
Saat di rumah Aleta,leo berusaha bersikap keras kepada Aleta tapi tidak saat dia sudah berada di mobilnya,dia meraup kasar wajahnya terlintas rasa tak tega melihat adik sematawayangnya terluka karnanya,tp dia juga tidak bisa selalu dalam bayang bayang sifat Aleta yang terlalu kejam terhadap vani,sifat adiknya yang egois kekanak kanakan dan keras kepalanya benar benar membuatnya frustasi,
"Kau tidak apa apa leo,???",
Suara Roy menyadarkannya dari lamunan,
"Hem,"
Jawabnya hanya dengan deheman.
"Kita kembali ke mansion atau"
"Kembali ke perusahaan,".
"Baik lah,".Jawab Roy,dan dia melajukan mobilnya ke perusahaan leo,
"Roy,aku ingin kau mencari tau tentang vani,apapun yang terjadi padanya aku ingin kau memberi tahuku.".
Ucap Leo di sela sela heningnya di dalam mobil itu.
"Baik lah,Em leo apa kau serius dengan kata katamu tadi,apa kau benar benar akan menikahi gadis itu,???".
Roy merasa penasaran dengan perasaan leo,
"Iya,karna aku telah jatuh cinta denganya,".
Ucap santai leo,yang tanpa di sadarinya Roy mengepalkan tanganya,wajahnya terlihat memerah,
Dion saja belom bisa ia singkirkan sekarang tambah lagi leo..,
"Lantas bagai mana dengan farah,bukankah kau sangat mencintainya,bahkan kau tidak bisa jauh dari bayang bayangnya,"
Roy sangat tau perjalanan cinta antara leo juga farah,
Farah dan leo sudah menjalin hubungan sejak SMA hingga kuliah bahkan lanjut kerja,sudah lama farah meminta leo serius kepadanya tapi leo masih enggan untuk serius karna masih memikirkan adik sematawayangnya,tapi saat leo memutuskan untuk menyerah karna sayangnya kepada farah,mereka memutuskan untuk bertunangan tapi naas bagi leo harus mendapati pujaan hatinya tidur dengan pria lain di malam pertunangannya,bahkan dengan pesta yang masih berlangsung.
"Aku tidak bisa memungkirinya kalo aku masih mencintainya,tapi aku juga tidak bisa berlarut larut dari bayang bayangnya tidur dengan pria lain bahkan di pesta pertunanganku,,"
Entah kenapa Roy merasa gusar,
Tidak terasa mobil telah mendarat di perusahaan Guinandra,kini hari harinya dia lalui tanpa vani.
🍂🍂🍂
Di kediaman vani,
"Mah itu pasti puding buat Alice kan,??"..
"Eehh sayang itu bukan buat kamu,,".
Mama memegang tangan Alice yang hendak mengambil puding coklat di atas meja bikinan mama,Alice mengerutkan keningnya..
"Kenapa mah,emang buat siapa puding itu sepertinya spesial sekali,,".
"Ini buat adik kamu sayang,kan dia baru kluar rumah sakit,jadi mama mau kasih ini buat dia,".
Ucap mama dengan senyum manisnya dan sedikit cubitan kecil pada Alice,
Brakk..
suara kursi yang di banting oleh Alice,
"Aaaarrrrrgghhh,Alice,!!"
Mama terkejut dengan kelakuan Alice yang sudak keterlaluan,
"Kenapa mah,lagi lagi vani.Enggak mama nggak papa sama ajah,gk ada yang perduli dengan Alice,disini yang anak mama itu Alice bukan wanita sia**n itu msh".
Plak,,
Satu tamparan dari mama mendarat di pipi Alice. "Alice,jangan kurang ajar kamu Alice,vani itu adik kamu sendiri,!!.
"Maaaa,sadar mah vani bukan adik aku,adik aku sudah mati mah sebelum dia lahir,dan itu karna wanita itu,,".
