Tawanan Hati Sang Musuh

Tawanan Hati Sang Musuh
Bab 53 Move On


__ADS_3

Yani berlari ke kamarnya seraya berusaha menahan agar tangisnya tidak pecah di dalam ruangan itu. Menyaksikan Black mengucapkan ijab Kabul untuk seorang perempuan lain yang bernama Devi Aldiva binti Abdul Aziz adalah hal yang sangat menyakitkan baginya.


Di depan semua tamu yang hadir pria tampan tanpa ekspresi itu mencium kening Devi Aldiva setelah mereka dinyatakan sah menjadi suami istri.


"Ya, Allah kenapa hati ini sakit sekali?" tanyanya pada dirinya sendiri seraya menyentuh dadanya yang terasa sangat sesak. Hilang sudah harapannya mendapatkan hati seorang pria dingin yang sangat ia idolakan.


"Yan," sebuah suara tiba-tiba saja terdengar dari arah pintu kamarnya yang tidak terkunci. Tangannya dengan cepat menyusut airmatanya yang tak henti keluar dari kelopak matanya.


"Nyonya Prilya?" ucapnya saat melihat yang datang adalah Nyonya muda di rumah itu.


"Yan kok kamu nangis?" tanya perempuan manis yang sudah tidak gadis lagi itu seraya mendudukkan dirinya di bibir ranjang Yani. Pelayan yang sangat akrab dengannya itu langsung bangun dari posisinya.


"Ih siapa yang nangis? Nyonya tuh yang sudah banyak menangis sejak kemarin. Saya turut berdua cita nyonya. Dan tetap bersabar ya Nya. Katanya orang sabar itu subur dan disayang Tuhan." Yani terus berbicara dengan air mata yang ternyata tetap setia mengalir dari pelupuk matanya.


"Kamu pintar menghibur Yan padahal dirimu sendiri sedang tidak baik-baik saja." Prilya tersenyum dengan hati yang ikut sedih.


"Boleh saya mendapatkan pelukan Nyonya?" Yani menatap istri dari Samuel Richard itu dengan Isakan kecil dari bibirnya.


Prilya langsung meraih Yani kedalam pelukannya tanpa perlu menjawab pertanyaan gadis itu.


"Hatiku sedih sekali huaaa," ucap Yani dengan tangis yang semakin pecah. Ia merasakan harinya terasa diremas-remas sakit saat ini. Dan ketika ada seseorang yang menyediakan bahunya untuk bersandar rasanya ia sangat ingin berteriak haru.


"Apa karena Tuan Black,?" tanya Prilya setelah Yani nampak sudah lebih tenang.


"I-ya Nyonya. Tapi ngomong-ngomong kenapa Nyonya muda kemari? Bagaimana kalau Tuan Richard mencari mu Nyonya.?"

__ADS_1


"Saya melihatmu menangis sewaktu Tuan Black dinyatakan sah menjadi suami dari Kak Devi. Dan saya tahu bagaimana perasaanmu saat ini."


"Oh, saya sangat sedih Nyonya. Sakit sekali ketika melihat orang yang kita sukai menikah di depan mata kita Nyonya."' Yani tak bisa lagi menutup-nutupi perasaannya. Akhirnya ia mengakui juga kalau ia sangat sedih saat ini.


"Nanti akan ada pria lain yang pastinya lebih baik daripada Tuan Black yang akan menjadi jodoh kamu Yan. Jadi tidak perlu bersedih seperti ini. Kamu cantik lho sedangkan Tuan Black itu sangat tidak cocok buatmu."


Yani menatap wajah Prilya dengan tangis yang mulai reda. "Benarkah Nyonya?"


"Iya Yan. Kamu cantik, baik hati, dan juga rajin. Akan ada pria yang akan mencintaimu dengan tulus. Jadi kamu tidak perlu memikirkan Tuan Black. Dicintai lebih menyenangkan daripada hanya mencintai sendiri Yan."


"Hum, tapi saya sangat sulit melupakannya. Setiap hari saya pasti melihatnya di sini bersama dengan istrinya. Dan itu pasti sangat menyakitkan Nyonya." Prilya hanya bisa menarik nafas panjang kemudian berucap.


