Tawanan Hati Sang Musuh

Tawanan Hati Sang Musuh
Bab 25 Ukurannya Belum Cocok


__ADS_3

Samuel Richard pun membalik tubuh Prilya agar bisa menghadapnya. Ia sungguh ingin melihat wajah manis berlesung pipi itu yang entah kenapa selama bekerja di luar selalu saja terbayang-bayang didalam kepalanya.


"Apa saja yang kamu lakukan seharian ini?" tanyanya dengan tatapan lurus kedalam mata bening gadis itu.


"Sa-saya," gugup Prilya. Gadis itu merasakan detak jantungnya semakin cepat karena tatapan pria itu padanya. Ia jadi tidak bisa menjawab karena merasakan sebuah perasaan yang sangat aneh dari dalam dirinya. Apalagi pria itu kini semakin mengikis jarak dengannya.


"Sa-saya pergi ke sekolah Tuan. Bolehkan, saya bersekolah lagi?" tanyanya berusaha untuk tenang. Ia merasa sangat tegang dengan posisi mereka saat ini.


Samuel Richard tidak menjawab. Pria itu hanya menggerakkan tangannya ke arah wajah Prilya dan mengelusnya pelan dengan tatapan masih berada pada bola mata gadis itu.


Prilya tak sanggup lagi. Ia memutuskan tatapan itu dengan menutup matanya. Entah kenapa ia begitu menikmati apa yang dilakukan suaminya padanya. Ia lupa diri dan mulai membayangkan yang tidak-tidak.


Samuel Richard tersenyum senang. Ia langsung menepuk pipi Prilya pelan kemudian berucap, "Kamu pikir saya akan melakukan apa padamu hah?!" Gadis itu langsung membuka matanya. Wajahnya memerah karena malu. Ia pikir pria itu akan melakukan sesuatu yang Devi katakan. Yaitu Nina Ninu yang katanya dimulai dari sentuhan dibagian wajah dan seterusnya akan berlanjut ke bagian lain yang lebih sensitif.


Ia pun memutar bola matanya kecewa. Dengan suara bergetar menahan malu, ia pun berucap,


"Maaf Tuan. Saya akan berpakaian sekarang. Saya rasa saya sungguh tidak sopan kalau hanya menggunakan ini di depan anda." Prilya pun berniat pergi dari sana untuk memakai pakaian santainya. Akan tetapi tiba-tiba saja sesuatu terjadi padanya.


"Aaawwwww, ya ampun. Tuan?" Prilya begitu kaget karena ujung handuknya ditarik oleh tangan pria dihadapannya dan berhasil terlepas.


Gadis itu langsung menutup daerah sensitifnya dengan kedua tangannya karena handuk itu dilemparkan ke sembarang arah oleh pria itu.

__ADS_1


Samuel Richard merasakan sesuatu dari dalam dirinya berkedut melihat pemandangan dihadapannya.


Indah


Tangannya langsung meraih tangan Prilya yang sedang menutupi benda yang ingin ia lihat.


"Kenapa ditutup Hem?" tanyanya dengan suara bergetar penuh hasrat. Ia pria normal dan melihat sesuatu yang tersembunyi selama ini, ia begitu ingin mencicipinya.


"Dan apa kamu menyadari kalau tubuhmu ini sangat kurang menarik Nyonya?" tanyanya seraya menyentuh dua gundukan yang lumayan berisi dihadapannya.


Prilya tersentak kaget. Ia mundur tapi Samuel Richard malah tidak membiarkannya. Tangan kirinya langsung meraih pinggang gadis itu dan menahannya. Sedangkan tangan kanannya langsung meremas benda itu dengan sangat lembut hingga membuat Prilya hanya bisa menutup matanya.


Ingin ia menolak tapi ia takut. Samuel Richard tersenyum karena gadis itu tidak menolak dan bahkan nampak menikmati apa yang ia lakukan.


keluar dari kamar itu dengan merutuki dirinya yang sudah sempat tergoda pada gadis itu.


"Sial! Kupikir hanya akan mempermainkannya tapi ya ampun, ternyata gadis itu sangat menarik." Pria itu menyugar rambutnya dengan mengerang kesal. Sedangkan Prilya hanya bisa terbengong-bengong. Ia tidak tahu apa yang tetapi pada pria itu. Ia pun menyentuh dua gundukan miliknya dengan lembut. ia berusaha mengukurnya dengan tangannya sendiri.


"Ini kurang menarik katanya? Dasar pria mesum tak berperasaan!" Gadis itu pun segera berpakaian dan melupakan rencananya untuk beristirahat. Ia segera menuju ke dapur untuk makan.


Mulai hari ini ia akan makan yang banyak dan bernutrisi agar bobot tubuhnya bisa bertambah dan berisi. Setelah itu akan membuat suaminya itu menelan air liurnya.

__ADS_1


"Apa ada yang bisa kami bantu Nyonya?" tanya Anita saat melihat Prilya muncul di depan pintu dapur.


"Saya ingin makan Bu. Saya ingin berisi dan tidak tampak seperti orang cacingan lagi." Prilya menjawab dengan wajah yang sangat lucu. Anita tersenyum dan berusaha menahan untuk tidak tertawa.


"Silahkan duduk saja Nyonya. Pelayan akan membawakan menu makanan anda sore ini." Anita mempersilahkan gadis itu untuk duduk di meja makan.


Setelah itu ia meminta pelayan untuk membawakan menu makanan sehat dan bergizi untuk Nyonya muda itu. Bukan banyaknya tapi kandungan gizi yang paling utama. Seorang dokter gizi sudah memberinya resep dan aturan yang harus diikutinya.


"Silahkan dinikmati Nyonya." Anita mempersilahkan Prilya menikmati makanan dihadapkannya. Segelas susu hangat, satu mangkuk sup daging brokoli dan juga kacang-kacangan sudah tersedia.


"Apa ini bisa membuat tubuh saya berisi Bu An?" tanya Prilya dengan wajah bingungnya. Tak ada nasi putih disana sesuai dengan kebiasaannya selama ini.


"Iya Nyonya, makanan ini sudah mengandung gizi dan protein yang tinggi. Dan bisa membuat tubuh anda sehat dan kuat."


"Tapi saya tidak akan kenyang kalau cuma makan ini Bu Ani. Saya mau makan nasi putih. Tubuhku pun tidak akan cepat berisi kalau cuma makan ini." Anita tersenyum maklum.


"Ini masih sore Nyonya. Belum juga waktu makan malam. Silahkan nikmati yang ini saja dulu." Prilya menurut meskipun ia merasa tidak akan bisa menambah berat badannya kalau cuma makan ini saja.


🌻🌻🌻


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading ya gaess 😍


__ADS_2