_3

"Ooo mentang-mentang sudah hidup bersama dengan orang kaya, kamu jadi lupa sama keluargamu ya!" Asna menegur Prilya yang sudah sampai di Rumah Sakit bersama dengan Ardina.


Gadis itu hanya terdiam. Ia sedang tidak ingin mendengar kata-kata yang tidak bermutu dari ibu tirinya itu. Karena saat ini Ia hanya ingin bertemu dengan sang ayah yang ia dengar sedang sakit.


"Heh, kamu tidak sopan ya, datang bukannya memberi salam dan menanyakan kabar, ini malah langsung nyelonong saja. Gak punya sopan santun!"


Prilya sekali lagi tidak menjawab. Ia datang bukan untuk perempuan itu. Ia datang untuk Sofyan, salah satu orang yang telah berjasa hingga ia bisa lahir ke dunia ini.


Beberapa saat yang lalu ia mendengar musibah yang didapat oleh Ardina sewaktu di tempat wisata makanya ia ikut pulang karena ingin bertemu dengan sang ayah.


"Ayah, apa kabarmu?" Prilya langsung menghampiri ranjang rumah sakit dimana Sofyan, sang ayah sedang berbaring lemah disana.


"Prilya, anak ayah. Seperti yang kamu lihat nak. Ayah sedang tidak sehat. Kamu juga apa kabar?" pria itu meraih tangan putrinya dan menggenggamnya. Wajahnya tampak sangat pucat dan juga kurus.


"Saya baik Alhamdulillah. Ayah sakit apa? Maaf saya baru bisa datang." Gadis itu pun mencium punggung tangan sang Ayah.


Ada rasa haru dan rindu yang menyeruak dari dalam hatinya saat ini. Meskipun ayahnya tidak pernah lagi memberikan kasih sayang yang banyak padanya tapi ia tetaplah seorang ayah dan keluarga terdekat yang ia miliki.


"Tidak apa nak. Ayah yang seharusnya minta maaf padamu karena telah melukai perasaanmu." Sofyan memandang wajah putrinya dengan perasaan yang sangat bersalah. Ada banyak rasa sesal yang ia rasakan karena telah menyia-nyiakan putrinya ini.


"Tidak ayah, jangan katakan hal yang seperti itu. Saya sekarang sangat bahagia di Rumah keluarga Tuan Richard. Mereka semua memperlakukan saya dengan baik. Terimakasih banyak Ayah." Prilya pun memeluk tubuh ringkih sang ayah dengan penuh kasih sayang.


Sedangkan Ardina dan Asna saling berpandangan dengan wajah tak suka. Mereka berdua sakit hati dan juga cemburu pada kebahagiaan yang dirasakan oleh Prilya.


"Benarkah? Apa Tuan Richard memperlakukanmu dengan baik?" Sofyan memandang putrinya itu intens. Prilya mengangguk dan tersenyum manis. Lesung pipinya semakin kentara saja pada pipinya yang sudah semakin berisi.

__ADS_1


"Saya disekolahkan kembali ayah. Mereka ingin mempunyai menantu yang berpendidikan dan juga cerdas. Ada guru khusus yang mengajariku di rumah besar itu." Semburat merah pada pipinya yang menghangat bahagia semakin membuktikan kalau hatinya saat ini sedang sangat senang.


"Alhamdulillah. Kalau begitu hati ayah jadi tenang nak." Sofyan menarik nafas lega. Ia juga ikut bahagia mendengar kabar ini.


"Iya ayah, kamu tidak perlu khawatir. Ayah akan sembuh dan kita bisa bersama lagi."


"Heh enak saja. Seharusnya Ardina yang mendapatkan posisimu itu gadis sialan!" Asna yang sudah panas mendengar kebahagiaan mereka langsung datang menghampiri ranjang. Ia bahkan berani menarik rambut panjang Prilya.


"Aaaww lepasin saya Bu!" Prilya berteriak keras karena merasakan kulit kepalanya tertarik ke atas. Perih rasanya. Akan tetapi Asna tidak melepaskannya.


"Kamu tahu tidak? Gara-gara hal itu ayahmu tidak lagi mendapatkan pekerjaan! Kita semua miskin! Dan kamu enak sekali menikmati hidup diatas penderitaan kita semua!"