"Abaikan saja Yan. Anggap dia hanya sebutir debu yang sedang beterbangan di sekitar kita."


"Tapi saya tidak pernah melihat debu Nyonya. Dan juga di rumah ini tidak ada debu yang sebesar dan setampan dia Nyonya."


"Mana bisa seperti itu Nyonya, saya tidak bisa." Yani tetap saja tidak menerima semua saran yang diberikan oleh Prilya.


"Ya sudahlah kalau begitu. Saya akan kembali ke tempat acara. Kak Sam pasti sudah mencari ku." Prilya sudah tidak punya lagi kata-kata untuk menghibur Yani. Ia akhirnya keluar dari kamar pelayan itu karena merasa tidak berhasil membuat Yani berhenti bersedih. Akan tetapi langkahnya berhenti di depan pintu kamar itu dan berbalik menatap pelayan itu.


"Ingat. Jangan sampai bunuh diri ya Yan? Kisah hidup kita ini bukan kisah horor, mengerti?!" ucapnya dengan wajah tegas. Setelah itu ia benar-benar pergi dari sana.


Sedangkan Yani, hanya bisa menarik nafasnya kemudian memikirkan semua perkataan Prilya.


"Ya, saya tidak boleh bunuh diri. Nyawa saya cuma satu sedangkan masih banyak pria tampan di luar sana yang mungkin saja jadi jodohku." Gadis itu bermonolog dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Aaaaa, kesal! Tapi kenapa saya tidak bisa melupakannya hah?!" Yani berteriak dengan keras dan berhasil membuat beberapa pelayan yang sedang lewat di depan kamarnya langsung melongokkan kepalanya ke dalam kamar itu.


"Yan, kamu tidak apa-apa?" tanya mereka dengan wajah khawatir.


"Tidak!!! saya sedang kesal!!!" Gadis itu berteriak lagi seraya menjambak rambutnya.


"Kamu mau mendapat skorsing dari Ibu Anita kalau kamu ribut-ribut seperti ini Yan?" tanya salah satu pelayan yang usianya lebih tua darinya itu. Yani langsung terdiam. Ia takut pada Bu Anita sang kepala pelayan di rumah itu. Ia pun ditinggalkan sendiri oleh yang lainnya.


"Baiklah. Saya harus baik-baik saja. Cinta tidak harus memiliki 'kan?" Gadis itu pun bangkit dan merapikan kembali penampilannya. Ia tak lupa bercermin untuk melihat maskara nya yang sudah meleleh dan membuatnya jadi seperti hantu.


"Benar kata Nyonya Prilya, kisah ini bukanlah kisah horor. Saya harus bahagia! Harus bahagia!" Yani mengepalkan tangannya disisi kanan kiri tubuhnya kemudian keluar dari kamarnya. Ada banyak tamu pria di luar sana. Siapa tahu ada yang melihatnya dan mungkin tertarik padanya.


"Saya cantik dan harus bahagia. Tuan Black hanya sebutir debu," ujarnya menyemangati dirinya sendiri. Gadis itu pun melangkahkan kakinya ke depan ke tempat acara berlangsung. Ia harus bisa melayani semua tamu dengan baik.


Prilya yang melihatnya berada di dalam ruangan yang sudah disulap untuk acara pengajian sekaligus pernikahan Black dan juga Devi tersenyum lebar. Ia pun mengangkat dua jempolnya untuk gadis itu.


"Ada apa sayang? Siapa yang kamu kasih jempol Hem?" tanya suaminya yang sejak tadi memperhatikan tingkahnya.


"Seseorang yang sedang berusaha untuk move on kak," jawab Prilya seraya mengarahkan pandangannya ke arah Yani yang sedang membawakan baki berisi minuman untuk Praja dan beberapa tamu lainnya.


Seketika wajah Samuel Richard langsung berubah warna. Matanya memandang kearah Praja yang juga sedang mengarahkan pandangannya ke arah mereka.


🌻🌻🌻


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2