
Jam sudah pukul 8.00 malam,tapi leo masih ada di perusahaan,hari harinya terasa kacau tiap kali dia memikirkan vani.
Dret dret
handphone leo tertera nama Aleta adiknya,
"Hem ada apa Aleta,".
Jawab singkatnya leo saat sudah tersambung.
"Kenapa jutek sekali kak,apa kakak masih marah pada Aleta,atau kakak marah karna kabar tentang wanita itu,???".
"Sudah lah Aleta,katakan kenapa kau menelphonku,".
"Kak aku udah putusan untuk pulang,aku udah ada di bandara,tolong jemput aku yah,".
Leo merasa ada yang aneh,sudah sekian lama dia menyuruh adiknya untuk pulang tapi sama sekali Aleta tak bergeming sedikitpun untuk berniat pulang.
"Hallo kak,".
"Baiklah aku kesana,".
Leo menaikan alisnya,dia masih heran dengan kepulangan Aleta yang secara tiba tiba,tapi dia teringat Aleta kembali dia tidak ingin adiknya menunggu lama,leo memutuskan untuk menjemputnya sendiri tanpa Roy,
tlilit tlilit,
"hallo leo,".
"Keruanganku sekarang,".
"Baiklah,".
jawab Roy yang langsung menuju ke ruangan leo.
tok tok tok
"Masuk,".
"Ada apa Leo,sepertinya kau serius sekali,".
"Aleta pulang,aku akan menjemputnya,nanti kau pulanglah sendiri,".
"Iya aku juga dapat kabar dari mama kalo Aleta meminta pulang secara mendadak,lalu kenapa kau sepertinya resah karna kepulangan Aleta,bukankah ini yang kau mau,".
"Entahlah tapiii aku merasa ada yang aneh,kenapa tiba tiba Aleta memutuskan pulang disaat mendekati pernikahan vani,".
Leo merasa curiga Aleta akan melakukan sesuatu terhadap vani,karna dia tau Aleta masih tak terima Dion bertunangan dengan vani.
Leo keluar dan menuju parkiran,
dia mengendarai mobilnya menuju bandara,15 menit Leo sampai di bandara,.
Saat menuruni mobil,terlihat pesonanya walaupun hanya wajah dinginya yang terlihat tak bisa menyembunyikan wajahnya yang tampan,
banyak gadis gadis yang meliriknya bahkan berbisik bisik saat melihat dia,
Leo ingin menelfon Aleta tapi geeakanya terhenti saat suara Aleta memanggilnya,
"Kak leo,".
Aleta menghampiri leo,pelukan rasa kangen kepada kakaknya.
"Kakak lama sekali,".
Ucapnya manja kepada kakaknya,
"Kita pulang sekarang,".
Leo tak menjawab ucapan adiknya,karna dia merasa risih dengan tatapan mata wanita wanita yang menatapnya intens,Aleta hanya menganggukan kepala,
saat di dalam mobil,
"Kenapa tiba tiba kau pulang,bukankah beberapa hari yang lalu,kau sendiri yang bilang tidak mau pulang,apa karna pernikahan Dion sebentar lagi,".
pertanyaannya terasa ingin menyelidiki adiknya,
"Apa kakak tidak suka kepulanganku,???".
Aleta merasa jengkel karna sikap kakaknya,
*aku tidak akan biarin pernikahan itu terjadi kak,sampai kapanpun kak Dion hanya milikku,aku kembali untuk merebut milikku dari wanita itu,
aku sudah tidak bisa mengandalkanmu kak,aku akan melakukanya dengan caraku sendiri,aku akan membuat hidup wanita itu hancur,.
Batin Aleta dengan senyum menyeringai di ujung bibir Aleta karna sudah memiliki rencananya sendiri.
"Sudahlah,tidak perlu di bahas lagi,kau tidurlah dulu mungkin kau lelah,aku akan membangunkanmu setelah sampai",.
"Baiklah,".
Aleta bersiap untuk tidur.
__ADS_1
Keesokan harinya,
Leo seperti biasanya pergi ke kantornya,dia berangkat sendiri karna mobilnya yang semalam dia bawa tanpa Roy,
saat hendak kluar mansionnya terlihat mobil vani memasuki Gerbangnya,leo menghentikan lajunya begitu juga dengan vani,.
leo mendekati vani,entah perasaan apa leo ingin sekali memeluk calon istri orang lain,rasa rindu yang setahun ini dia pendam ingin rasanya dia curahkan,dia mengira vani juga merasakanya,
"Girl,.what's wrong, why are you here,".
"Ma maaf tuan leo,aku hanya ingin memberikan ini,".
Vani memberikan undangannya kepada leo,Leo hanya terdiam,rasa rindunya yang menggebu gebu terasa mencekik dirinya saat dia menerima kenyataan rindunya tak terbalas,.
Leo memeluk vani dengan erat,leo sudah tidak bisa menahanya,walaupun sakit mungkin setidaknya rindunya terobati walaupun hanya dengan pelukan singkatnya,
"Girl kenapa kau lakukan ini,kenapa girl.Kau yang membuat hati ini jatuh cinta kepadamu,tapi kau juga yang mematahkan hati ini girl,".
Vani masih terdiam,karna keterkejutan akibat pelukan yang secara mendadak dari leo,
Leo melepaskan pelukanya saat merasa vani tersiksa karna pelukannya yang erat,.