"Lho, apa itu salahku Ibu?" Prilya memandang Asna dengan berani. Ia bahkan ikut berdiri dan membalas perempuan itu hingga cengkraman tangan perempuan itu pada rambutnya terlepas.


Gadis itu tidak habis pikir dengan pikiran sempit Perempuan paruh baya itu yang selalu menyalahkannya atas semua yang terjadi di rumah itu.


"Ayahmu jadi bangkrut dengan utang menumpuk. Ia sakit-sakitan dan kami tak mampu membeli obat. Sedangkan kamu? Kamu keluar dari rumah dan menikmati kebahagiaan sendiri." Dada perempuan itu naik turun karena emosi yang bergolak.


"Dan kamu tahu ini sialan? Semuanya gara-gara kamu!" Perempuan itu menunjuk wajah Prilya dengan tatapan tajamnya. Kedua bola mata tuanya rasanya ingin melompat keluar dari kelopaknya.


"Asna, sudahlah. Kamu bicara semakin kacau. Prilya tidak pernah tahu akan seperti ini kejadiannya. Sama seperti kita semua juga. Saya meminta maaf karena telah membuat kalian semua menderita." Sofyan berusaha bangun dari posisinya saat ini.


"Heleh, minta maaf tidak ada guna Mas. Kamu telah membuat kami menderita!" Asna sekarang menyalak pada suaminya. Ia merasa sangat menderita dengan keluarganya ini.


"Ibu berhentilah mengatakan hal seperti itu. Ibu tidak lihat kalau ayah sedang sakit? Sebaiknya ibu juga introspeksi diri dan bukannya menyalahkan semua orang." Timpal Prilya dengan perasaan tak rela ayahnya diperlakukan seperti itu oleh ibu tirinya disaat sedang sakit.

__ADS_1


"Heh, kamu semakin berani ya sama saya? Lihatlah mas, apa yang dikatakan oleh putrimu ini. Sok bijaksana padahal hanya menjadi perempuan simpanan di rumah Tuan Richard."


"Asna! Jaga mulutmu. Prilya itu sudah dinikahi dengan resmi oleh Tuan Samuel Richard. Mereka tinggal bersama itu karena mereka suami istri." Sofyan berteriak keras seraya memegang dadanya yang sakit.


"Heh mana ada pria kaya yang mau menikahi putrimu yang sangat jelek dan juga kampungan seperti itu. Hanya pria bodoh Mas!"


"Apa katamu hah?!" Semua orang yang ada di dalam ruangan perawatan itu langsung mengarahkan pandangannya ke arah pintu. Di sana sudah berdiri tiga orang dengan tatapan tidak suka dengan apa yang baru saja keluar dari mulutnya yang pedas.


"Ayo katakan lagi kalau istriku itu kampungan dan saya bodoh!" Tantang Samuel Richard dengan langkah cepat ke arah mereka semua. Ia menatap tajam perempuan paruh baya yang tidak punya filter sama sekali di mulutnya.


Asna langsung pucat. Ia tidak menyangka kalau pria yang sedang ia bicara ternyata sudah berada di dalam ruangan itu bersama dengan yang lainnya.


Ardina yang mulai mempelajari situasi ini langsung menghampiri pria tampan itu dengan wajahnya yang munafik. Ia sekarang yakin kalau pria kaya yang datang ini adalah pria yang telah menculik dan menikahi Prilya.


"Maafkan ibuku Tuan. Itu semua dilakukannya karena ia sangat stress dengan penyakit ayah," ucap gadis itu seraya berlutut dihadapan Samuel Richard.


"Heh, Ibumu yang stres kenapa saya juga dibawa-bawa ikut serta!" Pria itu membentak Ardina dan menghela tangannya yang sedang ingin menyentuh dirinya. Ardina meringis malu. Ia jadi tampak seperti seorang pengemis pada pria kaya dan tampan itu.


"Tuan? Kok bisa ada disini?" Prilya langsung menghampiri suaminya dan meraih tangan pria itu dan menciuminya. Samuel Richard terpaku. Dalam hati ia tersenyum karena istrinya jadi sangat jinak dan paham tugasnya.


"Kamu akan tahu nanti dan kamu akan mendapatkan hukuman karena sudah membuat saya khawatir. Sekarang saya ingin bicara dengan ayahmu terlebih dahulu." Pria itu tersenyum samar dan mengelus lembut pucuk kepala istrinya.


🌻🌻🌻


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2