Tawanan Hati Sang Musuh

Tawanan Hati Sang Musuh
Bab 26 Sebuah Belalai Panjang


__ADS_3

Samuel Richard meraup wajahnya kasar seraya memperhatikan juniornya yang sejak tadi belum juga lemas. Benda tumpul itu masih terjaga ditengah malam ini padahal ia sudah membacakan dongeng sebelum tidur untuknya.


"Aaargh sial!" Pria itu mengerang kesal karena otaknya justru membayangkan tubuh polos istrinya yang sangat ranum dan segar. Usia 18 tahun adalah usia remaja yang sangat menarik untuk dinikmati.


"Prilya, apa yang harus aku lakukan hah?!" tanya pria itu dengan tatapan nelangsa pada miliknya yang benar-benar sedang kesal padanya saat ini. Hanya mengingat tubuh gadis kurus itu ia sampai tidak bisa berpikir dengan jernih.


Dengan cepat ia meraih piyamanya dan memakainya tanpa celana. Menit berikutnya ia keluar dari kamarnya dan melangkahkan kakinya menuruni tangga. Ia harus bertemu Prilya malam ini untuk menuntaskan keinginannya.


Kamar itu pun ia buka dengan sangat pelan. Langkahnya pun ia buat sangat pelan agar tidak membangunkan gadis manis yang sedang tidur dengan nyenyak di atas ranjangnya.


Ia pun naik ke atas ranjang dan mulai menyentuh istrinya dari mulai wajahnya. Ia mencium keseluruhan wajah itu dengan sangat lembut dan penuh perasaan. Sampai ketika ia sampai pada bibir Prilya, gadis itu melenguh pelan dalam mulutnya.


"Hmmmpt." Samuel Richard menghentikan kesenangannya karena sang istri terbangun. Ia menatap wajah manis yang nampak mengejapkan matanya pelan. Pria itu tersenyum dengan hati yang membuncah bahagia.


Berbeda dengan Prilya, setelah mengumpulkan nyawanya, gadis itu pun memandang dengan ekspresi kaget pria yang sedang berada sangat dekat dengannya itu.


"Tuan Richard? Ada apa? Anda disini?" tanyanya dengan ekspresi yang masih sama, yaitu bingung.


"Saya tidak bisa tidur di kamarku Pril, boleh kan saya tidur bersamamu di sini?" tanya pria itu dengan wajah memohon. Sifat arogannya tiba-tiba sudah menguap entah kemana. Dan untuk saat ini ia rela memohon pada gadis yang sedang berbaring ini agar keinginannya tercapai.


"Ah iya, boleh saja Tuan. Anda yang punya rumah dan kamar ini. Semuanya milik anda jadi tidak perlu meminta izin padaku." Prilya pun bangun dan berniat menggeser posisi tidurnya.

__ADS_1


"Tidak. Kamu tidak perlu menggeser posisimu, tetap disitu saja," ujar pria itu dan langsung ikut berbaring disamping istrinya.


"Tapi Tuan, ini sangat sempit. Anda pasti akan tidak nyaman kalau seperti ini." Prilya masih berusaha untuk berpindah karena tubuh mereka jadi sangat rapat tak berjarak. Ia bahkan merasakan sebuah benda tumpul sedang menusuknya dari arah sampingnya karena Samuel langsung memeluknya.


"Tak apa Pril. Kumohon untuk tidak bergerak-gerak dulu," bisik pria itu dengan suara bergetar penuh hasrat. Ia benar-benar semakin tersiksa karena Prilya tidak bisa diam.


"Ah iya Tuan. Maaf, tapi ini apa?" Gadis itu mulai menggerakkan tangannya kearah bawahnya dengan wajah khawatir. Ia begitu tidak nyaman dengan sebuah benda seperti belalai panjang dan keras yang terasa menusuk-nusuk pahanya.


"Aaawwwww!" Gadis itu berteriak keras karena berhasil menyentuh dan memegang belalai itu skin to skin.


"Sssst! Jangan berteriak Prilya, Kamu bisa membangunkan seisi rumah ini," bisik Samuel Richard pas dikuping gadis manis itu. Tangannya pun berusaha menahan tangan Prilya dibawah sana agar gadis itu tidak melepaskan miliknya.


"Sentuh saja sayangku, saya sangat suka Prilya," bisik pria itu seraya menciumi wajah istrinya lagi. Ia bahkan semakin berani melakukan hal lebih dengan menggigit pelan kuping Prilya.


Sayang?


Tuan Richard memanggilku sayang?


Apa saya sedang bermimpi?


Batin gadis itu dengan perasaan yang masih sangat bingung.

__ADS_1


"Aaaaaw, Tuan menggigitku." Prilya tiba-tiba berteriak lagi. Ia mengeluh sakit karena pria itu menggigit cuping telinganya karena begitu gemas dengannya.


"Tidak sayang, itu karena kamu sangat menggemaskan." Samuel Richard menjawab kemudian melanjutkan kesenangannya lagi. Bibir dan tangannya tak berhenti disitu saja. Ia mulai bergerak kemana-mana untuk menyentuh dan mencium apa yang bisa ia dapatkan.


Prilya tak bisa lagi untuk menahan diri untuk tidak mendessah nikmat. Perlakuan pria arogan yang sering mengatakannya tubuhnya tidak menarik itu kini sudah diluar batas. Semua miliknya sudah disentuh dan dicicipi oleh sang suami.


Pakaian bagian atasnya pun sudah terbuka entah sejak kapan. Dan diantara rasa nikmat yang gadis itu rasakan lewat sentuhan-sentuhan pria itu padanya, ia jadi merasa bingung dengan keadaan yang tiba-tiba ini.


Ia pun berusaha untuk bangun dan memandang pria yang sedang menatapnya dengan tatapan berkabut.


"Tuan, saya-,"


🌻🌻🌻


*Bersambung.


Prilya kenapa tuh?


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍

__ADS_1


__ADS_2