
Setelah belajar banyak hal dari mbah google karena sudah sangat penasaran dengan perkataan kyai itu, Prilya pun meminta izin pada suaminya untuk keluar dari kamar mereka.
"Mau kemana?" tanya Samuel dengan tatapan menyelidik. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam dan Prilya ingin keluar kamar untuk apa?
Semua kebutuhannya sudah berada di dalam kamar itu jadi ia tidak perlu keluar dari kamar itu lagi.
"Saya mau bertemu Kak Praja. Katanya malam ini juga ia akan pulang kak. Dan ia ingin berpamitan gitu,"
"Harusnya berpamitannya itu tadi. Dia juga bisa berpamitan lewat pesan saja. Dan kamu tidak perlu menemuinya." Samuel Richard sudah mulai menunjukkan wajah tak suka nya. Ia benar-benar tidak rela kalau istrinya sering bertemu dengan sang mantan.
"Tapi Kak. Ardina dan ibu juga ada kok. Lagipula Kak Praja itu ti-dak-," ucapan langsung terpotong di udara karena melihat wajah suaminya mengeras dengan tatapan tajam padanya.
"Baiklah, saya tidak akan menemui Kak Pra-ja," ucapnya dengan wajah menunduk takut.
"Jangan panggil aku Kakak lagi. Aku tidak suka kamu menyamakan ku dengan Kak Praja mu itu." Samuel Richard merajuk. Ia meninggalkan Prilya yang sedang berdiri di depan pintu kamar itu dan langsung menuju ke tempat tidur. Ia kesal dan sangat cemburu.
"Kak Sam," panggil Prilya pada suaminya yang sedang ngambek.
"Aku bilang jangan panggil aku Kakak. Karena aku bukan Praja dan juga bukan kakakmu." Prilya meringis, ia tidak tahu harus berkata apa.
Suaminya tiba-tiba saja tidak bisa diajak bicara baik-baik. Padahal beberapa saat yang lalu mereka berdua sangat kompak belajar sebagai pre-test sebelum besok benar-benar bertemu dengan seorang guru.
Prilya mendekat kearah ranjang kemudian duduk dibibir tempat tidur itu. Tangannya bergerak menyentuh punggung suaminya yang sedang membelakanginya.
"Mas Sam sayang," panggilnya pelan. Ia sudah merubah panggilan kakak pada suaminya itu dengan panggilan lain sesuai dengan kebiasaan di dalam keluarganya.
__ADS_1
Samuel Richard tersenyum. Ia suka dengan panggilan itu. Akan tetapi ia masih berpura-pura kesal supaya istrinya tidak keluar dan menemui Praja Wijaya.
"Maafin saya ya, kalau salah." Prilya mengelus lembut punggung suaminya itu memohon lewat sentuhan. Pria itu semakin senang dan merasa diatas angin. Ia belum juga merespon meskipun gelenyar aneh sudah mulai merambat dari pembuluh darahnya.
Sentuhan tangan istrinya pada punggungnya yang berlapiskan kain saja bisa membuatnya merasakan sesuatu yang luar biasa apalagi kalau tanpa sehelai benangpun.
"Mass, saya sudah minta maaf lho. Takutnya jadi berdosa kalau kamu gak maafin. Ayolah Mass," rajuk perempuan manis yang sudah tidak gadis itu dengan nada sangat manja.
"Oh Shi*t!" gumam pria itu dengan suara pelan. Nada manja istrinya itu bisa membuatnya gila kalau berlama-lama melakukan drama ngambek ini.
Pria itu pun membalik tubuhnya. Ia ingin sekali melihat wajah istrinya itu yang sedang memohon maaf padanya.
"Mass, gak baik marah-marah sama istri. Nanti bisa diganggu dan dimasuki sama jin, kan gak asyik tuh," ujar Prilya lagi dengan tatapan lurus pada bola mata suaminya.
"Kenapa gak asyik?" tanya pria itu berusaha mempertahankan ekspresi wajahnya. Ia masih ingin berpura-pura marah.
"Kamu pintar merayu ya?" ucap sang suami dengan tangan langsung meraih tubuh istrinya ke atas tubuhnya.
"Terimakasih mas. Saya suka mendengarnya," balas Prilya dengan senyum diwajahnya. Sedangkan sang suami langsung menggerakkan tangannya ke arah dua bongkahan padat, kencang, dan berisi milik istrinya itu. Ia meremasnya pelan seraya menyentuhkan bibirnya ke bibir Prilya.
Menit berikutnya, keduanya pun tenggelam dalam kegiatan yang sangat menyenangkan. Hanya suara dessahan dan rintihan yang terdengar di dalam ruang kamar itu.
Rupanya keseruan mereka terjadi juga di sebuah kamar pengantin baru yang berada di lantai yang sama dengan kamar mereka berdua.
Black dan Devi yang baru saja halal sedang duduk diatas ranjang dengan wajah serius memandangi lembaran kertas di hadapan mereka berdua.
__ADS_1
"Ini cara bacanya bagaimana Dev?" tanya Black dengan dahi mengernyit bingung. Ia menyerahkan lembaran kertas itu pada istrinya.
Sebuah tulisan Al-Qur'an yang berisi do'a yang biasa dibaca oleh setiap pengantin baru sesuai sunnah Rasulullah ada di dalam kertas itu sedangkan ia belum bisa membacanya karena tidak pintar mengaji.
Devi tersenyum kemudian membantu suaminya membaca doa tersebut.
"Bismillahirrahmanirrahim. Allahumma barik li fi ahli, wa barik ahli fiya. Artinya, Ya Allah berkahilah kehidupanku dalam keluargaku, juga berkahilah keluargaku dalam hidupku."
Black ikut pun mengulang membaca doa itu seraya memandang istrinya yang sangat ia cintai.
"Setelah itu apa Dev? Apa masih ada doa yang harus saya baca sebelum menyentuhmu?" tanya pria itu dengan ekspresi datarnya. Devi langsung mendengus kesal. Ia tidak menyangka akan mendapatkan suami yang kurang peka seperti itu.
"Masih banyak dan harus kamu hafal sampai pagi!" jawab Devi kemudian menyerahkan selebaran yang berisi banyak doa-doa yang diberikan oleh penghulu yang menikahkan mereka berdua.
Black melotot tak percaya dengan apa yang ia lihat dihadapannya. Kepalanya langsung pusing melihat tulisan Al-Qur'an tanpa baris itu. Ia pun menatap istrinya dengan wajah meringis.
"Dev, apa saya bisa mencicil ini belajarnya sayang?" tanya pria itu setelah ia menatap kertas itu berjam-jam lamanya. Sedangkan Devi tidak menyahut karena sudah tertidur. Ia sungguh sangat kesal dengan tingkah suaminya yang lumayan tak punya perasaan itu.
🌻🌻🌻
Duh Black? Kamu gimana sih?
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😍