
Siang itu, rumah kediaman keluarga Richard kembali ramai. Sejumlah santri dari sebuah pondok pesantren yang tak jauh dari rumah itu diundang untuk mengadakan tadarus Al-Qur'an hingga khatam.
Setelah itu akan dilanjutkan dengan pembacaan doa untuk kedua orang tua Prilya yang sudah meninggal.
Asna dan Ardina tak berhenti berterima kasih pada Samuel dan juga keluarga Richard pada umumnya.
Perempuan paruh baya itu benar-benar tidak menyangka kalau Prilya dan suaminya membawa nasib baik padanya meskipun harus melalui satu musibah yang besar terlebih dahulu seperti kematian.
Elizabeth memintanya untuk tinggal saja di rumah itu bersama dengan Ardina. Akan tetapi ia menolak karena masih punya rumah di kampung meskipun itu sangat sederhana.
"Kenapa bu Asna tidak mau tinggal disini?" tanya Eliza saat mereka ikut menyimak tadarusan Al-Qur'an dari para santri pondok pesantren itu.
"Saya malu Nyonya. Keluarga ini sudah banyak membantu kami semua. Lagipula kami juga masih punya rumah walaupun sangat sederhana. Gak enak kalau ditinggal."
"Ah Iya ya. Kalau begitu terserah Bu Asna deh. Tapi Bu Asna atau Ardina datang ke kota ini, kami siap kok menerima di rumah ini."
"Iya Nyonya, makasih banyak ya." ujar Asna tersenyum. Hatinya menghangat bahagia. Ia benar-benar tak percaya ada orang kaya seperti mereka yang baik hati dan juga tidak sombong.
"Sama-sama Bu. Sekarang kan kita sudah jadi keluarga jadi tidak usah segan begini. Prilya yang sudah merubah putraku jadi lebih baik sekarang. Dan itu saya harus berterima kasih pada Bu Asna yang telah mendidiknya selama ini." Asna tersenyum meringis. Mana pernah ia mendidik Prilya. Yang ada ia malah selalu membuatnya menderita.
Mereka berdua pun terdiam dan tidak lagi melanjutkan pembicaraan mereka. Telinga mereka fokus pada suara indah anak-anak santri itu membaca Alquran. Setelah khataman 30 juz Alquran, doa'doa pun dipanjatkan kepada Allah agar almarhum Sofyan dan istrinya diterima disisiNya. Dan diampuni segala dosa dan kesalahannya.
Tak terasa air mata kembali mengenang dari pelupuk mata Prilya dan juga Ardina sang adik. Mereka berdua saling berpelukan karena rasa haru dan rindu kembali menyeruak dari dalam hati mereka pada sosok sang ayah.
"Semoga Ayah dilapangkan kuburnya ya Din, hiks." ujar Prilya dengan isakan tangisnya. Ia tahu kalau ayahnya sering melakukan hal yang salah. Olehnya itu ia ingin sekali banyak orang yang mendoakan almarhum untuk mengetuk pintu langit memohonkan ampunan untuknya.
Sofyan pikir dengan berjudi ia bisa menang dan kaya makanya ia selalu melakukan perjudian itu. Akan tetapi ternyata perbuatan itu adalah perbuatan yang sia-sia dan hanya menjanjikan kemenangan saja. Pada akhirnya kerugian lah yang akan ia dapatkan. Mereka tidak pernah jadi kaya dan malah mengalami kerugian. Sofyan jadi tidak segan-segan menipu agar ia bisa melakukan lagi hobinya yang sudah membuatnya kecanduan itu.
"Ya Allah," ucap Prilya dengan suara rendah. Airmatanya masih saja meleleh. Ardina sendiri tidak tahu mau bicara apa, ia juga hanya bisa menangisi kepergian sang ayah. Samuel dan Praja serta Black hanya bisa menarik nafas melihat dua bersaudara itu masih belum bisa melepaskan kesedihannya.
__ADS_1
"Praja, kamu mau gak mengambil Ardina sebagai tanggung jawabmu?" tanya Samuel tiba-tiba. Praja Wijaya yang sedang menatap kedua perempuan yang masih menangis itu tersentak.
"Maksudnya?"
"Jadikan Ardina istrimu dan bahagiakan dia supaya kamu tidak melihat istriku lagi!" tandas pria itu dengan gaya khasnya. Memerintah dan terkesan memaksa.
