Terenggutnya Kesucian Sang Primadona

Terenggutnya Kesucian Sang Primadona
35.Leo murka pada Roy


__ADS_3

"Kau sudah berani denganku hahhh.!!!!"


"Aaaarrrrrg."


Teriakan Vani saat merasa sakit akibat rambutnya yang di tari Roy.


Dug..


Sebuah asbak digunakan Vani untuk melukai kening Roy.


Kesempatan saat Roy meringis kesakitan karna lukanya mengakibatkan darah mengalir membuat tanganya melepas Vani hal itu tak dia sia siakan,Vani mencoba keluar melalui pintu naas pintu terkunci dan kunci berada pada saku Roy,


secepat mungkin dia berlari kekamarnya dan mengunci dari dalam.


Disisi lain entah kenapa perasaan Leo tidak enak,dia terfikirkan oleh Vani.Ingin rasanya ia menelfon sekedar tau keadaan gadisnya,tapi berulang kali ia membuang keinginan itu saat pikiran pikiran jelek tentang Vani terlintas di otaknya kembali.


Begitu juga dengan Uun dia merasa khawatir meninggalkan Vani sendiri.


Kini Vani telah berada di kamarnya dengan merengkuh lututnya dan bersandar di pintu berusaha menahan dobrakan Roy dari luar,lelehan air mata menggenang di pipinya.


"Hiks hiks hiks.."


Tubuhnya terasa bergetar hebat bahkan ketakutan melihat kemarahan Roy membuatnya benar benar takut,melihat phonsel miliknya berada di atas kasur Vani mencoba mendorong nakas yang berada pada samping pintu untuk menahan pintu.


Dia berlari mengambil phonsel miliknya,beberapa kali mencoba menghubungi Uun namun nomornya tak tersambung,dia mencoba menelfon Leo berulang kali tak satupun diangkatnya.


Brakkk Braaaakk...


Roy masih berusaha mendobrak pintu,sedikit demi sedikit nakas mulai bergeser.


Leo yang masih mengacuhkan beberapa panggilan dari Vani.


Dia malah mematikan panggilan itu,membuat Vani merasa menyerah.


Tidak tidak Vani tidak boleh menyerah,melihat nakasnya bergeser karna knop pintu yang sudah rusak akibat dobrakan Vani mencoba menahan.


Leo malah menelpon Uun berniat memberitahu agar Vani tidak menunggunya pulang,namun nomor tak tersambung.


Dilain sisi Uun mencoba mengecek dengan menelfhon Vani.


"Oalahhh hp mati toh,lupa cas tadi aduh aduhh."


Uun menepuk jidatnya,"Pak pinjem telfonnya dong."


Uun meminjam telfon sopir Leo.


"Kanggo opo Un???."(Buat apa Un??).


"Buat telfon kak Vani pak,perasaan aku kok gak enak yah."


"Wah gak punya nomornya aku Un."


Ucap sopirnya.


"Kalo tuan Leo punya kan???,siapa tau dia udah pulang bisa tanya tuan."


Setelah mendapatkan handphonenya,Uun mencoba menghubungi Leo.


Dreeeeet dreeet..


"Hallo."


Jawab Leo singkat.


"Tuan ini aku Uun,tuan udah pulang???."


Mendengar pertanyaan Uun membuat Leo mengernyitkan dahinya,bukankah dia dirumah??.


"Aku tidak pulan,apa kau sedang tidak dirumah????."


Uun kaget dengan peetanyaan tuanya.


"Loh kan tuan nugasin saya kerumah non Aleta,kan tuan yang minta."


Ucapan Uun membuat bingung Leo,karna dia sama sekali tidak menugaskan Uun kerumah Aleta.


"Apa maksudmu,aku tidak pernah menyuruhmu."


Jawaban Leo membuat perasaan Uun bertambah khawatir.


"Aduhhh jangan jangan..."


Uun berfikir tentang Roy.


"why..what's the matter?."


Uun menjelaskan sedikit kekhawatirannya tentang Roy terhadap Vani.

__ADS_1


Setelah telephon mati,Leo melihat puluhan panggilan tak terjawab dari Vani,dia berusaha menghubungi Vani kembali,namun tak satupun diangkatny.


Leo bahkan mencoba menelfon Roy yang juga tak satupun diangkatnya.


Leo tak mau ambil resiko,dia memutuskan untuk bergegas pulang,begitu juga Uun yang putar balik saat mendengar Leo tidak pernah menyuruhnya ke tempat Aleta.


Di sela sela Leo menyetir dia sempatkan tetap menghubungi Vani.


Vani yang mendengar phonselnya berdering mencoba meraihnya yang tergeletak di lantai.


Vani berlari merah phonselnya,Vani mengangkat telphonya bersamaan dengan Roy yang berhasil mendobrak pintu.


Bruakkkk...


Vani menoleh kearah Roy,


"Jangan dekati aku,menjauh dariku!!!."


Samar samar Leo mendengar ucapan Vani.


Tut tut tut...


"Hallo hallo girl."Leo panik mendengar suara Vani yang terlihat ketakutan,"Assss sstt kenapa mati."


Leo memukul setir mobilnya,dan melajukan mobilnya dengan kencang,untungnya jalanan sudah sepi.


Roy membuang phonsel Vani.


Prakk..


Vani begitu takut,terasa tak bertulang kakinya bahkan lidahnya yang terasa kelu tk bisa lagi berterian.


Hanya isakan tangis,dan pikiran pikiran kalutnya yang merasa akan terulang kembali kelakuan bej*t Roy padanya.


