
Prilya menatap pintu gerbang sekolahnya dengan tatapan haru dan bahagia. Berhari-hari tidak hadir untuk belajar di tempat itu membuatnya merasa rindu juga. Dan saat ini ia datang untuk melapor kalau ia masih hidup dan ingin ikut ujian sekolah yang sebentar lagi akan berlangsung.
Didampingi oleh Devi Aldiva sang guru privat homeschooling nya ia melangkahkan kakinya ke arah ruangan kepala sekolah.
"Kak, jangan panggil saya Nyonya. Jangan katakan apapun kalau saya sudah menikah. Dan juga jangan katakan kalau saya istri orang kaya," bisik Prilya dengan suara rendah di samping wajah Devi Aldiva.
"Siap Nyo- Eh siap dedek Pril," balas gadis itu tangan berada di dahinya dengan posisi hormat.
"Ayo Kak. Jalan cepat." Prilya menarik tangan Devi agar melangkah lebih cepat dan tidak menjadi perhatian semua orang di sekolah itu.
Ia merasa risih karena datang ke sekolah diwaktu belajar dengan tidak berpakaian seragam sekolah. Saat ini Ia sedang memakai pakaian santai namun sopan yang ia yakini pasti sangat mahal harganya. Kainnya yang halus dengan jahitan begitu rapih dan kuat membuktikannya. Pakaian itu begitu pas pada tubuhnya yang sangat langsing.
"Prilya? Kamu darimana saja?" Seorang guru perempuan yang ternyata adalah wali kelasnya langsung datang menyapanya.
"Eh ibu, apa kabarnya? Mohon maaf karena saya baru datang ke sekolah." Prilya menyapa balik dengan mencium punggung tangan perempuan paruh baya itu.
"Alhamdulillah baik Pril, kamu dari mana saja? Ujian sisa seminggu dan kamu bahkan tidak ikut tryout di sekolah beberapa hari yang lalu," ujar wali kelas nya yang bernama Rose Tina itu.
__ADS_1
Perempuan paruh baya itu tampak heran dengan sosok siswi dihadapannya. Ia baru menyadari kalau sosok Prilya Sofyan yang ada dihadapannya nampak sangat berbeda daripada beberapa hari yang lalu. Yang ada dihadapannya lebih cerah, ceria, dan juga cantik. Pakaiannya pun bagus dan rapih.
"Kamu sangat cantik Pril," lanjut Rose Tina setelah memandang siswi dihadapannya dengan serius.
"Apa kamu sudah tidak tinggal dengan Ardina? Kenapa ia tidak pernah menceritakan pada kami keadaan kamu yang sebenarnya?" Rupanya wali kelasnya itu sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada Prilya. Gadis itu memang bukanlah salah satu siswi yang berprestasi. Akan tetapi ia begitu dikenal karena kerajinan dan kesederhanaannya di sekolah..
"Prilya?" Sekali lagi guru itu bertanya karena gadis itu belum juga menjawab pertanyaannya. Prilya hanya meringis. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia menatap Devi Aldiva yang ada dihadapannya dengan pandangan meminta bantuan jawaban. Gadis itu langsung tersenyum kemudian membantu gadis manis berusia 18 tahun itu untuk menjawab.
"Maafkan kami Bu karena baru datang melapor. Semua ini karena sesuatu dan lain hal. Kalau boleh kami ingin bertemu dengan Kepala Sekolah Bu."
Rose Tina tak ingin lagi bertanya. Mungkin gadis ini mempunyai alasan yang sangat kuat sehingga ia berani untuk tidak hadir di sekolah sampai berhari-hari.
"Prilya Sofyan, kamu darimana saja? Ujian sudah di depan mata dan kamu baru hadir di sini?" Ternyata pertanyaan yang sama pun dilontarkan oleh kepala sekolah itu.
"Mohon maaf Pak, ini karena ada masalah keluarga yang cukup pribadi sampai kami baru datang melapor. Dan semoga saja bapak masih mengizinkan adik saya ini untuk ikut ujian." Devi mewakili Prilya untuk berbicara.
"Baiklah, tapi kamu harus ikut ujian praktek sebelum ujian tulis pekan depan."
__ADS_1
"Ah iya Pak. Insyaallah saya akan ikut ujian prakteknya." Prilya menjawab dengan wajah bahagia. Ternyata sekolahnya selama tiga tahun ini tidak sia-sia. Ia juga bisa ikut ujian dan mendapatkan ijazah.
"Baiklah Pak. Kalau begitu kami permisi." Devi pun berpamitan. Ia dan Prilya pun keluar dari ruangan itu.
"Kak, saya tidak mempunyai pakaian seragam untuk ke sekolah. Bagaimana nih?" Prilya bingung. Ia tidak mungkin kembali lagi ke rumah ibu tirinya.
"Tenanglah Nyonya, kita punya ini taraaa..." Devi tersenyum lebar seraya memperlihatkan sebuah kartu sakti unlimited. Meskipun Prilya tidak pernah menggunakan kartu semacam itu tapi ia tahu kalau itu pasti bisa digunakan untuk berbelanja.
"Kata Tuan Black. Kita bisa beli apa saja dengan kartu ini Nyonya. Jadi jangan khawatir." Kali ini Prilya yang tersenyum lebar. Ia senang karena bisa berbelanja. Mereka pun pergi dari sekolah itu dibawah tatapan tidak suka dari Ardina, sang saudara tiri.
🌻🌻🌻
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍
__ADS_1