Mama begitu terpukul dengan perkataan Alice, serpihan ingatan yang pernah dia kubur bahkan ingin dia hilangkan dari pikiranya,satu persatu telah kembali.
flashback on
__ADS_1
Keluarga Adi begitu bahagia,karna sebentar lagi mama Amanda akan melahirkan anak kedua mereka,yang paling antusias atas kehamilan Amanda adalah putri kecilnya Alice,mereka bertiga menuju Rumah sakit untuk pemeriksaan rutin mama,kini usia kandungan mama sudah memasuki 8 bulan.
"Mahh pah,mulai ckalang manggil aku kak Alice.Alice kan bental ladi munya dedek bayi oek oek,hihihi",
Senyum indah terpancar di wajah gembulnnya Alice kecil saat memikirkan tentang adiknya.
"Iyaaa cayangnya mama papa,ihhhh geumues deh lhat gembulnya pipi kamu sayang".
di cubit dan di kecupnya pipi Alice kecil, begitu juga Alice membalas kecupan di pipi mama Amanda.
Tawa keluarga kecil itupun pecah dengan ulah ulah Alice,
"Yah yang dapat sun cuma mama yah,,".
Gerutunya papa yang sedang menggoda Alice,
"Sini kak Alice cun papah,".
"Sini sini sini,,"ucap papa dengan kekehan.
Tanpa papa Adi sadari bercanda nya berakhir bencana,mobil papa Adi kehilangan kendali dan saat membanting stir dan melewatkan garis jalan hingga memasuki lawan arus mobil,dan naasnya ada mobil arah lain yang mengakibatkan kecelakaan maut itu tak terelakkan,dan di dalam mobil itu ada kluarga vani kecil yang baru pulang merayakan ulang tahunya dikediaman kakek vani.
"Pahhhhh",
Jeritan mama Amanda sebelum kecelakaan.
Bruakkkk,
Suara mobil tabrakan pun terdengar begitu keras,mobil papa Adi hanya lecet bagian depan,sedangkan mobil satunya yang walau terlambat dia tetap berusaha membanting stir hingga terguling posisi terbalik.
"Hwaaaaa aaaaaa,hwaaa Papa mamaaa".
Tangis Alice,.
"Pahhh sakittt,sakittttt..."
Jeritan mama menahan kesakitan akibat perut buncitnya yang terbentur saat kecelakaan.
"Sayaang bertahan yah,"..
Saat papa Adi ingin menolong istrinya dia melihat ada sesosok anak kecil yang terjebak di pintu mobil yang terbalik,
dia melambaikan tangan dengan wajah yang berlumuran dengan darah seakan meminta papa Adi menolong balita itu,.
papa Adi berlari mencoba menolong anak kecil itu,tapi naasnya percikan Api semakin membesar sehingga dia memutuskan untuk pergi menjauh,karna istrinya kesakitan papa Adi memilih menuju Rumah sakit meninggalkan pasutri itu dengan keadaan mobil mulai terbakar,
Entah kenapa jalanan saat itu sepi,
Di Rumah sakit dokter menyatakan mama Amanda kehilangan calon anak laki laki yang di tunggu tunggunya,akibat pendarahan hebat dan benturan juga keterlambatan penanganan menjadi penyebabnya,bahkan rahimnya pun harus di angkat.
Alice yang tidak sengaja mendengarnya,mensngis sejadi jadinya,dia menyalahkan papa Adi,dari situlah sampai dia dewasa dia selalu merasa benci dengan vani juga papanya,
Di tambah lagi mamanya yang mengalami trauma yang menjadikanya sering histeris saat melihat kematian anaknya yang masih di dalam kandungan.
Papa adi ingin melapor ke polisi,tapi dia urungkan niatnya mengingat anknya yang masih kecil dan istrinya yang benar benar membutuhkanya,
Dia memutuskan untuk merawat gadis kecil yang dia beri nama vani,dia begitu menyayanginya terlebih dia juga merasa bersalah karnanya gadis itu kehilangan orang tuanya,
Vani sama sekali tak mengetahui itu semua ingatanya di masa kecil dan peristiwa kecelakaan itupun terasa lenyap karna rasa ketakutanya itu.
