Terenggutnya Kesucian Sang Primadona

Terenggutnya Kesucian Sang Primadona
49.Garis datar pada monitor


__ADS_3

Kini Leo berada di ruangan Dokter yang memeriksa Vani.


"Doctor, how is the condition of my future wife?.


Leo tak sabar lagi untuk menanyakan keadaan Vani.


"Tuan Leo aku harap tuan yang sabar."


Leo mengerutkan keningnya mendengar ucapan Dokter itu.


Dokter yang melihat ekspresi wajah Leo,seketika menjadi cemas dengan apa yang akan di disampaikannya nanti,dia tau siapa Leo,orang yang terkenal dingin tak suka basa basi apa lagi mendengar hal buruk dengan tunanganya.


"Em,Begini tuan,nona Vani sudah begitu banyak menghirup asap pada saat kebakaran tersebut yang mengakibatkan gangguan pada paru paru janinnya yang membuat kami tak bisa selamatkan janinnya."


"Apa???,"Leo kaget dengan apa yang dia dengar,tapi dia seketika teringat dengan kondisi Vani yang membuatnya tenang kembali untuk menanyakan kondisi kekasihnya.


Dokter melanjutkan kembali ucapannya yang dirasa Leo sudah tenang.


"Tuan Leo Nona Vani sekarang dalam keadaan koma dan kondisinya kritis,peluang nona untuk siuman kembali sangatlah kecil."


Ucapan Dokter itu membuat Leo murka,Leo meraih kerah baju Dokter dengan kasar.


"Apa kau bilang,kekasihku akan baik baik saja kau mengerti!!!!."


Leo melepas kerah dan mendorong Dokter itu sampai Dokter itu terhuyung ke belakang.


"Tuan Leo ku mohon tenang lah."


Dirasa Leo mulai tenang Dokter melanjutkan penjelasannya,


"luka yang dialami Nona Vani begitu serius,hampir 95%,kalaupun nona bisa melewati masa koma dan kritisnya,walaupun kami melakukan operasi tidak akan bisa mengembalikan fisik nona Vani seperti semula,fisik nona Vani akan mengalami cacat permanen Pak Leo."


Dokter begitu berhati hati menjelaskannya.


"Aku tidak masalah dengan fisik kekasihku,yang aku ingin dia secepatnya pulih kembali."


"Kami akan berikan yang terbaik untuk nona Vani,kalo perlu kami akan mendatangkan rekan Dokter kami di ahli bedah kulit dan dalam."


Setelah hampir setengah jam berlalu Leo kembali menuju ruangan dimana kekasihnya berada sekarang.


Hampir satu bulan berlalu,Vani masih dalam keadaan koma.


"Girl bangun sayang,bukankah kita akan menikah, girl aku akan lakukan apapun untuk mu,bangun sayang please."


Leo mengusap tangan kekasihnya wajahnya begitu sendu terlihat juga dia yang kurang tidur,tak sedikitpun dia mau beranjak pergi untuk meninggalkan kekasihnya,beberapa kali Monica dan Carlos melihat pemandangan yang sama sekali tak pernah dia bayangkan,seorang CIO penguasa perusahaan di negara tersebut harus terpuruk karna seorang Vani yang termasuk gadis biasa untuk kalangan seorang Leo.


Carlos mencoba membujuk Leo agar tak selalu terpuruk.


"Leo kamu harus kuat jangan seperti ini,Vani butuh kamu,kalo kamu seperti ini jika Vani tau dia juga akan bersedih."


Carlos mencoba menyemangati Leo.


Leo berada di depan ruangan Vani menemui Carlos.


"Kamu tau,Dokter sudah menyatakan kemungkinan Vani sangat kecil untuk kembali,keadaan seperti ini mengingatkanku pada kedua orang tuaku,aku takut aku takut kehilangan dia sama seperti kedua orang tuaku,aku sayang mereka tapi dalam sekejap aku harus kehilangannya,


my girl dia yang sudah mengembalikan rasa kebahagiaan dan menghilangkan keterpurukan ku selama ini,aku gak mau kehilangan dia aku cinta sama dia aku gak mau dia ninggalin aku Carlos."


