
Vani masih dalam kekecewaanya terhadap Leo,
begitupun juga dengan Leo yang masih dalam kekecewaanya karna kesalah pahaman.
Leo terdiam sejenak,lalu dia terlintas untuk membawa Vani kluar dari pekerjaanya,lingkungan saat ini dirasa dapat membahayakan gadisnya.
Walaupun dalam hatinya teramat sakit Leo bermaksud membawa Vani kembali ke mansionya.
Leo dengan kasarnya menarik tangan Vani dan menyuruhnya ikut denganya,Vani sedikit berlari kecil karna kalah langkah dari kaki Leo,dalam hati Vani entah kenapa walau dia yakin Leo lah dalang dari penculikan itu tp hatinya tk memberontak sedikitpun saat Leo menyuruhnya ikut.
Kini Vani dan Leo berada di parkiran,saat ingin memasuki mobil,Monic yang melihat Vani berlari menghampirinya.
"Vaaan!!!!."
Monic berteriak memanggil Vani,yang sudah terlambat.
Vani yang melihat sahabatnya di balik kaca pintu mobil,hanya bisa melambaikan tanganya dengan tetesan air matanya,ucapan terimakasihpun tak sempat ia ucapkan.
Monic merasa kehilangan sekali,dengan kepergian Vani,karna hanya Vani lah yang dia punya.
Didalam mobil,hanya kesunyian yang ada,Leo hanya diam begitu juga Vani yang tak begitu berani menatap apalagi bicara dengan Leo.
Kini Vani dan Leo yang sudah berada di mansion disambut antusias oleh Asisten asisten rumah tangganya,terlebih Uun yang sudah menganggapnya kakak.
"Kak Vani.."
Uun memberi pelukan hangat pada Vani.
"Auuuw."
Vani meringis kesakitan,Leo yang mendengarnya mengeryitkan keningnya,dia baru sadar jika lengan Vani terluka.
Leo menyuruh Uun untuk mengobati luka Vani,Vani hanya terdiam bukan luka pada lenganya yang teramat perih dia rasakan,tapi hatinya.
Uun yang menyadari ada yang gak beres dengan tuan dan nonanya itu,yang terlihat dingin mencoba mencairkan suasananya.
"Em kak Vani,Uun bantu obati di kamar yah."
Vani hanya mengangguk.
"Tunggu!!!!."
Leo menghentikan langkah kaki Vani dan Uun,"Apa aku menyuruhmu membawa wanita ini ke kamarku????."
Uun hanya terdiam,dia berfikir kalo Vani akan menempati kamarnya yang dulu,tapi kenyataanya membuat Vani juga Uun kaget.
"Bawa dia kekamarmu!!!,dia bukan nyonya disini dia sama seperti kalian."
Leo ingin menjadikan Vani sebagai pembantunya.
Sakit,teramat sakit hati Vani saat menerima kenyataan dari Leo.
**
Beberapa hari telah berlalu,Vani ditugaskan Leo untuk melayani semua kebutuhanya dari membersihkan kamarnya menyiapkan pakaian perlengkapan kantor yang akan dia bawa kekantor bahkan makanan yang akan dia makanpun Vani yang harus menyiapkan.
Malam telah tiba,Vani di beri tahu kalo akan ada tamu spesial yang akan ikut makan dengan Leo dirumah,dan Leo menyuruh Vanilah yang harus menyiapkan makan itu,Leo tidak ingin ada yang membantunya.
Walau lelah Vani sedikit bersyukur setidaknya dia bisa kluar dari klub itu.Dia tidak berurusan lagi dengan pria pria yang sering menggodanya.
Tok tok tok,
terdengar suara ketukan pintu,Vani berlari membukanya.
Deg...
__ADS_1
Dilihatnya seorang pria yang sama sekali tidak ingin dia temui,
Vani terkejut dengan kedatangan Roy,begitu pula dengan Roy.
"Kau.."
Ucap Roy kaget,Vani yang terkejut tubuhnya terasa kaku,hanya tubuhnya yang terasa bergetar ingin rasanya dia berteriak,antara takut dan benci saat melihatny.Roy yang melihatnya hanya tersenyum penuh arti melihat ekspresi wajah Vani.
Roy mencoba mendekati Vani,Vani sedikit demi sedikit mundur saat Roy ingin menyentuh Vani yang dalam keadaan ketakutan,Leo datang bersama seorang wanita.
"Kau sudah sampai Roy???."
Roy yang mendengar suara Leo menghentikan aksinya yang ingin menyentuh Vani.
Vani yang mendengar Leo,langsung berlari menghampirinya,dia kira ingin meminta perlindungan namun belum hilang keterkejutannya terhadap Roy kini ia kembali dikejutkan dengan hadirnya Alice kakaknya.
Alice yang melihat keberadaan Vani juga tak luput dari rasa keterkejutanya.
"Kauu,ngapain kamu disini hah???."
Alice langsung berlari dan menghampiri Vani,dia menjambak rambut Vani hingga terhuyung ke lantai.
"Sakit kaaakkk hikss,sakiit hikss hikss....."
Terasa panas dan perih akibat jambakan Alice pada rambut Vani.
Leo yang melihat kelakuan Alice mencoba melepaskan cengkraman Alice pada Rambut Vani.
"Apa apaan kamu Alice!!!!!!,apa yang kamu lakukan hahh!!!..."