"Hahaha!" Praja dan Black tiba-tiba tertawa bersamaan. Ekspresi Samuel Richard saat mengucapkan hal itu tampak sangat lucu yang langsung membuat dua orang itu tertawa.
"Hey kenapa? Kamu juga Black jaga matamu. Kamu tidak boleh melihat Prilya lebih dari 2 menit."
"Huffft!"
Black dan Praja kembali ingin tertawa tetapi tiba-tiba sadar kalau mereka sedang berada pada acara yang cukup khidmat.
"Sabar Samu, hari ini juga saya akan dinikahkan oleh pimpinan pondok pesantren itu dengan Devi."
"Hah?" Samuel Richard melongo tidak percaya dengan perkataan Black.
"Semalam saya sudah melamar Devi. Dan di bagian sana itu. Tuan lihat?" Black menunjuk jejeran para pria yang sedang duduk bersama dengan para santri.
Praja Wijaya dan Samuel Richard mengarahkan pandangan mereka ke arah yang ditunjuk oleh Black.
"Mereka adalah wali Devi yang baru datang karena ayahnya sudah lama meninggal."
"Wah hebat. Gercep sekali kamu Black!"
"Tentu saja Tuan. Saya juga ingin merasakan indahnya Ramadhan besok bersama dengan seseorang yang saya cintai." Senyum Black. Dua pria itu ikut tersenyum. Ternyata cinta bisa membuat wajah Black yang biasanya datar kini berubah penuh warna.
"Ah iya kalau kamu Praja? Apa mau juga punya pasangan yang akan menemanimu saat sahur nanti?" Praja terdiam. Ia juga sudah lama ingin menikah. Dan perempuan yang ia inginkan adalah Prilya yang ternyata sudah diperistrikan oleh orang lain.
__ADS_1
Pria itu menarik nafas panjang kemudian menjawab," Saya akan memikirkannya nanti. Cinta tidak bisa dipaksakan bukan?"
"Heh, jadi maksudmu kamu belum bisa move dari istriku hah?" Praja tersenyum.
"Saya memang belum bisa move on dari Prilya, tapi bukan berarti saya masih ingin merebutnya dari anda Tuan. Saya hanya belum bisa membuka hati untuk orang lain."
"Hummm, awas kamu kalau memandang istriku lama-lama. Saya pasti akan melakukan sesuatu padamu!" Samuel Richard menatap Praja dengan mata tatapan berapi-api.
Rasa posesifnya pada Prilya semakin tinggi saja sampai melebihi 1000 persen. Ia sendiri merasa heran dengan perasaan yang ia rasakan saat ini.
Apa mungkin karena ia sudah merasakan pijatan dan cengkraman milik istrinya yang sangat luar biasa nikmatnya beberapa jam yang lalu. Batinnya.
Ah, tiba-tiba saja ia ingin membawa istrinya itu kembali ke dalam kamar dan mengulang lagi apa yang sudah mereka lakukan.
"Acara sudah selesai Tuan," bisik Black di telinganya dan langsung membuatnya tersentak kaget dari pikiran mesumnya.
"Ah iya." Pria itu pun berdiri dari duduknya dan segera menutup acara di depan para undangan dengan ucapan terimakasih pada semua orang yang sempat hadir di tempat itu.
"Saya sebagai perwakilan keluarga Richard dan Almarhum Pak Sofyan mengucapkan banyak terimakasih atas doa dan kiriman bacaan Alquran untuk kedua almarhum ayah dan ibu kami. Semoga apa yang sudah kita lakukan semuanya diterima di sisi Allah SWT Aamiin."
"Dan terakhir adalah saya memohon kepada pimpinan Pondok pesantren ini untuk menyediakan guru untuk saya dan keluarga. Kami sungguh ingin belajar ngaji dan juga sholat." Semua orang terpana dengan apa yang dikatakan oleh pria tampan dan terkenal sebagai pimpinan banyak perusahaan itu. Mereka merasa sangat terharu karena orang seperti dia mau mengakui kalau ia ingin belajar.
Setelah itu Samuel Richard kembali ke tempat duduknya dibawah tatapan bangga dari istri dan juga Ibunya.
🌻🌻🌻
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading ya 😍