Terlihat mata Leo yang berkaca kaca,Carlos memeluk sahabatnya itu,meyakinkan jika Vani akan baik baik saja.


"Leo,come on you can't talk like that!!!!,


kenapa kamu jadi selemah ini bukankah kau selalu yakin semua akan baik baik saja."


Ucap Carlos.


"Sahabatku akan baik baik saja,kau dengar itu kak Leo,kau tak boleh menyerah."


Monic yan baru datang langsung ikut bicara,dia tak rela jika Leo menyerah.


"Iya aku tak akan menyerah,aku akan menunggu my girl sampai kapan pun."


Tak berselang lama ada dua Dokter dan beberapa perawat yang berlari menuju ruangan Vani,perawat yang menjaga Vani tiba tiba memanggil Dokter,Leo Carlos dan Monic kaget dibuatnya.


"Apa yang terjadi Dokter??."

__ADS_1


Leo menghentikan langkah Dokter tersebut.


"Tuan,maaf kami harus segera menangani pasien."


Dokter berlalu begitu saja.


Saat Leo juga ingin ikut masuk salah satu suster melarang Leo.


"Why???, I also want to see the condition of my girl."


Leo mendesak ingin masuk,dan Carlos mencoba memegangi Leo.


"Maaf tuan mohon pengertiannya,tolong tunggu di luar dulu,biar Dokter memeriksa keadaan pasien."


Sesaat suster itu memberi pengertian pada Leo,suster itu langsung menutup pintu tersebut.


"Nggak,dia pasti baik baik saja."


Beberapa kali Leo berucap beberapa kali pula dia mondar mandir,Carlos mencoba menenangkannya.


Setelah hampir 30 menit,salah satu Dokter keluar ruangan.


"Tuan Leo."


Ucap Dokter itu.


"Iya Dok, bagaimana keadaan kekasihku???."


Leo langsung samperin Dokter tersebut.


"Nona Vani sudah sadar,tp keadaan Nona Vani semakin memburuk."


Ucap Dokter itu.


"Apa!!!."


Jawab Leo.


Dokter mengijinkan Leo bahkan Carlos dan Monic masuk,Dokter seakan menyembunyikan kemungkinan besar apa yang akan terjadi.


kau pasti akan baik baik saja sayang."


Leo terlihat khawatir.


"Hey,kau menangis,kau akan baik baik saja."


Leo melihat buliran air mata yang keluar dari mata kekasihnya,terlihat Vani ingin mengatakan sesuatu,tapi karna kondisinya hanya bibir dan matanya yang memberi kode.


Monica yang melihat sahabatnya tak kuasa menahan tangisnya.


"Kau ingin bicara apa sayang,hem??,girl aku akan mencari orang yang sudah membuatmu seperti ini, please kau harus kuat."


"Aa,akku..a.kk."


Ucapnya terbata bata terdengar pelan dan tak jelas,seakan ingin mengatakan sesuatu.


"Girl,kau kenapa???,"


Leo yang melihat kondisi tersebut khawatir dengan kondisi Vani.


"Dokter apa yang ingin di katakan nya???."


Lajut ucap Leo yang kini beralih pada Dokter.


Tiba tiba kondisi Vani memburuk,mengalami kejang kejang.


Dokter langsung menangani Vani.


Leo Carlos dan Monic begitu panik melihat kondisi Vani.


"Suster ambil alat pacu jantung,kondisinya menurun!!!."


Ucap Dokter.


"Dokter denyut nadi semakin melemah dan denyut jantung juga menurun."

__ADS_1


Sahut salah satu suster .


Terdengar Suara bersahutan antara Dokter dan suster,bahkan melihat kondisi Vani membuat tubuh Leo terasa tak bertenaga.