Alice yang melihat kemarahan Leo melepas tanganya,dia berusaha merayu bergelayut dengan manja di lengan Leo,Leo yang memang semula ingin membuat Vani cemburu dengan mengajak Alice ke mansionya membuatnya tak menolak Alice,
Leo juga sengaja membuat Vani jadi pembantunya agar dia tetap bisa melihat Vani,walaupun hatinya masih terasa sakit dengan kelakuan Vani tapi dia tetap mencintai gadisnya.
Ingin rasanya Vani pergi dari tempatnya berdiri,tapi Leo tak mengijinkannya.
Entah kenapa hati Vani sakit melihat kebersamaan Leo dengan Alice,sebenarnya Vani pernah manaruh hati pada Leo,tapi dia berusaha membuang jauh jauh perasaanya mengingat ada seseorang yang sudah terlebih dulu mengisi hatinya.
Alice dengan sengaja membuat Vani cemburu,bahkan dia dengan sengaja menyuruh nyuruh Vani.
"Eh aku mau es jeruk dong,cepet gih buatin."
Alice tersenyum melihat Vani menuruti semua kemauanya,merasa puas bisa menyuruh nyuruh Vani bahkan Vani harus beberapa kali membuat minuman untuk Alice karna Alice tak menyukainya,
alih alih karna tidak pas di lidah,hanya saja itu di sengaja Alice.
Setelah makan malam,Leo melanjutkan mengobrol dengan Alice dan Roy di ruang keluarga,sedangkan Vani harus membersihkan meja makan dan mencuci perabotannya.
Roy meminta ijin pada Leo ketoilet padahal tujuanya adalah menemui Vani,dia mengendap endap ke dapur.
Dia melihat lekuk tubuh Vani,dari atas ke bawah,wajah tanpa poles dan rambut Vani yang di cepol asal memperlihatkan leher jenjang Vani yang membuat Roy tak bisa menahan gairahnya,Vani yang menggunakan kaos warna navy ngepas di badan yang berkerah vie berlengan pendek,dan rok selutut memperlihatkan lekuk tubuhnya yang putih dan terlihat indah,
meski kini dia layaknya pembantu namun kecantikanya tak pernah luntur,karna kecantikan alami yang dia punya.
"Auuupphhhh,eeemmm emmmm..."
Roy membekap mulut Vani dari belakang,Vani begitu ketakutan dia hanya berusaha memberontak namun kekuatanya tak sebanding dengan lengan kekarnya.
Vani di dorong ke gudang oleh Roy,dengan bringas Roy mulai mengoyak baju Vani.
Uun ingin mengambil minum di dapur,tapi dia merasa ada yang aneh dengan keadaan dapur yang masih berantakan dia mencari keberadaan Vani,hingga akhirnya dia mendengar ada yang jatuh dari arah gudang.
Saat Uun mengecek di gudang alangkah terkejutnya melihat Vani yang terlihat menyedihkan,hampir saja Roy kembali memper*osanya.
Roy yang melihat Uun sontak bingung dengan apa yang harus diperbuatnya.
__ADS_1
Roy mendekati Uun,dan dia mencekik leher Uun.
"Dengar yah!!!,jangan sampai kau memberitahu Leo,kalo tidak kau akan tau akibatnya aku tau keluargamu di kampung,aku bisa melakukan apapun inget itu!!!."
Ancam Roy pada Uun.
"Uhuk uhukk.."
Uun yang terhuyung karna dorongan Roy,dia hanya mengangguk karna rasa takutnya pada Roy.
Roy keluar dari gudang dengan merapikan bajunya,ia benar benar merasa jengkel karna hasratnya lagi lagi tak bisa ia salurkan.
"Hiks hiks..."
Isak tangis Vani begitu membuat hati Uun tak tega,
Uun memeluk Vani mencoba menenangkanya.
"Maaf kak Van,aku gak bisa bantu kakak hu hu hu..."
Vani hanya menggelengkan kepala mencoba meyakinkan pada Uun,dia baik baik saja.
Uun meminta Vani kekamar untuk membersihkan tubuh Vani,dia juga melihat wajah Vani yang terlihat memucat entah karna lelah atau sakit,Uun yang akan menyelesaikan pekerjaanya,walau Vani menolak Uun tetap keukueh menyuruhnya beristirahat.
Kini Alice juga Roy sudah pulang,Leo melihat kearah dapur mencoba melihat aktivitas Vani,namun yang ada hanya ada Uun.
"Kemana gadis itu???."
Suara Leo mengagetkan Uun hingga gelas yang ia pegang terjatuh dan pecah.
"Maa maaf tuan nona sedang istirahat dia tidak enak badan."
Leo mengernyitkan dahinya mendengar Vani sakit.
**apa aku sudah keterlaluan,apa dia sakit karna aku suruh suruh.
Leo mengacak acak rambutnya,berusaha untuk tidak perduli dengan Vani tapi hatinya tetap tak bisa mengacuhkanya.
Leo menyuruh Uun untuk membuatkan jahe hangat buat Vani.
Uun tersenyum mendengarnya,hingga membuat Leo menatapnya tajam.
"Iy iya tuan,saya bikinkan."
Ucap Uun terbatq bata saat melihat wajah dingin Leo.
.
.
.
.
.
.
##***hai man teman,makadih ya sudah kasih dukungan di novel terbaruku.
Semoga kedepanya aku bisa lebih semangat lagi bikin karya karyanya.
Tinggalkan komen dan like ya,buat semangatku up tiap harinya hari ini aku kasih dobel up...
Sehat selalu***...
__ADS_1