"Girl,"
Leo memegang dagu vani dan,
belum juga vani menjawab
cup,
kecupan dadakan mendarat di bibir vani,vani yang memberontak tak membuat leo melepaskan kenikmatan yang selalu menjadikan kerinduan yang teramat dalam,leo memegang tengkuk leher vani,dan mencoba menjelajahi celah bibir vani,vani menutup matanya sesaat vani ikut terbawa kedalam permainan leo,
saat mendapati respon dari gadis yang di rindukanya,leo me*um*t bibir kenyal milik vani dengan agresif dan saat dia ingin memperdalam ci*m*n dan menyentuh gunung kembar milik vani,vani teringat dengan Dion,vani membuka matanya lebar lebar dan mencoba memberontak kembali,tapi kekuatanya sama sekali tak sebanding dengan leo,vani hanya bisa mengatupkan bibirnya yang terasa ingin di terobos oleh leo,
Saat leo membuka matanya dia melihat mata indah vani yang sudah berkaca kaca,
Leo dengan iba melepaskan pelukan juga cium*nnya.
Plak,
tamparan keras vani layangkan kepada leo,masih terlihat nafas vani yang tersengal sengal,dan masih terlihat bibir vani yang terasa tebal dan memerah akibat ci*man dari leo..
"Apa yang kau lakukan tuan leo,!!!".
wajah vani bergetar lelehan air mata indahnya jatuh di pipinya yang sudah memerah,entah karna rasa marah atau kecewa harus menghentikan aktivitas leo,karna sesungguhnya entah kenapa perasaanya juga sebenarnya menginginkannya,karna dia juga merindukan leo tapi dia juga tidak bisa menghianati tunanganya apa lagi sebentar lagi pernikahan akan di gelar,
"Kau juga sebenarnya menginginkan itu kan girl,.why???,why don't you admit it if you also love me and miss me,"
"Tidak!!!!,aku tidak mencintaimu Leo,hapus semua perasaanmu,!!".
Vani mencoba menepis perasaanya,dia juga tidak ingin leo lebih terpuruk dalam perasaan nantinya setelah dirinya menikah,
"Girl,kalo kau memang tidak mencintaiku,tentunya kau tidak terlihat ragu saat memilih Dion,".
"Kau salah tuan aku mencintai Dion,bukan dirimu".
Kilah vani dia tidak ingin leo selalu berharap,meski dia juga merasa sakit saat mengucapkan itu.
"Maaf tuan,aku tidak ingin membahas yang lain aku hanya mengantar undangan ini,dari Papa dan tentunya dariku calon mempelai wanita,ku harap kau secepatnya melupakanku,dan jauhi aku karna dari awal aku bukan milikmu,aku permisi".
"Girl girl,!!!".
Vani memasuki mobilnya dan pergi tanpa menoleh ke arah leo yang mencoba menghentikanya,
"okay my girl i will forget you, and will stay away from you as you wish,".
Rasa sakit hati leo terasa perih akibat ucapan vani,
dia mengusap kasar wajahnya,
dari kejauhan Aleta melihat perdebatan antara vani juga kakaknya dengan senyum puas,
(Aleta sedang berada di mansion kakaknya).
"Kau malah semakin membantuku untuk memudahkan rencanaku menghancurkanmu ja*ang,perlahan kau akan di jauhi dari orang orang yang kau sayangi,".
Aleta menarik sudut bibirnya dengan senyuman sinisnya.
Tlilit tlilit
Roy melihat phonsel milik nya,tertera nama Aleta,Roy mengerutkan keningnya,
"Siapa sayang,".
Ucap zola yang duduk di samping Roy,zola pagi itu berangkat diantar Roy ke kampusnya,.
"Aleta,".
"Em sayang,dulu aku pernah tanya ke kamu,hubungan kamu dengan keluarga Guinandra,kalo hanya kerja sepertinya lebih,klo aku lihat kamu seperti kluarga mereka,buktinya Aleta tinggal bersama momy kan??",.
"Yah,Aleta juga leo kerabatku,tepatnya kerabat momy,
__ADS_1
momy adik dari ayah leo dan Aleta,".
"Ohhh gituuu,".
Zola mengangguk anggukan kepalanya,
*masak sih si nenek sihir itu bakal jadi saudara gua,aduh nggak banget deh,
batin zola dengan ekspresi wajah cemberut.
"Kau kenapa,sepertinya kau tidak menyukai hal itu ??".
"Ah eng enggak kok,nggak papa,".
jawab zola salah tingkah,
tlilit tlilit
"Tuh dia hubungi kamu lagi,".
zola mencoba mencari cari alasan untuk mengalihkan pertanyaan Roy.
"Hallo,"
Roy mengangkat telpon dari Aleta.
"Aku ingin bertemu denganmu,sekarang.!!"
Ucap Aleta.
"Tidak bisa aku sedang bersama zola,aku juga harus ke perusahaan,"
"Oke kalo kamu menolak bertemu denganku,kau sepertinya harus siap siap untuk keluar dari perusahaan kakakku,".
"Apa maksudmu,".
"Temui aku sekarang di restoran x,"
tut tut tut
Telpon di matikan Aleta begitu saja,
"Siall,"
Gerutu Roy.
"Kau kenapa sayang,".
"Aku harus ke menemui Aleta,aku mengantarmu dulu,".
"Oh kalo memang penting aku naik taksi saja sayang,".
Roy yang mendengarnya menghentikan mobilnya dan berpaling menatap arah zola,
"Kau beneran sayang,okelah kalo begitu,".
Roy menghentikan taksi yang kebetulan lewat,
Zola terlihat tidak suka,padahal dia hanya ingin tau lebih pentingan nenek sihir itu atau dia,namun karna tingkahnya malah membuatnya harus menelan kekecewaan,
Bibir zola mengerucut,saat harus menaiki taksi.
"Sayang makasih pengertianya,".
Cup,
kecupan singkat di kening Zola.
zola hanya mengangguk,
.
.
.
.
.
.
.
.
.
#kira kira apa ya yang ingin direncanakan.
Ikuti terus ya ceritanya akan semakin seru,
__ADS_1