Suster menyuruh Leo Carlos dan Monic keluar kembali,namun belum sempat keluar.


Tiiiiiiiiitt.....


Garis datar terlihat di monitor ICU,


seketika Carlos dan Monic mengetahui apa yang terjadi.


"Dokter."


Ucap Monic,dan Dokter hanya menggelengkan kepalanya.


Monic langsung histeris.


"Apa yang terjadi???."


Leo langsung mendekati Dokter dan Vani,Leo masih belum menyadari kondisi kekasihnya.


Dokter menepuk pelan bahu Leo.


"Maaf tuan,nona sudah tiada."


Ucapan singkat Dokter itu seakan menjadi pedang yang menancap pada jantung Leo.


Seketika badan Leo serasa tak bertulang,seakan tulang dan ototnya tak bisa menopang tubuh kekarnya.


Carlos langsung memeluk Leo,pandangan Leo terlihat kosong,seakan masih tak percaya,beberapa kali Leo berucap jika gadisnya baik baik saja.


Leo mendekati Vani.


"Girl kau dengar itu???,Dokter dan semua yang ada disini tak tau jika kau hanya mengerjai ku,dia tak tau kau suka menjahili ku bukan,please jangan bercanda seperti ini aku takut."


Leo mengelap air matanya yang tiba tiba terjatuh.


"Girl please,bangun sayang...


jangan seperti ini aku takut,bercanda mu sudah membuatku takut, ayolah girl please hiks..,kasih tau Dokter dan orang orang itu jika kau hanya bercanda.ayolah sayang"


terdengar isak kan pelan dari bibir Leo,tubuhnya bergetar tanganya mengguncang tubuh Vani.


"Girl please jangan bercanda lagi,bangun sayang bangunlah bukankah kau bermimpi menjadi seorang putri tercantik dalam pernikahan kita girl,kau ingin semua orang terpana dengan kita berdua bukan ayolah sayang."


Ucap lirih Leo,bahkan tak terasa sudah berurai air matanya.


"Girl,ini tidak lucu bangun girl kau sudah berhasil membuatku ketakutan,girl!!!!."


Suara Leo,dan guncangan pundak Vani semakin kencang akibat Leo yang begitu histeris tak terima Vani pergi.


Carlos langsung memegangi erat Leo,dan mencoba memberi pengertian dan menyadarkan sahabatnya itu,jika Vani memang sudah tiada.


Leo masih tak terima bahkan bogem mentah sempat mendarat di pelipis Carlos.


"Lepas tanganmu dariku Carlos!!!."


plak.....


Terdengar pula tamparan keras mendarat di pipi Leo,baru Leo berhenti dari kegilaannya itu.


"Hiks...Hikss..


Van lu napa ninggalin gua,lu sahabat gua satu satunya lu juga udah gua anggap adik gua hiks hikss,kenapa kita di pertemukan lagi dengan keadaanmu seperti ini hiks hiks...."


Monica masih menangisi kepergian sahabatnya,baru ia merasakan memiliki sahabat sekaligus saudara yang menyayanginya dia harus kehilangannya,Carlos berganti memeluk kekasihnya.


Leo dalam kondisi sempoyongan mendekati kekasihnya,mata merah dan bekas air mata yang belom kering pun kini harus berderai lagi.


"Girl,apa yang akan aku katakan pada mamamu,aku telah gagal menjagamu girl aku gagal."


Wajah sendu,ucapan yang teramat lirih tapi dapat dirasakan orang lain yang mendengarnya,jika dia teramat terpukul dengan keadaannya,dan pelukan lembut yang dia berikan seakan pelukan terakhir untuk kekasihnya,dan memberikan keikhlasan untuk kepergian sang kekasih.


Bukan hanya Carlos dan Monic bahkan semua Dokter dan perawat yang menyaksikannya pun ikut meneteskan air mata karna melihat sepasang kekasih harus terpisahkan karna takdir yang teramat menyedihkan.

__ADS_1


__ADS_2