"hiks hikss,kumohon Roy jangn lakukan lagi."


Roy hanya tertawa mendengar isakan dan permohonan Vani.


"Ha ha ha...aku senang melihatmu seperti ini cantik,semakin kau melawan aku semakin bergairah,"Roy menunduk di depan Vani yang masih keadaan terduduk di lantai dengan cucuran air mata.


"Aku tidak akan melukaimu jika kau menuruti kemauanku."


"Apa maumu???."


Vani begitu muak dengan Roy,Roy menyentuh pipi Vani dan membisikkan.


Terlihat wajah mes*m pada Roy.


Cuiiihhhh...


Vani meludah pada wajah Roy.


Roy yang tersulit emosi kembali menampar Vani hingga ia tersungkur di lantai dengan kening yang berdarah akibat benturan kerasnya.


"Sampai matipun aku gak akan mau bersama lelaki bej*t sepertimu Roy,akan aku ingat kelakuanmu ini,tidak akan aku biarkan kau menyentuhku kembali walaupun aku harus mati!!!."


"Aaarrh."


Jambakan rambut vani terasa sakit dirasanya.


"Kita lihat sayang apa kau bisa melawanku sekarang."


Buugg..


Suara Vani yang terhempas ke kasurnya.


Dengan bringasnya Roy mengoyak baju Vani,perlawanan Vani benar benar tak sebanding dengan kebringasan Roy.


"Lepassssss bajing*n..."


Kini tubuh polos Vani terpampang jelas di depan mata Roy.


"Haaaaaa ha papaaa...",Vani merasa teramat takut,ketakutan yang pernah dia alami terasa terulang kembali,"hiks hiksss lepasss Royyy!!!."


Cucuran air mata Vani luruh tanpa henti.


Leo datang lebih dulu,disusul Uun yang baru sampai ke mansion,Leo berusaha mendobrak pintunya karna berulang kali mengetuk pintu tak kunjung di buka,Leo dan Uun bertambah panik saat melihat mobil Roy yang sudah terparkir di depan garasi.


Braakk..


Pintu terbuka setelah dobrakan Leo yang di bantu sopir juga satpamnya.


Alangkah terkejutnya saat Leo juga Uun dan sopirnya melihat rumah yang sudah dalam keadaan berantakan,barang barang berserakan ke lantai.


Leo menuju asal suara Vani yang terdengar menangis.


Leo berlari ke kamar Vani alangkah terkejutnya kembali dia dengan pemandangan Roy yang sedang menciumi leher jenjang Vani dengan bringas.

__ADS_1


Walau Roy belum sempat lebih jauh,tapi kejadian itu cukup membuat Vani syok.


"Roooyyyy."


Leo menarik Roy dari tubuh Vani.kaget dengan kedatangan Leo,Roy berdiri dan mencoba menenangkan Leo yang sudah dalam keadaan kemarahannya,tatapan membunuh terlihat di mata aleo,kepalan tangan dilayangkan Leo pada wajah Roy.


"Bajing*n kau Roy."


Bug bug bug...


"Leo ini gak seperti yang kau lihat."


Bug bug..


Kini bogeman Leo layangkan pada perut Roy hingga dia tersungkur ke lantai.


Uun yang melihat Vani mencoba menutup tubuh polos Vani dengan selimut,dan membawa Vani ke ruangan lain untuk menenangkanya.


Bug bug...


Masih terdengar suara pukulan pukulan Leo bahkan kini wajah Roy sudah terasa tak terbentuk lagi akibat penuh dengan lebam.


"Hentikan tuan sudah sudah tuan,den Roy bisa mati."


Sopirnya menghentikan aksi Leo,bersama satpamnya.


"Bawa baj*ngan ini ke gudang,dan ikat dia jangan biarkan dia kabur."


Suruh Leo pada sopirnya.


"Baik tuan."


Sopirnya membawa Roy kegudang dengan bantuan satpamnya.


Leo menghampiri Vani yang tengah di tenangkan oleh Uun,terlihat Vani yang masih gemetar dengan duduk merengkuh lututnya diatas sofa.


"Pergiiii pergiiiiiii....Hiksss hikkk."


Vani kembali histeris saat Leo menghampirinya.


Tangisan histerisnya saat melihatnya membuat hati Leo perih.


Selama ini dia tak pernah mendengarkan ucapan Vani,hanya melihat gambar tanpa penjelasan.


"Tuan sebaiknya tuan yangan mendekati kak Vani dulu."


Pinta Uun,dan Leo menyadari kondisi Vani saat ini.


Leo kembali pada Roy yang berada di gudang,


kemarahanya membuncah kembali disaat teringat kelakuan Roy pada gadisnya.


"Arrgh ssst."


Roy merasa sakit saat Leo menendang kaki Roy.


"Tidak kusangka Roy,kau begitu bej*t.Kau tau aku sangat mencintainya hah!!!."


Leo mencengkeram pipi Roy.


"Cinta hah cinta ha ha ha ha...Kalau kau benar mencintainya kau pasti akan melindunginya dan percaya padanya,lihat dirimu bahkan kau malah menyakitinya."


Plak....


Tamparan keras Leo layangkan pada Roy.


Roy hanya tersenyum melihat Leo,yang kembali membuat Leo murka.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


*******Hai reader selalu ikuti episode episode dari novelku yah,yuk kasih dukungan kasih like dan tinggalkan jejak komentar,agar Autor lebih semangat lanjutin episode episodenya...

__ADS_1


Sehat selalu...


__ADS_2