Yang dia tau dari cerita papa Adi,adiknya yang sudah meninggal sebelum di lahirkan.
Jadi papa Adi membuat identitas baru vani,yang menjadi putri kandungnya.
Flashback of
Dunia mama terasa runtuh saat mengingat rentetan peristiwa yang lalu,air mata meleleh di pipinya,tubuhnya yang lemah berkeringat dingin.
Entah dia harus benci marah atau merasa iba kepada vani,karna yang ada dalam pikiranya orang tua vani yang menabraknya,walaupun kenyataanya kecelakaan itu terjadi lantaran kelalaian suwaminya sendiri.
"Nyonya,,tuan dan non vani sudah pulang,".
pelayan memberitahu mama Amanda yang tengah berada di dapur,puding yang harusnya untuk vani pun mama buang ketempat sampah,
Alice yang melihatnya tersenyum penuh kemenangan.
"Mahhh kita pulang,"Adi berjalan menghampiri istrinya,mencium tangan suaminya dan kecupan hangat papa Adi mendarat di kening istrinya,
__ADS_1
saat giliran vani mendekat ingin mencium tangan mamanya,Mama Amanda melengos dan tanpa kata kata ia pamit ke kamar,di ikuti Alice di belakangnya,
"Mahh,,".
Suara Adi yang ingin menghentikan langkah istrinya namun itu sangatlah sia sia.
"Pah mama kenapa,sepertinya ada yang salah denganku,".
Ucap vani dengan keherananya,
"Tidak sayang mungkin mama sedang lelah,Yasudah kamu masuk kamar pasti kamu kangen kan kamar kamu sayang,papa mau temui mama dulu,"
Papa Adi mencoba menghibur vani.
"Iya pah,".
Vani mengangguk dan pergi kekamarnya.
Di kamar mama Amanda duduk di pinggir kasur menangis terisak,ada rasa benci tapi juga tidak tega,
"Mah,".
Papa Adi duduk di sebelah Amanda,mencoba mencari tau penyebab sikapnya yang acuh kepada putrinya.
"Ada apa mah,".
"Pah aku tidak ingin melihat wanita itu,".
Mama Amanda mencoba mengutarakan kemauanya yang benar benar membuat swaminya kebingungan,
"Maksud mama,siapa mah???"
"Vani pah,aku tidak ingin melihatny,karna orang tuanya aku kehilangan anakku,".
Mama menghadap papa dengan wajah penuh kebencian ia tunjukkan kepada vani.
Papa begitu kaget dengan penuturan istrinya,dilain sisi vani yang merasa ada sesuatu dengan mamanya ingin menemui mamanya,dia juga ingin melepas rasa kangen kepada mamanya.
Saat di depan pintu kamar mama vani mendengar perdebatan antara mama dan papanya,
"Mah,mama kenapa tiba tiba bicara seperti itu,siapa yang bilang seperti itu mah,"
"Papa gak perlu menutupinya,dan tidak perlu tau siapa yang bilang sama mama,tapi emang kenyataanya vani bukan anak kita kan pah,!!!!.
Seru mama dengan emosinya yang berkobar hingga vani yang di luar mendengar percakapan itu,betapa hancurnya hati vani.
"Mama benci dengan anak itu pah,,"..
"Mah.."
Tangan papa Adi sudah siap untuk menampar mama tapi dengan kesabaranya menghadapi mama dia masih bisa mengontrol emosinya.
Vani yang masih syok berlari pergi dengan air mata yang sudah membasahi pipinya,
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
####**Permasalahan mulai bermunculan dalam hidup vani,akankah dia bisa menyelesaikan satu persatu masalahnya..
jika suka dengan ceritanya like ya kakdan tinggalkan jejak komennya,
__ADS_1
Sehat selalu**....